Operasi Siber China Diduga Targetkan Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan

Rabu, 15 Juli 2026 - 10:07 WIB
loading...
Operasi Siber China...
Operasi siber China, yang mengandalkan kelompok peretas GLITTER CARP dan SEQUIN CARP, diduga targetkan para aktivis Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan. Foto/Milwaukee Independent
A A A
JAKARTA - Dua perkembangan yang terjadi secara hampir bersamaan pada 27 April 2026 memunculkan kembali perdebatan mengenai dugaan penggunaan operasi siber oleh China untuk memantau, mengintimidasi, dan menekan para pengkritiknya di luar negeri.

Chandu Doddi, asisten profesor Centre for Chinese Studies di Jawaharlal Nehru University, mengatakan bahwa perhatian tertuju pada laporan gabungan University of Toronto melalui Citizen Lab dan International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), yang menjelaskan bagaimana dua kelompok siber terafiliasi China menyamar sebagai pelapor dan jurnalis untuk menargetkan aktivis Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan, serta wartawan dan anggota parlemen.

Baca Juga: China Jadi Sorotan dalam Studi tentang Troll Army dan Propaganda Digital

Dalam hitungan jam usai laporan itu, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi ekstradisi dari Italia terhadap terduga peretas kontrak Xu Zewei, yang dituduh meretas penelitian Covid-19 universitas-universitas AS dan membantu memimpin kampanye global Hafnium (juga dikenal sebagai Silk Typhoon) Microsoft Exchange atas nama Kementerian Keamanan Negara China.

Menurut Doddi, kedua peristiwa tersebut—perilisan laporan gabungan dan konfirmasi Departemen Kehakiman AS—menunjukkan bahwa operasi siber yang dikaitkan dengan China kini tidak hanya ditujukan untuk memperoleh informasi strategis. “Tetapi juga untuk menekan aktivis diaspora, jurnalis, dan peneliti yang mengkritik Beijing,” ucapnya, seperti dikutip dari Irrawaddy, Rabu (15/7/2026).

Menyamar sebagai Aktivis dan Jurnalis


Laporan Citizen Lab berjudul Tall Tales: How Chinese Actors Use Impersonation and Stolen Narratives to Perpetuate Digital Transnational Repression mengidentifikasi dua kelompok siber yang diberi nama GLITTER CARP dan SEQUIN CARP.

Menurut laporan tersebut, GLITTER CARP sejak sekitar April 2025 menjalankan kampanye phishing dengan menggunakan identitas palsu, termasuk menyamar sebagai aktivis terkenal, organisasi hak asasi manusia, hingga pemberitahuan keamanan dari perusahaan teknologi besar.

Target yang disebut dalam laporan itu mencakup World Uyghur Congress, Uyghur Human Rights Project, Tibetan Computer Emergency Readiness Team, media sipil Taiwan Watchout, hingga aktivis demokrasi Hong Kong Carmen Lau.

Citizen Lab menyatakan kelompok tersebut menggunakan lebih dari 100 situs berbahaya selama sedikitnya sembilan bulan dengan pola operasi yang dinilai konsisten dengan kampanye yang dilakukan untuk kepentingan pemerintah China.

“Penggunaan identitas dan narasi yang sangat spesifik menunjukkan para pelaku memiliki pemahaman mendalam mengenai komunitas diaspora yang mereka targetkan,” tutur Doddi.

Ketika Jurnalis Menjadi Target


Jika GLITTER CARP disebut menjalankan serangan dalam skala luas, kelompok kedua, SEQUIN CARP, disebut lebih fokus pada target tertentu.

Citizen Lab menyebut kelompok tersebut menargetkan jurnalis yang terlibat dalam investigasi mengenai aktivitas China di luar negeri, terutama proyek China Targets milik ICIJ pada 2025.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jepang Bentuk Badan...
Jepang Bentuk Badan Intelijen Baru untuk Pertama Kalinya sejak Perang Dunia II, Ini 5 Alasannya
Siapa Zhang Zhidong?...
Siapa Zhang Zhidong? Warga China yang Dituduh sebagai Raja Fentanyl Meksiko
Persaingan Memanas,...
Persaingan Memanas, China Membangun Replika Kapal Perang AS untuk Latihan Tembak Rudal
Ditutup-tutupi selama...
Ditutup-tutupi selama 1 Bulan, 2 Pilot China Tewas saat Latihan Perang
Topan Bavi Terjang China,...
Topan Bavi Terjang China, Paksa Hampir 2 Juta Orang Mengungsi
AI, Robot, dan Modal...
AI, Robot, dan Modal Negara: Taruhan Besar Xi Jinping untuk Masa Depan China
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Laporan: Sebut Ancaman...
Laporan: Sebut Ancaman Kedaulatan, AS Ambil Langkah Lumpuhkan Mahkamah Pidana Internasional
Gunung Sampah Longsor...
Gunung Sampah Longsor Timpa Puluhan Pekerja TPA, 9 Orang Tewas
Rekomendasi
William Saliba Cedera...
William Saliba Cedera Serius Saat Prancis Disingkirkan Spanyol
Sejarah Perang Al-Abwa:...
Sejarah Perang Al-Abwa: Perang Pertama dalam Islam yang Terjadi pada Bulan Safar
Digelar Hari Ini, Ruben...
Digelar Hari Ini, Ruben Onsu Siap Hadapi Sarwendah di Sidang Perdana Gugatan Hak Asuh Anak
Berita Terkini
Blokade Angkatan Laut...
Blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran Dimulai Lagi, Kerahkan Lebih Banyak Kekuatan Militer
Taktik Trump Sering...
Taktik Trump Sering Menjiplak Musuh-musuhnya, dari Blokade Laut hingga Tarif Selat Hormuz
Diejek Habis-habisan,...
Diejek Habis-habisan, Trump akan Ganti Biaya Kargo Selat Hormuz 20% dengan Kesepakatan Investasi untuk Negara-negara Teluk
Jerman akan Beli 50.000...
Jerman akan Beli 50.000 Drone Serang untuk Ukraina
Politik AS Didominasi...
Politik AS Didominasi Manula! Ini Deretan Politisi Tua yang Melebihi Usia Pensiun
Jepang Bentuk Badan...
Jepang Bentuk Badan Intelijen Baru untuk Pertama Kalinya sejak Perang Dunia II, Ini 5 Alasannya
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved