Dianggap Tak Loyal, 9 Jenderal PLA China Disingkirkan Xi Jinping
Jum'at, 21 November 2025 - 08:19 WIB
loading...
Sebuah laporan baru mengungkap alasan utama di balik pemecatan 9 jenderal PLA China oleh Presiden Xi Jinping karena mereka tidak loyal. Foto/via SCMP
A
A
A
JAKARTA - Banyaknya jenderal senior China yang dipecat dan ditangkap atas berbagai pelanggaran membuat Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) terlihat seolah-olah seperti institusi yang sarat korupsi. Meski hal itu mungkin benar, alasan utama di balik pembersihan besar-besaran ini adalah kecurigaan Presiden Xi Jinping bahwa mereka semua sudah tidak loyal.
Dalam sebuah penindakan menjelang sidang pleno Partai Komunis China (CCP) pada 20 Oktober, sembilan jenderal senior PLA dihukum atas pelanggaran disiplin dan kejahatan terkait pekerjaan; termasuk He Weidong, wakil ketua kedua Komisi Militer Pusat (CMC) dan jenderal tertinggi kedua di PLA.
Tentara China bukanlah militer yang para perwiranya bersumpah setia kepada negara, melainkan sayap militer dari CCP. Para jenderal senior juga merupakan anggota Komite Sentral CCP, dan karena posisi itu mereka menghadiri sidang pleno partai.
Baca Juga: Xi Jinping Singkirkan 9 Jenderal, Diduga Terjadi Perebutan Kekuasaan China
Menariknya, sidang pleno CCP pada 20 Oktober ditandai tingkat kehadiran yang rendah. Dari 205 anggota penuh Komite Sentral, hanya 168 yang hadir. Ini disebabkan absennya para jenderal aktif yang tengah diperiksa.
Dari 42 anggota militer di Komite Sentral ke-20 CCP, 27 absen dari sidang, termasuk 22 jenderal. Dari jumlah itu, baru delapan yang secara resmi diumumkan dipecat dari PLA, sementara 14 lainnya menghilang dari ruang publik.
Dikutip dari Mekong News, Jumat (21/11/2025), sembilan jenderal senior yang disingkirkan itu dituduh melakukan kejahatan yang sangat serius melibatkan jumlah uang yang sangat besar. Jenderal He dan delapan jenderal lainnya yang dipecat dari partai serta militer dituduh terlibat dalam “kejahatan terkait tugas” dengan nilai “sangat besar.”
Selain Jenderal He, pejabat militer top lain yang diperiksa meliputi Miao Hua, mantan anggota CMC yang menangani kerja politik dan ideologi militer; wakilnya He Hongjun, Direktur Eksekutif Komando Operasi Bersama CMC; Wang Xiubin, Direktur Eksekutif CMC; mantan Komandan Komando Teater Timur Lin Xiangyang; mantan Komisaris Politik angkatan darat Qin Shutong; mantan Komisaris Politik Angkatan Laut Yuan Huazhi; mantan Komandan Pasukan Roket Wang Houbin; serta mantan Komandan Polisi Bersenjata Rakyat Wang Chunning.
Baca Juga: Whistleblower: Tak Hanya 9 Jenderal, Pembersihan Militer China Meluas
Sejumlah pengamat menyebut tingkat kehadiran ini sebagai yang terendah dalam sejarah CCP. Meski 14 anggota Komite Sentral dari kalangan sipil dikeluarkan selama sesi itu dan 11 pengganti ditunjuk dari kalangan sipil, tidak ada satu pun kursi militer yang diisi kembali.
Penting pula dicatat bahwa Jenderal Zhang Shengmin, yang memimpin Komisi Inspeksi Disipliner militer, ditunjuk menggantikan He Weidong sebagai Wakil Ketua CMC.
Pengumuman militer bahwa sembilan jenderal dipecat karena kejahatan melibatkan “jumlah uang sangat besar” tidak menjelaskan detail lain. Biasanya, kasus yang melibatkan perwira tinggi di China diselimuti kerahasiaan. Namun, bahasa yang digunakan dalam pernyataan resmi memberi sedikit petunjuk.
Editorial di PLA Daily, berjudul “Menuntaskan Perjuangan Melawan Korupsi di Tubuh Militer", memberikan gambaran. Mengutip South China Morning Post (SCMP), editorial tersebut menyebut tantangan politik yang dihadapi militer China “kompleks dan rumit", dengan “banyak faktor” yang melemahkan “kepemimpinan absolut CCP atas militer” serta merusak karakter politik PLA.
“Kita harus memahami bahwa perang melawan korupsi berkaitan erat dengan kepemimpinan absolut partai atas militer. Ini adalah perjuangan politik besar yang tidak boleh kita kalah,” bunyi editorial SCMP.
