Militer Rusia Klaim Rebut Kupiansk, Kota Penting di Ukraina Timur
Jum'at, 21 November 2025 - 08:01 WIB
loading...
Militer Rusia klaim telah merebut Kupiansk, kota penting di Ukraina timur. Foto/Kremlin.ru via The Moscow Times
A
A
A
MOSKOW - Militer Rusia pada hari Kamis mengeklaim telah merebut kota Kupiansk, salah satu kota penting di Ukraina timur. Kota itu merupakan benteng penting Kyiv di wilayah Kharkiv timur, tempat pasukan Rusia terus bergerak maju.
Kyiv sebenarnya telah merebut kembali kota pusat kereta api itu pada bulan September 2022, beberapa bulan setelah jatuh ke tangan pasukan Moskow pada hari-hari pertama invasi. Namun, dalam beberapa bulan terakhir tentara Ukraina telah berada di posisi yang lemah di garis depan.
"Pasukan Rusia telah menyelesaikan pembebasan kota Kupiansk," kata Sergei Kuzovlev, komandan pengelompokan pasukan barat, kepada Presiden Rusia Vladimir Putin yang disiarkan televisi.
Baca Juga: Bocoran Proposal Perdamaian AS: Ukraina Harus Relakan Wilayah-wilayahnya yang Direbut Rusia
Sebelum konflik, Kupiansk berpenduduk sekitar 55.000 orang. Kuzovlev menggambarkan kota itu sebagai roda penggerak utama dalam pertahanan Ukraina.
Tepat sebelum klaim militer Rusia muncul, Kremlin mengatakan Putin telah mengunjungi pos komando militer pada hari Kamis di tengah serangan Rusia di Ukraina dan mendengarkan laporan para perwira tentang situasi di garis depan.
"Presiden dan panglima tertinggi mengunjungi salah satu pos komando untuk pengelompokan pasukan barat dan mengadakan pertemuan dengan kepala staf," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan, tanpa menyebutkan apakah pos tersebut berada di Rusia atau wilayah Ukraina yang direbut.
Klaim militer Rusia ini muncul ketika Ukraina secara resmi menerima draf proposal Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang, menurut sumber yang diberi pengarahan tentang rancangan tersebut dan berbicara kepada AFP, Jumat (21/11/2025).
Sebelumnya, media-media AS melaporkan sebuah proposal perdamaian baru yang diusulkan Washington akan memaksa Ukraina merelakan wilayah-wilayah yang sudah direbut Rusia. Selain itu, Kyiv juga akan dipaksa mengurangi lebih dari separuh jumlah tentaranya.
Usulan Washington itu tampaknya mengulangi tuntutan maksimalis Rusia sebagai syarat untuk mengakhiri perang, tuntutan yang secara konsisten ditolak oleh Ukraina karena dianggap sama saja dengan menyerah.
Upaya Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk kembali melibatkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump dalam proses perdamaian selama kunjungannya ke Turki gagal setelah seorang utusan Amerika yang diduga akan bergabung dengannya tidak ikut serta.
"Rancangan proposal perdamaian AS menetapkan pengakuan Crimea dan wilayah lain yang telah direbut Rusia," kata sumber AS kepada AFP, yang berbicara dengan syarat anonim.
"Dan pengurangan jumlah tentara menjadi 400.000 personel," lanjut dia. Ukraina, imbuh dia, juga akan menyerahkan semua senjata jarak jauhnya.
"Perbedaan pentingnya adalah kita tidak mengerti apakah ini benar-benar cerita Trump atau rombongannya, imbuh pejabat itu.
Tidak jelas apa yang seharusnya dilakukan Rusia sebagai imbalannya, menurut sumber tersebut.
Pada saat yang sama, Sekretaris Angkatan Darat AS Daniel Driscoll tiba di Kyiv, memimpin delegasi Pentagon yang berprofil tinggi untuk bertemu dengan para pejabat Ukraina dan mencari cara untuk menyelesaikan konflik, menurut laporan CBS News, mengutip militer AS. Driscoll bertemu dengan Menteri Pertahanan Ukraina Denys Shmygal pada hari Rabu.
Panglima Militer Ukraina Jenderal Oleksandr Syrsky mengatakan dia telah mengadakan pertemuan yang produktif dengan delegasi AS.
"Saya sekali lagi menekankan bahwa memperkuat perlindungan wilayah udara Ukraina, memperluas kemampuan serangan jarak jauh kami terhadap target militer musuh, dan mempertahankan serta menstabilkan garis depan akan melemahkan potensi ofensif musuh," ujarnya dalam unggahan media sosial.
