Takut Meledak Tersambar Petir, Jet Siluman F-35 Belanda Batal Kawal Bomber AS
Senin, 28 September 2020 - 10:07 WIB
loading...
Pesawat-pesawat jet tempur siluman F-35 Angkatan Udara Kerajaan Belanda. Foto/KLu
A
A
A
AMSTERDAM - Beberapa pesawat jet tempur siluman F-35 Angkatan Udara Kerajaan Belanda membatalkan keikutsertaannya mengawal sejumlah pesawat pembom (bomber) B-52H Stratofortress Amerika Serikat (AS) setelah ada kekhawatiran jet tempur itu meledak jika tersambar petir.
Pembatalan pengawalan itu terjadi dalam unjuk kekuatan besar-besaran NATO pada 28 Agustus 2020. Unjuk kekuatan bernama "Mission Allied Sky" itu mencakup penerbangan di lebih dari 30 negara NATO.
(Baca juga : Wahai Bos-Bos, Cegahlah PHK dengan The Power of Kepepet )
(Baca juga : Polri Beberkan Alasan Pembubaran Acara KAMI di Surabaya )
Angkatan Udara Kerajaan Belanda (Koninklijke Luchtmacht) awalnya menyetujui jet jet tempur F-35A Lightning II-nya mengawal sebagian dari enam pesawat pembom B-52 Amerika. Namun, misi Belanda dibatalkan karena cuaca buruk. (Baca: China Diduga Uji Terbang FC-31, Pesaing Jet Tempur Siluman F-35 AS )
Mission Allied Sky dikelola oleh dua tim, yakni empat B-52 milik Sayap Bom ke-5 dari Pangkalan Angkatan Udara Minot, North Dakota, yang dikirim ke RAF Fairford, Inggris, untuk menutupi bagian Eropa dari misi penerbangan serangan pesawat tunggal. Tim kedua adalah dua B-52, juga milik Sayap Bom ke-5 di Pangkalan Angkatan Udara Minot, terbang sebagai formasi dua pesawat di atas Kanada dan AS.
Kekhawatiran bahaya petir terhadap F-35 itu dikonfirmasi oleh Sidney Plankman, juru bicara Kementerian Pertahanan Belanda kepada Algemeen Dagblad dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada 19 September 2020. Rencana awal yang disetujui adalah beberapa F-35 baru dari Pangkalan Udara Leeuwarden akan mengawal beberapa B-52 Amerika. "Namun, ada risiko besar petir hari itu. Oleha karena itu kami telah memutuskan untuk tidak melakukannya," katanya, yang dilansir EurAsian Times, Minggu (27/8/2020).
Pembatalan pengawalan itu terjadi dalam unjuk kekuatan besar-besaran NATO pada 28 Agustus 2020. Unjuk kekuatan bernama "Mission Allied Sky" itu mencakup penerbangan di lebih dari 30 negara NATO.
(Baca juga : Wahai Bos-Bos, Cegahlah PHK dengan The Power of Kepepet )
(Baca juga : Polri Beberkan Alasan Pembubaran Acara KAMI di Surabaya )
Angkatan Udara Kerajaan Belanda (Koninklijke Luchtmacht) awalnya menyetujui jet jet tempur F-35A Lightning II-nya mengawal sebagian dari enam pesawat pembom B-52 Amerika. Namun, misi Belanda dibatalkan karena cuaca buruk. (Baca: China Diduga Uji Terbang FC-31, Pesaing Jet Tempur Siluman F-35 AS )
Mission Allied Sky dikelola oleh dua tim, yakni empat B-52 milik Sayap Bom ke-5 dari Pangkalan Angkatan Udara Minot, North Dakota, yang dikirim ke RAF Fairford, Inggris, untuk menutupi bagian Eropa dari misi penerbangan serangan pesawat tunggal. Tim kedua adalah dua B-52, juga milik Sayap Bom ke-5 di Pangkalan Angkatan Udara Minot, terbang sebagai formasi dua pesawat di atas Kanada dan AS.
Kekhawatiran bahaya petir terhadap F-35 itu dikonfirmasi oleh Sidney Plankman, juru bicara Kementerian Pertahanan Belanda kepada Algemeen Dagblad dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada 19 September 2020. Rencana awal yang disetujui adalah beberapa F-35 baru dari Pangkalan Udara Leeuwarden akan mengawal beberapa B-52 Amerika. "Namun, ada risiko besar petir hari itu. Oleha karena itu kami telah memutuskan untuk tidak melakukannya," katanya, yang dilansir EurAsian Times, Minggu (27/8/2020).
Lihat Juga :