Negaranya Diinvasi AS, Tokoh Oposisi Venezuela Malah Hadiahkan Nobel Perdamaian kepada Trump
Jum'at, 16 Januari 2026 - 07:39 WIB
loading...
Maria Corina Machado, tokoh oposisi Venezuela peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2025, mendukung invasi militer AS terhadap negaranya sendiri. Foto/via RTE
A
A
A
WASHINGTON - Maria Corina Machado, tokoh oposisi Venezuela yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian 2025 secara terbuka mendukung invasi militer Amerika Serikat (AS) terhadap negaranya sendiri. Yang mengejutkan lagi, dia menghadiahkan Nobelnya itu kepada Presiden AS Donald Trump selama pertemuan mereka di Gedung Putih.
Machado sebelumnya telah menyatakan keinginan untuk berbagi penghargaan tersebut dengan Trump, yang telah lama secara terbuka menginginkannya.
Baca Juga: AS Gunakan Senjata Misterius saat Culik Maduro, Bikin Tentara Venezuela Muntah Darah
Namun, Komite Nobel menyatakan dengan tegas pekan lalu: "Hadiah Nobel Perdamaian tidak dapat dicabut, dibagi, atau dialihkan kepada orang lain.”
“Saya memberikan medali, Hadiah Nobel Perdamaian, kepada presiden Amerika Serikat,” kata Machado kepada para pendukungnya setelah pembicaraan tertutup dengan Trump pada hari Kamis.
Dia membingkai tindakan tersebut dengan perbandingan historis, mengeklaim bahwa hal itu mencerminkan ketika Marquis de Lafayette memberikan medali kepada Simon Bolivar yang menampilkan George Washington. “Dua ratus tahun dalam sejarah, rakyat Bolivar memberikan medali kepada pewaris Washington,” katanya, seperti dikutip dari Russia Today.
Sementara Machado mengatakan kepada para pendukung yang bersorak: “Kita dapat mengandalkan Presiden Trump", Gedung Putih mengecilkan signifikansi pertemuan tersebut. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut Machado sebagai “suara yang luar biasa dan berani” tetapi menekankan bahwa pertemuan tersebut tidak mencerminkan perubahan dalam penilaian realistis Trump.
Trump secara konsisten menolak kelayakan Machado untuk memimpin Venezuela. Itu disampaikan tak lama setelah operasi militer AS yang berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro di Caracas pada 3 Januari lalu. "Dia tidak memiliki dukungan atau rasa hormat di dalam negeri," kata Trump saat itu.
Sebaliknya, Trump telah mengisyaratkan kesediaan untuk bekerja sama dengan presiden sementara Delcy Rodriguez, yang dipujinya sebagai "orang yang hebat" setelah percakapan telepon yang panjang minggu ini.
Kunjungan Machado bertepatan dengan upaya AS yang berkelanjutan untuk mengendalikan aset minyak Venezuela, termasuk penyitaan kapal tanker lain yang dikenai sanksi, dan terjadi ketika Rodriguez menyampaikan pidato kenegaraan di Caracas.
Pemerintahan Trump mencatat bahwa pemerintah Rodriguez bekerja sama dengan Washington, termasuk dengan membebaskan tahanan yang ditahan di bawah rezim Maduro.
Machado, yang sebelumnya memimpin protes anti-pemerintah dan menuduh Maduro secara ilegal merebut kekuasaan selama pemilu 2024, meninggalkan Venezuela tahun lalu. Dia tidak mengklarifikasi apakah Trump menerima medali Nobel Perdamaian yang dia berikan.
Dia meninggalkan Gedung Putih tanpa menjawab pertanyaan tentang masalah itu, dan melanjutkan pertemuan di Capitol Hill dengan para anggota Parlemen AS.
Machado sebelumnya telah menyatakan keinginan untuk berbagi penghargaan tersebut dengan Trump, yang telah lama secara terbuka menginginkannya.
Baca Juga: AS Gunakan Senjata Misterius saat Culik Maduro, Bikin Tentara Venezuela Muntah Darah
Namun, Komite Nobel menyatakan dengan tegas pekan lalu: "Hadiah Nobel Perdamaian tidak dapat dicabut, dibagi, atau dialihkan kepada orang lain.”
“Saya memberikan medali, Hadiah Nobel Perdamaian, kepada presiden Amerika Serikat,” kata Machado kepada para pendukungnya setelah pembicaraan tertutup dengan Trump pada hari Kamis.
Dia membingkai tindakan tersebut dengan perbandingan historis, mengeklaim bahwa hal itu mencerminkan ketika Marquis de Lafayette memberikan medali kepada Simon Bolivar yang menampilkan George Washington. “Dua ratus tahun dalam sejarah, rakyat Bolivar memberikan medali kepada pewaris Washington,” katanya, seperti dikutip dari Russia Today.
Sementara Machado mengatakan kepada para pendukung yang bersorak: “Kita dapat mengandalkan Presiden Trump", Gedung Putih mengecilkan signifikansi pertemuan tersebut. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut Machado sebagai “suara yang luar biasa dan berani” tetapi menekankan bahwa pertemuan tersebut tidak mencerminkan perubahan dalam penilaian realistis Trump.
Trump secara konsisten menolak kelayakan Machado untuk memimpin Venezuela. Itu disampaikan tak lama setelah operasi militer AS yang berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro di Caracas pada 3 Januari lalu. "Dia tidak memiliki dukungan atau rasa hormat di dalam negeri," kata Trump saat itu.
Sebaliknya, Trump telah mengisyaratkan kesediaan untuk bekerja sama dengan presiden sementara Delcy Rodriguez, yang dipujinya sebagai "orang yang hebat" setelah percakapan telepon yang panjang minggu ini.
Kunjungan Machado bertepatan dengan upaya AS yang berkelanjutan untuk mengendalikan aset minyak Venezuela, termasuk penyitaan kapal tanker lain yang dikenai sanksi, dan terjadi ketika Rodriguez menyampaikan pidato kenegaraan di Caracas.
Pemerintahan Trump mencatat bahwa pemerintah Rodriguez bekerja sama dengan Washington, termasuk dengan membebaskan tahanan yang ditahan di bawah rezim Maduro.
Machado, yang sebelumnya memimpin protes anti-pemerintah dan menuduh Maduro secara ilegal merebut kekuasaan selama pemilu 2024, meninggalkan Venezuela tahun lalu. Dia tidak mengklarifikasi apakah Trump menerima medali Nobel Perdamaian yang dia berikan.
Dia meninggalkan Gedung Putih tanpa menjawab pertanyaan tentang masalah itu, dan melanjutkan pertemuan di Capitol Hill dengan para anggota Parlemen AS.
(mas)
Lihat Juga :