Media Amerika,Axios, sebelumnya melaporkan bahwa Moskow dan Washington telah menyusun rencana rahasia untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Kremlin menolak berkomentar mengenai laporan tersebut, dan kemudian mengatakan tidak ada hal baru dalam kemajuan penyelesaian perdamaian.
Rusia kini menduduki sekitar seperlima wilayah Ukraina, yang sebagian besar telah porak-poranda akibat pertempuran.
Kyiv sebenarnya telah merebut kembali kota pusat kereta api itu pada bulan September 2022, beberapa bulan setelah jatuh ke tangan pasukan Moskow pada hari-hari pertama invasi. Namun, dalam beberapa bulan terakhir tentara Ukraina telah berada di posisi yang lemah di garis depan.
"Pasukan Rusia telah menyelesaikan pembebasan kota Kupiansk," kata Sergei Kuzovlev, komandan pengelompokan pasukan barat, kepada Presiden Rusia Vladimir Putin yang disiarkan televisi.
Baca Juga: Bocoran Proposal Perdamaian AS: Ukraina Harus Relakan Wilayah-wilayahnya yang Direbut Rusia
Sebelum konflik, Kupiansk berpenduduk sekitar 55.000 orang. Kuzovlev menggambarkan kota itu sebagai roda penggerak utama dalam pertahanan Ukraina.
Tepat sebelum klaim militer Rusia muncul, Kremlin mengatakan Putin telah mengunjungi pos komando militer pada hari Kamis di tengah serangan Rusia di Ukraina dan mendengarkan laporan para perwira tentang situasi di garis depan.
"Presiden dan panglima tertinggi mengunjungi salah satu pos komando untuk pengelompokan pasukan barat dan mengadakan pertemuan dengan kepala staf," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan, tanpa menyebutkan apakah pos tersebut berada di Rusia atau wilayah Ukraina yang direbut.
Klaim militer Rusia ini muncul ketika Ukraina secara resmi menerima draf proposal Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang, menurut sumber yang diberi pengarahan tentang rancangan tersebut dan berbicara kepada AFP, Jumat (21/11/2025).
Sebelumnya, media-media AS melaporkan sebuah proposal perdamaian baru yang diusulkan Washington akan memaksa Ukraina merelakan wilayah-wilayah yang sudah direbut Rusia. Selain itu, Kyiv juga akan dipaksa mengurangi lebih dari separuh jumlah tentaranya.
Usulan Washington itu tampaknya mengulangi tuntutan maksimalis Rusia sebagai syarat untuk mengakhiri perang, tuntutan yang secara konsisten ditolak oleh Ukraina karena dianggap sama saja dengan menyerah.
Upaya Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk kembali melibatkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump dalam proses perdamaian selama kunjungannya ke Turki gagal setelah seorang utusan Amerika yang diduga akan bergabung dengannya tidak ikut serta.
"Rancangan proposal perdamaian AS menetapkan pengakuan Crimea dan wilayah lain yang telah direbut Rusia," kata sumber AS kepada AFP, yang berbicara dengan syarat anonim.
"Dan pengurangan jumlah tentara menjadi 400.000 personel," lanjut dia. Ukraina, imbuh dia, juga akan menyerahkan semua senjata jarak jauhnya.
"Perbedaan pentingnya adalah kita tidak mengerti apakah ini benar-benar cerita Trump atau rombongannya, imbuh pejabat itu.
Tidak jelas apa yang seharusnya dilakukan Rusia sebagai imbalannya, menurut sumber tersebut.
Pada saat yang sama, Sekretaris Angkatan Darat AS Daniel Driscoll tiba di Kyiv, memimpin delegasi Pentagon yang berprofil tinggi untuk bertemu dengan para pejabat Ukraina dan mencari cara untuk menyelesaikan konflik, menurut laporan CBS News, mengutip militer AS. Driscoll bertemu dengan Menteri Pertahanan Ukraina Denys Shmygal pada hari Rabu.
Panglima Militer Ukraina Jenderal Oleksandr Syrsky mengatakan dia telah mengadakan pertemuan yang produktif dengan delegasi AS.
"Saya sekali lagi menekankan bahwa memperkuat perlindungan wilayah udara Ukraina, memperluas kemampuan serangan jarak jauh kami terhadap target militer musuh, dan mempertahankan serta menstabilkan garis depan akan melemahkan potensi ofensif musuh," ujarnya dalam unggahan media sosial.
Media Amerika,Axios, sebelumnya melaporkan bahwa Moskow dan Washington telah menyusun rencana rahasia untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Kremlin menolak berkomentar mengenai laporan tersebut, dan kemudian mengatakan tidak ada hal baru dalam kemajuan penyelesaian perdamaian.
Rusia kini menduduki sekitar seperlima wilayah Ukraina, yang sebagian besar telah porak-poranda akibat pertempuran.
(mas)
Lihat Juga :