Editorial itu menuduh sembilan jenderal tersebut telah “kehilangan prinsip partai, mengalami keruntuhan ideologis, dan tidak loyal", sehingga merusak prinsip “partai memerintah tentara” dan melemahkan tanggung jawab tertinggi Ketua CMC, yakni Presiden Xi Jinping.
Para analis menyebut kata kunci dalam retorika itu adalah “keruntuhan ideologi” dan “ketidaksetiaan". Ada kecemasan bahwa keyakinan pada ideologi partai mulai runtuh, dan kesetiaan terhadap Xi Jinping goyah.
Setelah sebelumnya dua Menteri Pertahanan, Li Shangfu dan Wei Fenghe, dikeluarkan dari CCP dalam dua tahun berturut-turut, gelombang pemecatan terbaru para jenderal top PLA mengisyaratkan kurangnya kepercayaan Presiden Xi di tengah pelemahan ekonomi China. Pertumbuhan yang pernah dijadikan dasar legitimasi kekuasaan CCP kini melambat.
He Weidong, khususnya, dikenal dekat dengan Xi karena keduanya pernah bertugas di Fujian pada 1990-an. Xi disebut telah membesarkan “faksi Fujian” di PLA, namun tak lagi ingin melakukannya setelah mencurigai He tengah membangun kelompoknya sendiri.
Empat jenderal yang dipecat memiliki riwayat bertugas bersama di bekas Angkatan Grup ke-31 dan Armada Laut Timur yang berbasis di Fujian: He Weidong, Miao Hua, Lin Xiangyang, dan Wang Xiubin.
Di sisi lain, para analis menilai faksi kuat lainnya, yaitu “kelompok Shaanxi” yang dipimpin Wakil Ketua Pertama CMC Zhang Youxia, mungkin dimanfaatkan untuk menyingkirkan kelompok Fujian. Xi sendiri memiliki hubungan panjang dengan Shaanxi dan memulai karier politiknya di sana. Tak mengherankan, Jenderal Zhang Shengmin yang menggantikan He juga memiliki keterkaitan dengan Shaanxi.
Motif lain disebut terkait pembersihan Li Shangfu, yang dekat dengan Zhang Youxia. Pemecatan Li mungkin dianggap pukulan bagi kelompok Shaanxi dan menjadi pemicu pembalasan.
Ketidaksetiaan terhadap Xi tampaknya menjadi pemicu utama penindakan, dan berbagai faksi di tubuh PLA digunakan sebagai bidak dalam perebutan kekuasaan.
Namun apakah militer yang terpecah oleh faksi bisa bertarung? Penggantian memang dilakukan cepat ketika perwira senior disingkirkan. Tetapi para pejabat baru akan menghadapi ketidakpastian, dan defisit kepercayaan sulit dipulihkan. Faksionalisme hampir pasti menghambat operasi gabungan dan interoperabilitas antar-matra.
Dalam sebuah penindakan menjelang sidang pleno Partai Komunis China (CCP) pada 20 Oktober, sembilan jenderal senior PLA dihukum atas pelanggaran disiplin dan kejahatan terkait pekerjaan; termasuk He Weidong, wakil ketua kedua Komisi Militer Pusat (CMC) dan jenderal tertinggi kedua di PLA.
Tentara China bukanlah militer yang para perwiranya bersumpah setia kepada negara, melainkan sayap militer dari CCP. Para jenderal senior juga merupakan anggota Komite Sentral CCP, dan karena posisi itu mereka menghadiri sidang pleno partai.
Baca Juga: Xi Jinping Singkirkan 9 Jenderal, Diduga Terjadi Perebutan Kekuasaan China
Menariknya, sidang pleno CCP pada 20 Oktober ditandai tingkat kehadiran yang rendah. Dari 205 anggota penuh Komite Sentral, hanya 168 yang hadir. Ini disebabkan absennya para jenderal aktif yang tengah diperiksa.
Dari 42 anggota militer di Komite Sentral ke-20 CCP, 27 absen dari sidang, termasuk 22 jenderal. Dari jumlah itu, baru delapan yang secara resmi diumumkan dipecat dari PLA, sementara 14 lainnya menghilang dari ruang publik.
Dikutip dari Mekong News, Jumat (21/11/2025), sembilan jenderal senior yang disingkirkan itu dituduh melakukan kejahatan yang sangat serius melibatkan jumlah uang yang sangat besar. Jenderal He dan delapan jenderal lainnya yang dipecat dari partai serta militer dituduh terlibat dalam “kejahatan terkait tugas” dengan nilai “sangat besar.”
Selain Jenderal He, pejabat militer top lain yang diperiksa meliputi Miao Hua, mantan anggota CMC yang menangani kerja politik dan ideologi militer; wakilnya He Hongjun, Direktur Eksekutif Komando Operasi Bersama CMC; Wang Xiubin, Direktur Eksekutif CMC; mantan Komandan Komando Teater Timur Lin Xiangyang; mantan Komisaris Politik angkatan darat Qin Shutong; mantan Komisaris Politik Angkatan Laut Yuan Huazhi; mantan Komandan Pasukan Roket Wang Houbin; serta mantan Komandan Polisi Bersenjata Rakyat Wang Chunning.
