Sidang Umum PBB Fokus Pandemi
Selasa, 22 September 2020 - 10:15 WIB
loading...
A
A
A
Dubes Jerman untuk PBB Christoph Heusgen menyambut baik perubahan tersebut. Dia mengatakan, konsep multilateralisme sudah seharusnya diterapkan di PBB sebagai pilar utama. Selain akan meningkatkan kepercayaan dan kedekatan serta kepemilikan, konsep tersebut dapat menjadikan PBB lebih dari sekadar lembaga.
Namun, dengan penggunaan teknologi virtual, audiens peringatan ulang tahun PBB tidak akan sedisiplin, sefokus, dan seintens biasanya. Tahun lalu, seluruh audiens yang hadir tidak hanya mendengarkan dan berdiskusi, tapi juga mengikuti acara hingga malam. Adapun tahun ini, tak ada yang dapat memastikan audiens akan menyalakan monitor.
“Saya bahkan sangat ragu presiden dan perdana menteri akan duduk di istana dengan sebungkus popcorn untuk menonton kepala negara yang lain berpidato sampai habis,” kata Direktur Grup Krisis Internasional PBB, Richard Gowan. Urutan pidato juga akan diatur, mulai dari pemimpin negara adidaya hingga berkembang.
Tahun ini, diplomasi sedang diperlukan mengingat negara di dunia perlu mengatasi perbedaan dan ketimpangan dalam mengatasi berbagai isu yang memiliki dampak global, mulai perubahan iklim hingga konflik di Timur Tengah. Sayangnya, dengan adanya wabah Covid-19, para diplomat tidak dapat bertatap muka dan berkomunikasi langsung. (Baca juga: Inggris Mengaku Menghadapi Titik Kritis Pandemi Covid-19)
“Padahal, agar diplomasi dapat berjalan efektif, kita perlu bertemu secara langsung. Proses dan hasilnya tentu berbeda dengan diskusi online,” ujar Guterres yang terkenal aktif bersosialisasi dan berdiskusi dengan ratusan diplomat dalam Majelis Umum PBB sebelumnya. “Namun, saat ini kondisinya kurang memungkinkan sehingga kami tak punya pilihan lain.”
Pernyataan Guterres bukan tanpa alasan. Menilik sejarah, pertemuan langsung terbukti cepat dan efektif ketika para pemimpin dunia melakukan pertemuan, mulai dari terciptanya banyak kesepakatan melalui jabat tangan ataupun yang langsung disegel dalam nota kesepahaman (MoU). Bahkan, rencana pelucutan nuklir Iran juga terjadi langsung.
Pejabat tinggi PBB untuk politik, Rosemarie DiCarlo, juga mengakui pertemuan langsung memiliki banyak kelebihan. “Pada tahun-tahun sebelumnya selama Majelis Umum PBB, kita biasanya menyaksikan beraneka ragam diskusi dan kita dapat mengenal satu sama lain secara langsung. Sekarang, kami tidak dapat melakukan itu lagi,” kata DiCarlo.
Namun, dengan penggunaan teknologi virtual, audiens peringatan ulang tahun PBB tidak akan sedisiplin, sefokus, dan seintens biasanya. Tahun lalu, seluruh audiens yang hadir tidak hanya mendengarkan dan berdiskusi, tapi juga mengikuti acara hingga malam. Adapun tahun ini, tak ada yang dapat memastikan audiens akan menyalakan monitor.
“Saya bahkan sangat ragu presiden dan perdana menteri akan duduk di istana dengan sebungkus popcorn untuk menonton kepala negara yang lain berpidato sampai habis,” kata Direktur Grup Krisis Internasional PBB, Richard Gowan. Urutan pidato juga akan diatur, mulai dari pemimpin negara adidaya hingga berkembang.
Tahun ini, diplomasi sedang diperlukan mengingat negara di dunia perlu mengatasi perbedaan dan ketimpangan dalam mengatasi berbagai isu yang memiliki dampak global, mulai perubahan iklim hingga konflik di Timur Tengah. Sayangnya, dengan adanya wabah Covid-19, para diplomat tidak dapat bertatap muka dan berkomunikasi langsung. (Baca juga: Inggris Mengaku Menghadapi Titik Kritis Pandemi Covid-19)
“Padahal, agar diplomasi dapat berjalan efektif, kita perlu bertemu secara langsung. Proses dan hasilnya tentu berbeda dengan diskusi online,” ujar Guterres yang terkenal aktif bersosialisasi dan berdiskusi dengan ratusan diplomat dalam Majelis Umum PBB sebelumnya. “Namun, saat ini kondisinya kurang memungkinkan sehingga kami tak punya pilihan lain.”
Pernyataan Guterres bukan tanpa alasan. Menilik sejarah, pertemuan langsung terbukti cepat dan efektif ketika para pemimpin dunia melakukan pertemuan, mulai dari terciptanya banyak kesepakatan melalui jabat tangan ataupun yang langsung disegel dalam nota kesepahaman (MoU). Bahkan, rencana pelucutan nuklir Iran juga terjadi langsung.
Pejabat tinggi PBB untuk politik, Rosemarie DiCarlo, juga mengakui pertemuan langsung memiliki banyak kelebihan. “Pada tahun-tahun sebelumnya selama Majelis Umum PBB, kita biasanya menyaksikan beraneka ragam diskusi dan kita dapat mengenal satu sama lain secara langsung. Sekarang, kami tidak dapat melakukan itu lagi,” kata DiCarlo.
Lihat Juga :