China Terus Perkuat Militer, AS Ajak Sekutu Melawan Beijing
Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:25 WIB
loading...
A
A
A
Zhou Bo, seorang peneliti senior di Universitas Tsinghua dan pensiunan kolonel senior Tentara Pembebasan Rakyat yang merupakan bagian dari delegasi Tiongkok, menggambarkan hubungan AS-Tiongkok sebagai "rumit."
Meskipun demikian, ia mengatakan Hegseth menyampaikan "nada yang jauh lebih baik" tahun ini daripada tahun lalu, dan mengaitkan perubahan tersebut dengan kunjungan Trump ke China.
"Kedua belah pihak memiliki saluran komunikasi yang terbuka, situasinya tidak seburuk yang digambarkan oleh dunia luar," kata Zhou.
China, yang menteri pertahanannya absen dari dialog untuk tahun kedua berturut-turut, menuduh Hegseth tahun lalu membuat pernyataan yang "menghina".
Hegseth menggemakan tuntutan lama Presiden Donald Trump agar sekutu menanggung lebih banyak biaya pertahanan mereka sendiri. Trump secara tegas mengatakan bahwa mitra Eropa dan NATO harus mengurangi ketergantungan pada Washington.
“Era Amerika Serikat mensubsidi pertahanan negara-negara kaya telah berakhir,” kata Hegseth. “Kita membutuhkan mitra, bukan protektorat,” tambahnya. “Kita tidak memiliki aliansi yang kuat kecuali semua orang memiliki peran serta. Tidak ada yang numpang gratis.”
Hegseth memuji kontribusi dari sekutu termasuk Korea Selatan, Filipina, Australia, Singapura, Malaysia, dan Thailand, dan mengatakan Jepang mengambil langkah konkret untuk memperkuat pertahanannya.
Tokyo dan Washington “harus masing-masing memberikan kontribusi untuk memperkuat aliansi AS-Jepang,” katanya.
Mengenai konflik Timur Tengah, Hegseth mengatakan Amerika Serikat siap untuk melanjutkan serangan terhadap Iran jika diplomasi gagal, karena para negosiator dari Washington dan Teheran berupaya menjembatani perbedaan besar yang menghalangi kesepakatan.
“Kemampuan kita untuk memulai kembali jika perlu... kita lebih dari mampu,” kata Hegseth. Ia menambahkan bahwa Trump tetap “sabar” dan berupaya mencapai “kesepakatan yang kuat” untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.
Meskipun demikian, ia mengatakan Hegseth menyampaikan "nada yang jauh lebih baik" tahun ini daripada tahun lalu, dan mengaitkan perubahan tersebut dengan kunjungan Trump ke China.
"Kedua belah pihak memiliki saluran komunikasi yang terbuka, situasinya tidak seburuk yang digambarkan oleh dunia luar," kata Zhou.
China, yang menteri pertahanannya absen dari dialog untuk tahun kedua berturut-turut, menuduh Hegseth tahun lalu membuat pernyataan yang "menghina".
Hegseth menggemakan tuntutan lama Presiden Donald Trump agar sekutu menanggung lebih banyak biaya pertahanan mereka sendiri. Trump secara tegas mengatakan bahwa mitra Eropa dan NATO harus mengurangi ketergantungan pada Washington.
“Era Amerika Serikat mensubsidi pertahanan negara-negara kaya telah berakhir,” kata Hegseth. “Kita membutuhkan mitra, bukan protektorat,” tambahnya. “Kita tidak memiliki aliansi yang kuat kecuali semua orang memiliki peran serta. Tidak ada yang numpang gratis.”
Hegseth memuji kontribusi dari sekutu termasuk Korea Selatan, Filipina, Australia, Singapura, Malaysia, dan Thailand, dan mengatakan Jepang mengambil langkah konkret untuk memperkuat pertahanannya.
Tokyo dan Washington “harus masing-masing memberikan kontribusi untuk memperkuat aliansi AS-Jepang,” katanya.
Mengenai konflik Timur Tengah, Hegseth mengatakan Amerika Serikat siap untuk melanjutkan serangan terhadap Iran jika diplomasi gagal, karena para negosiator dari Washington dan Teheran berupaya menjembatani perbedaan besar yang menghalangi kesepakatan.
“Kemampuan kita untuk memulai kembali jika perlu... kita lebih dari mampu,” kata Hegseth. Ia menambahkan bahwa Trump tetap “sabar” dan berupaya mencapai “kesepakatan yang kuat” untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.
Lihat Juga :