Baca Juga: Whistleblower: Tak Hanya 9 Jenderal, Pembersihan Militer China Meluas
"Kehilangan Prinsip Partai"
Sejumlah pengamat menyebut tingkat kehadiran ini sebagai yang terendah dalam sejarah CCP. Meski 14 anggota Komite Sentral dari kalangan sipil dikeluarkan selama sesi itu dan 11 pengganti ditunjuk dari kalangan sipil, tidak ada satu pun kursi militer yang diisi kembali.
Penting pula dicatat bahwa Jenderal Zhang Shengmin, yang memimpin Komisi Inspeksi Disipliner militer, ditunjuk menggantikan He Weidong sebagai Wakil Ketua CMC.
Pengumuman militer bahwa sembilan jenderal dipecat karena kejahatan melibatkan “jumlah uang sangat besar” tidak menjelaskan detail lain. Biasanya, kasus yang melibatkan perwira tinggi di China diselimuti kerahasiaan. Namun, bahasa yang digunakan dalam pernyataan resmi memberi sedikit petunjuk.
Editorial di PLA Daily, berjudul “Menuntaskan Perjuangan Melawan Korupsi di Tubuh Militer", memberikan gambaran. Mengutip South China Morning Post (SCMP), editorial tersebut menyebut tantangan politik yang dihadapi militer China “kompleks dan rumit", dengan “banyak faktor” yang melemahkan “kepemimpinan absolut CCP atas militer” serta merusak karakter politik PLA.
“Kita harus memahami bahwa perang melawan korupsi berkaitan erat dengan kepemimpinan absolut partai atas militer. Ini adalah perjuangan politik besar yang tidak boleh kita kalah,” bunyi editorial SCMP.
Editorial itu menuduh sembilan jenderal tersebut telah “kehilangan prinsip partai, mengalami keruntuhan ideologis, dan tidak loyal", sehingga merusak prinsip “partai memerintah tentara” dan melemahkan tanggung jawab tertinggi Ketua CMC, yakni Presiden Xi Jinping.
Para analis menyebut kata kunci dalam retorika itu adalah “keruntuhan ideologi” dan “ketidaksetiaan". Ada kecemasan bahwa keyakinan pada ideologi partai mulai runtuh, dan kesetiaan terhadap Xi Jinping goyah.
Setelah sebelumnya dua Menteri Pertahanan, Li Shangfu dan Wei Fenghe, dikeluarkan dari CCP dalam dua tahun berturut-turut, gelombang pemecatan terbaru para jenderal top PLA mengisyaratkan kurangnya kepercayaan Presiden Xi di tengah pelemahan ekonomi China. Pertumbuhan yang pernah dijadikan dasar legitimasi kekuasaan CCP kini melambat.
Faksi Fujian dan Shaanxi
He Weidong, khususnya, dikenal dekat dengan Xi karena keduanya pernah bertugas di Fujian pada 1990-an. Xi disebut telah membesarkan “faksi Fujian” di PLA, namun tak lagi ingin melakukannya setelah mencurigai He tengah membangun kelompoknya sendiri.
Empat jenderal yang dipecat memiliki riwayat bertugas bersama di bekas Angkatan Grup ke-31 dan Armada Laut Timur yang berbasis di Fujian: He Weidong, Miao Hua, Lin Xiangyang, dan Wang Xiubin.
Di sisi lain, para analis menilai faksi kuat lainnya, yaitu “kelompok Shaanxi” yang dipimpin Wakil Ketua Pertama CMC Zhang Youxia, mungkin dimanfaatkan untuk menyingkirkan kelompok Fujian. Xi sendiri memiliki hubungan panjang dengan Shaanxi dan memulai karier politiknya di sana. Tak mengherankan, Jenderal Zhang Shengmin yang menggantikan He juga memiliki keterkaitan dengan Shaanxi.
Motif lain disebut terkait pembersihan Li Shangfu, yang dekat dengan Zhang Youxia. Pemecatan Li mungkin dianggap pukulan bagi kelompok Shaanxi dan menjadi pemicu pembalasan.
Ketidaksetiaan terhadap Xi tampaknya menjadi pemicu utama penindakan, dan berbagai faksi di tubuh PLA digunakan sebagai bidak dalam perebutan kekuasaan.
Namun apakah militer yang terpecah oleh faksi bisa bertarung? Penggantian memang dilakukan cepat ketika perwira senior disingkirkan. Tetapi para pejabat baru akan menghadapi ketidakpastian, dan defisit kepercayaan sulit dipulihkan. Faksionalisme hampir pasti menghambat operasi gabungan dan interoperabilitas antar-matra.
(mas)
Lihat Juga :