Ada yang Sukses, Banyak juga yang Gagal! Protes Gen Z Menyebar ke 22 Negara pada 2025

Minggu, 28 Desember 2025 - 18:03 WIB
loading...
Ada yang Sukses, Banyak...
Protes Gen Z menyebar ke 22 negara sepanjang pada 2025. Foto/X/@Sporting_TC
A A A
LONDON - Di berbagai benua dan budaya, kaum muda menghadapi realitas sehari-hari yang sangat berbeda, mulai dari mengalami ketidakamanan di Lima hingga hidup dengan pemadaman listrik bergilir di Antananarivo. Namun pada tahun 2025, satu pengalaman menyatukan mereka: protes. Generasi Z – lahir antara akhir tahun 1990-an dan awal 2010-an – berbagi rasa frustrasi dan kemarahan terhadap elit yang dianggap tidak peka, dan tekad untuk didengar.

Di berbagai negara yang terpisah ribuan kilometer, pemandangan serupa terjadi, menampilkan kerumunan anak muda, plakat yang dilukis tangan, slogan viral yang lahir di platform seperti TikTok atau Discord, dan tuntutan sederhana.

Melansir Nezar Data, gerakan protes Gen Z sepanjang 2025 menyebar hingga 22 negara di seluruh dunia. Di banyak negara, gerakan tersebut masih berlangsung seperti di Meksiko, Italia, Prancis, hingga Serbia. Selain itu, ada yang mampu menggulingkan pemerintahan, seperti di Nepal. Tetapi banyak juga yang dinilai gagal, seperti Iran dan Mozambik. Tapi, Gen Z diprediksi akan menjadi gerakan global yang akan terus berlangsung.

"Ini adalah generasi yang tidak hanya bertindak untuk dirinya sendiri, tetapi agar setiap orang memiliki akses ke pendidikan, perawatan kesehatan, dan perumahan, serta untuk mengakhiri korupsi dalam kekuasaan," kata sosiolog Michel Wieviorka, direktur studi di Sekolah Studi Lanjutan Ilmu Sosial (EHESS), dilansir DW. "Ini adalah protes yang didorong oleh nilai-nilai universal."

Ada yang Sukses, Banyak juga yang Gagal! Protes Gen Z Menyebar ke 22 Negara pada 2025

1. Mengusung Gagasan One Piece yang Diawali di Indonesia

Gerakan ini dimulai di Indonesia pada akhir musim panas. Di Jakarta, pengumuman tunjangan perumahan untuk anggota parlemen – hampir sepuluh kali lipat upah minimum – menjadi pemicu, mendorong mahasiswa untuk turun ke jalan.

Satu simbol dengan cepat muncul dari demonstrasi tersebut: bendera bajak laut dari manga terlaris di dunia, "One Piece", yang menjadi lambang pemberontakan Generasi Z.

Pada bulan September, gerakan tersebut mendapatkan momentum dramatis di Nepal. Video viral di Instagram dan TikTok mengungkap gaya hidup mewah "anak-anak nepotisme", sementara pemerintah memblokir sekitar dua puluh platform digital.

Kemarahan meletus di Kathmandu, di mana gedung parlemen dibakar. Selama dua hari, negara itu dilanda kerusuhan hebat.

Baca Juga: MBS Vs Sheikh Mohamed, Persaingan Tersembunyi yang Memanas di Timur Tengah

2. Menuntut Reformasi hingga Keadilan Sosial

Gelombang kejut kemudian mencapai Afrika. Di ibu kota Madagaskar, Antananarivo, protes yang dipimpin kaum muda tidak lagi hanya mengecam pemadaman air dan listrik tetapi juga menuntut pengunduran diri presiden.

"Kami tidak meminta kemewahan, hanya sarana untuk hidup bermartabat," teriak para demonstran, banyak di antara mereka adalah mahasiswa atau pekerja muda yang rentan.

Di Maroko, mobilisasi mengambil bentuk yang berbeda. Kolektif Gen Z 212 – merujuk pada kode telepon negara tersebut – berorganisasi di Discord, mengoordinasikan seruan untuk berdemonstrasi dan mendorong prioritasnya, termasuk reformasi sekolah, akses ke layanan kesehatan, dan keadilan sosial.

Di benua Amerika, pemuda Peru melakukan mobilisasi dari Lima hingga Cusco melawan ketidakstabilan politik, korupsi, dan tingkat ketidakamanan yang mencapai rekor tertinggi.

3. Tuntutan Berbeda, tetapi Konteksnya Serupa

Meskipun tuntutannya berbeda, konteks yang lebih luas serupa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pendukung Partai Kecoa...
Pendukung Partai Kecoa Kembali Turun ke Jalan, Apa yang Dituntut?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
Demo Anti-Pemerintah...
Demo Anti-Pemerintah Digelar selama 50 Hari, Bolivia Deklarasikan Status Darurat
Media Asing Soroti Aksi...
Media Asing Soroti Aksi Demo Mahasiswa terhadap Kebijakan Pemerintah Indonesia
Partai Janta Kecoa Jadi...
Partai Janta Kecoa Jadi Inspirasi bagi Gen Z di Seluruh Dunia
Gerakan Protes Gen Z...
Gerakan Protes Gen Z Guncang Ibu Kota India: Aku Seekor Kecoak!
APDSI dan PPPK Aksi...
APDSI dan PPPK Aksi Damai, Tuntut Pemenuhan Hak serta Gaji ke-13
UU Etnis Kontroversial...
UU Etnis Kontroversial China Mulai Diberlakukan, Berpotensi Hapus Identitas Budaya Minoritas
Iran Dilaporkan Tolak...
Iran Dilaporkan Tolak Mentah-Mentah Proposal Gencatan Senjata AS
Rekomendasi
Sebut 108 UU Perlu Diubah,...
Sebut 108 UU Perlu Diubah, Cak Imin: Omnibus Law Ciptaker hingga Agraria
Panda Bond Laris Manis,...
Panda Bond Laris Manis, Indonesia Raup Rp18,47 Triliun
Alasan Hotman Paris...
Alasan Hotman Paris Tidak Khawatir soal Ucapannya 'Lu Punya Otak Gak?' Dilaporkan ke Polisi
Berita Terkini
Jenderal Tertinggi Ukraina...
Jenderal Tertinggi Ukraina Sebut Rusia Tidak Berhak untuk Eksis, Moskow Marah
Kebakaran Hutan Paksa...
Kebakaran Hutan Paksa 10.000 Orang Mengungsi, Spanyol Nyatakan Darurat Nasional
Seorang Pangeran Arab...
Seorang Pangeran Arab Saudi Tewas di Hotel Kensington usai Konsumsi Narkoba dan Alkohol
Anggota DPR AS Sebut...
Anggota DPR AS Sebut Zohran Mamdani 'Teroris Muslim' karena Juluki Netanyahu Penjahat Perang
Trump Kenakan Tarif...
Trump Kenakan Tarif Besar-besaran pada Indonesia dan 59 Negara Lainnya, Ini Daftarnya
Masalah Kualitas dan...
Masalah Kualitas dan Krisis Internal Hambat Ambisi Ekspor Senjata China
Infografis
15 PTN Masih Buka Jalur...
15 PTN Masih Buka Jalur Mandiri 2025, Kesempatan Kedua yang Gagal SNBT
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved