Kasus Covid-19 Meningkat, Israel Terapkan Lockdown
Selasa, 15 September 2020 - 12:15 WIB
loading...
A
A
A
Kementerian Keuangan Israel menyatakan, kebijakan lockdown akan menyebabkan ekonomi kian merosot dengan kerugian nasional ditaksir mencapai USD1,88 miliar. Sebelumnya, Israel sudah mengalami resesi setelah memberlakukan lockdown pada April. Lockdown pertama dicabut setelah kasus harian menurun cukup signifikan dan melambat. (Baca juga: Sunan Giri Pendakwah Pertama di Bumi Kalimantan)
Namun setelah kembali dibuka, kasus harian melonjak lagi, bahkan sempat terdapat 2.715 pasien baru hanya dalam 24 jam. Sejak Covid-19 mewabah di Israel, sebanyak 1.108 orang tewas akibat komplikasi penyakit. Israel pun kembali menjadi zona merah. Namun, Netanyahu menolak memberlakukan lockdown sebelum akhirnya diprotes warga.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Hezi Levy mengatakan, penduduk Israel sedang terancam dan telah berjalan di lingkaran kematian. Karena itu, pemerintah sudah seharusnya menerapkan protokol kesehatan yang ketat demi keamanan dan keselamatan bersama. Dia berharap krisis kesehatan ini akan segera pergi dan tidak kembali.
Sama seperti Israel, Inggris juga kembali menimbang memberlakukan lockdown dan protokol kesehatan yang sangat ketat untuk memutus rantai Covid-19 setelah diperlonggar sejak Mei. Berdasarkan peraturan terbaru, masyarakat dilarang berkumpul lebih dari enam orang di tempat umum. PM Boris Johnson mengakui peraturan ini rumit.
Kepala Kantor Kesehatan Inggris Profesor Chris Whitty mengatakan, jumlah kasus Covid-19 di Inggris telah meningkat lebih cepat pada pekan ini, terutama di kalangan orang dengan usia produktif, tapi tetap sama di kalangan anak-anak dan orang lanjut usia. Menurut Whitty, tanpa adanya aksi nyata, Inggris akan bernasib sama seperti Prancis. (Baca juga: Kenali Gejala Kanker Payudara Sejak Dini)
Namun setelah kembali dibuka, kasus harian melonjak lagi, bahkan sempat terdapat 2.715 pasien baru hanya dalam 24 jam. Sejak Covid-19 mewabah di Israel, sebanyak 1.108 orang tewas akibat komplikasi penyakit. Israel pun kembali menjadi zona merah. Namun, Netanyahu menolak memberlakukan lockdown sebelum akhirnya diprotes warga.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Hezi Levy mengatakan, penduduk Israel sedang terancam dan telah berjalan di lingkaran kematian. Karena itu, pemerintah sudah seharusnya menerapkan protokol kesehatan yang ketat demi keamanan dan keselamatan bersama. Dia berharap krisis kesehatan ini akan segera pergi dan tidak kembali.
Sama seperti Israel, Inggris juga kembali menimbang memberlakukan lockdown dan protokol kesehatan yang sangat ketat untuk memutus rantai Covid-19 setelah diperlonggar sejak Mei. Berdasarkan peraturan terbaru, masyarakat dilarang berkumpul lebih dari enam orang di tempat umum. PM Boris Johnson mengakui peraturan ini rumit.
Kepala Kantor Kesehatan Inggris Profesor Chris Whitty mengatakan, jumlah kasus Covid-19 di Inggris telah meningkat lebih cepat pada pekan ini, terutama di kalangan orang dengan usia produktif, tapi tetap sama di kalangan anak-anak dan orang lanjut usia. Menurut Whitty, tanpa adanya aksi nyata, Inggris akan bernasib sama seperti Prancis. (Baca juga: Kenali Gejala Kanker Payudara Sejak Dini)
Lihat Juga :