Kehidupan Kristen di China: Regulasi Ketat Batasi Kegiatan Amal Gereja

Jum'at, 13 Februari 2026 - 13:55 WIB
loading...
Kehidupan Kristen di...
Komunitas pemeluk Kristen di China soroti ketatnya aturan kegiatan amal oleh pemerintah. Foto/Shanghai CC&TSPM/China Christian Daily
A A A
JAKARTA - Kehidupan umat Kristen di China berada dalam kerangka regulasi negara yang ketat. Pemerintah mengakui praktik keagamaan, namun seluruh aktivitas harus berjalan di bawah pengawasan serta mekanisme yang ditetapkan otoritas.

Gereja-gereja yang beroperasi secara resmi diwajibkan terdaftar dan mengikuti arah kebijakan negara, sementara komunitas yang tidak terdaftar kerap menghadapi risiko hukum.

Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan “sinifikasi agama” atau penyesuaian agama dengan nilai-nilai dan arah kebangsaan China menjadi bagian penting dalam pengelolaan kehidupan beragama di negara tersebut.

Baca Juga: Aturan Baru China Wajibkan Uskup dan Pastor Serahkan Paspor

Di China, gereja Protestan resmi bernaung di bawah Three-Self Church, organisasi yang diakui pemerintah sebagai saluran legal aktivitas Protestan. Selain itu, terdapat pula gereja-gereja rumah (house church) yang beribadah secara independen tanpa pendaftaran resmi.

Pembatasan Ketat


Vivian Ren, seorang pemeluk Kristen di China, mengungkapkan tantangan yang dihadapi komunitas keagamaan dalam menjalankan kegiatan amal.

Vivian menjelaskan bahwa otoritas China mendorong kelompok agama untuk berkontribusi kepada masyarakat melalui kegiatan sosial. Namun, seluruh aktivitas tersebut harus berjalan dalam sistem yang diatur pemerintah.

“Sebagai saluran yang diakui secara resmi, Three-Self Church harus mengintegrasikan aksi amalnya ke dalam arah ‘Sinifikasi Agama', dan melaksanakannya melalui institusi yang disetujui pemerintah seperti Palang Merah dan departemen urusan sipil,” ujar Vivian, dikutip dari Bitter Winter, Jumat (13/2/2026).

Dia menuturkan bahwa bahkan bagi gereja resmi sekalipun, kerja sama langsung dengan organisasi keagamaan atau lembaga amal luar negeri dibatasi secara ketat. Prosedur perizinan dan pelaporan disebutnya rumit dan memakan waktu, sehingga secara praktik sulit dijalankan.

Sementara itu, bagi gereja rumah yang tidak terdaftar dan mencoba melakukan kegiatan filantropi secara independen, upaya tersebut berisiko dikategorikan sebagai “kegiatan keagamaan ilegal".

Rasa Tidak Berdaya


Vivian menilai bahwa meski regulasi tersebut mungkin memiliki tujuan administratif, dampaknya dirasakan langsung oleh umat dalam menjalankan keyakinan mereka sehari-hari.

“Kami tidak mencari untuk menantang sistem apa pun; kami ingin mengikuti ajaran Alkitab dalam menolong mereka yang membutuhkan,” ujarnya.

“Namun ketika niat baik dibatasi oleh lapisan demi lapisan pembatasan, dan ‘mengasihi sesama seperti diri sendiri’ menjadi cita-cita yang sulit dicapai, kebingungan dan rasa tidak berdaya pun muncul,” sambung Vivian.

Sebagai seorang yang beriman, Vivian mengatakan dirinya terus berupaya menyeimbangkan realitas dengan keyakinan. Dia menekankan bahwa pengabdian sejati tidak hanya terbatas pada kegiatan ibadah formal.

“Saya semakin yakin bahwa pengabdian sejati melampaui pertemuan, khotbah, nyanyian rohani, dan doa—iman harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari,” paparnya.

Dia berharap suatu hari nanti umat dapat lebih leluasa mengekspresikan kasih dalam tindakan nyata, termasuk dengan membantu anak yatim dan mereka yang membutuhkan, sehingga “cahaya iman dapat menghangatkan lebih banyak hati.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
Panda Bond Akan Manfaatkan...
Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
Gempa M6,0 Guncang Pantai...
Gempa M6,0 Guncang Pantai Barat Meksiko
Menang atas Ekuador...
Menang atas Ekuador di Piala Dunia, Suporter Meksiko Ricuh Tewaskan 4 Orang
Rekomendasi
Lisa Mariana Diduga...
Lisa Mariana Diduga Tipu Klien Endorsement, Korban Mengaku Rugi Ratusan Juta
Sahroni Minta Siber...
Sahroni Minta Siber Polri Kejar Dalang Spam Judi Online di Medsos: Bukan Hal Sulit bagi Polisi
ICDX dan Bursa Komoditas...
ICDX dan Bursa Komoditas Belarus Jalin Kerja Sama Perdagangan Internasional
Berita Terkini
Kiper Palestina Saleem...
Kiper Palestina Saleem Al-Ashqar Tewas Dibunuh Tentara Israel di Gaza
130 Orang Ditangkap...
130 Orang Ditangkap karena Korupsi, Termasuk Para Pejabat Berbagai Kementerian
Rusia Balas Dendam!...
Rusia Balas Dendam! Rudal dan Drone Gempur Ukraina, 11 Orang Tewas
Usai Tewaskan 1.300...
Usai Tewaskan 1.300 Orang di Eropa, Gelombang Panas Ekstrem Kini Melanda AS
Gempa Kembar Venezuela...
Gempa Kembar Venezuela Tewaskan 2.295 Orang: Mirip Zona Perang, Bau Mayat Menyengat
Ini Detail Cekcok Trump...
Ini Detail Cekcok Trump dan Mohammed bin Salman Gara-gara Perang Iran
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved