Studi: Satu dari Lima Pasien COVID-19 Kena Sakit Mental dalam 90 Hari
Rabu, 11 November 2020 - 11:35 WIB
loading...
A
A
A
Dia menambahkan, “Layanan (kesehatan) harus siap memberikan perawatan, terutama karena hasil penelitian kita cenderung meremehkan (jumlah pasien psikiatri).” (Lihat Video: Terkait Status Habib Rizieq, Ini Penjelasan Polisi)
Studi yang diterbitkan jurnal The Lancet Psychiatry menganalisis catatan kesehatan elektronik dari 69 juta orang di Amerika Serikat, termasuk lebih dari 62.000 kasus COVID-19. “Temuan itu kemungkinan besar akan sama untuk mereka yang terjangkit COVID-19 di penjuru dunia,” ujar para peneliti
Dalam tiga bulan setelah dites positif COVID-19, 1 dari 5 orang yang selamat tercatat memiliki diagnosis kecemasan, depresi, atau insomnia untuk pertama kali. “Ini dua kali lebih mungkin dibandingkan kelompok pasien lain pada periode yang sama,” ungkap para peneliti.
Studi ini juga menemukan orang dengan penyakit mental yang sudah ada sebelumnya, 65% lebih mungkin didiagnosis dengan COVID-19, daripada mereka yang tidak memiliki penyakit mental.
Pakar kesehatan mental yang tidak terlibat langsung dengan penelitian tersebut mengatakan temuan itu menambah bukti bahwa COVID-19 dapat memengaruhi otak dan pikiran, meningkatkan risiko berbagai penyakit kejiwaan.
"Hal ini kemungkinan besar disebabkan kombinasi stres psikologis yang terkait dengan pandemi khusus ini dan efek fisik dari penyakit tersebut," papar Michael Bloomfield, konsultan psikiater di University College London.
Studi yang diterbitkan jurnal The Lancet Psychiatry menganalisis catatan kesehatan elektronik dari 69 juta orang di Amerika Serikat, termasuk lebih dari 62.000 kasus COVID-19. “Temuan itu kemungkinan besar akan sama untuk mereka yang terjangkit COVID-19 di penjuru dunia,” ujar para peneliti
Dalam tiga bulan setelah dites positif COVID-19, 1 dari 5 orang yang selamat tercatat memiliki diagnosis kecemasan, depresi, atau insomnia untuk pertama kali. “Ini dua kali lebih mungkin dibandingkan kelompok pasien lain pada periode yang sama,” ungkap para peneliti.
Studi ini juga menemukan orang dengan penyakit mental yang sudah ada sebelumnya, 65% lebih mungkin didiagnosis dengan COVID-19, daripada mereka yang tidak memiliki penyakit mental.
Pakar kesehatan mental yang tidak terlibat langsung dengan penelitian tersebut mengatakan temuan itu menambah bukti bahwa COVID-19 dapat memengaruhi otak dan pikiran, meningkatkan risiko berbagai penyakit kejiwaan.
"Hal ini kemungkinan besar disebabkan kombinasi stres psikologis yang terkait dengan pandemi khusus ini dan efek fisik dari penyakit tersebut," papar Michael Bloomfield, konsultan psikiater di University College London.
Lihat Juga :