Dari Jimmy Lai hingga Xinjiang, Isu HAM Tak Lagi Jadi Fokus Utama AS-China

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:12 WIB
loading...
A A A
Thomas Kellogg, Direktur Eksekutif Center for Asian Law di Georgetown University, mengatakan perhatian internasional terhadap kasus aktivis China sering kali berdampak nyata.

“Saya diberi tahu langsung oleh banyak aktivis China bahwa pengangkatan kasus mereka membuat perbedaan,” katanya.

Menurutnya, dampak tersebut bisa berupa perbaikan kondisi penjara atau berkurangnya intimidasi terhadap aktivis.

Namun situasi HAM di China disebut memburuk sejak Xi Jinping berkuasa pada 2012.

Melemahnya Sikap Keras AS


Xi disebut memperketat kontrol terhadap masyarakat sipil, menekan aktivis feminis, membatasi ekspresi agama dan etnis, serta menjadikan penumpasan perbedaan pendapat sebagai prioritas politik.

Laporan tersebut juga menyoroti kebijakan China di Xinjiang, termasuk jaringan kamp “reedukasi” yang menurut PBB pernah menahan hingga satu juta warga Uyghur dan minoritas Turkik lainnya.

PBB menyebut kebijakan tersebut berpotensi merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan, meski Beijing membantah tuduhan itu.

“Ini adalah masa yang sangat sulit bagi pembela HAM,” kata Sophie Richardson, salah satu direktur organisasi Chinese Human Rights Defenders.

Pada masa jabatan pertama Trump, pemerintah AS sebenarnya mengambil sikap lebih keras terhadap China, termasuk menjatuhkan sanksi kepada sejumlah pejabat terkait dugaan pelanggaran HAM di Xinjiang dan Hong Kong.

Menteri Luar Negeri AS saat ini Marco Rubio bahkan pernah dijatuhi sanksi oleh China karena kritik kerasnya terhadap catatan HAM Beijing.

Namun Hawkins menilai para tokoh garis keras terhadap China kini semakin tersisih, sementara Trump sendiri beberapa kali menunjukkan kekaguman terhadap Xi Jinping.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
Viral! Kebun Binatang...
Viral! Kebun Binatang China Cari Pemeran Beruang Hitam, Gajinya Rp263,6 Juta
Iran Tuduh NATO Terlibat...
Iran Tuduh NATO Terlibat Perang Gabungan AS-Israel Gara-gara Pengakuan Sekjen Mark Rutte
Kerja Sama Yunani-China...
Kerja Sama Yunani-China Diperdebatkan, Legislator Tolak Status 'Mitra Lemah'
Jepang Sangkal Militernya...
Jepang Sangkal Militernya Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk China
Trump Caci Maki Netanyahu:...
Trump Caci Maki Netanyahu: Semua Orang Yahudi Muak Denganmu!
Penerbitan Panda Bond...
Penerbitan Panda Bond Mundur ke Akhir Juli, Purbaya Incar Likuiditas Jumbo
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Dilaporkan Akan Mengundurkan Diri pada Senin
Mengenal Gempa Doublet...
Mengenal Gempa Doublet di Venezuela Tewaskan Ratusan Orang, Jarang Terjadi
Rekomendasi
Tarik Dana JHT BPJS...
Tarik Dana JHT BPJS Ketenagakerjaan Dipotong Pajak, Purbaya Buka Suara
Rumah Pintar yang Dengarkan...
Rumah Pintar yang Dengarkan Penghuni, Bukan Sekadar Produk Cerdas
Cara Bikin Konten Reaction...
Cara Bikin Konten Reaction Viral, Simak 10 Tips dari Janda Tawa
Berita Terkini
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Tolak Klaim AS, Iran...
Tolak Klaim AS, Iran Tegaskan Aset yang Dicairkan Tidak untuk Beli Produk Pertanian Amerika
Pemimpin Hizbullah Tegaskan...
Pemimpin Hizbullah Tegaskan Israel Harus Tinggalkan Lebanon Tanpa Syarat
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
Awas, Virus Ebola Sudah...
Awas, Virus Ebola Sudah Masuk Prancis, Dibawa Seorang Dokter
Viral! Kebun Binatang...
Viral! Kebun Binatang China Cari Pemeran Beruang Hitam, Gajinya Rp263,6 Juta
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved