NATO Merasa Terancam dengan Rudal Nuklir Burevestnik Rusia yang Mengerikan
Senin, 17 November 2025 - 09:18 WIB
loading...
A
A
A
Tidak semua pakar yakin dengan kehebatan rudal Burevestnik. Beberapa di antaranya berpendapat bahwa meskipun Rusia berhasil mengoperasikan reaktor nuklirnya dengan andal, rudal tersebut mungkin tidak akan memberi Rusia keuntungan besar.
Fabian Hoffmann, peneliti di Oslo Nuclear Project di University of Oslo, menggambarkan Burevestnik di X sebagai senjata yang "tidak berguna dan berlebihan".
Lima ilmuwan Rusia tewas dalam uji coba rudal Burevestnik pada tahun 2019, menurut para pengamat. Beberapa pekerja terlempar ke laut, dan peningkatan tingkat radiasi kemudian tercatat di area tersebut. Masih belum jelas apakah radiasi menyebabkan kematian.
Amerika Serikat menolak gagasan dasar menggabungkan reaktor nuklir dengan senjata nuklir pada tahun 1950-an karena risiko yang ditimbulkannya.
William Alberque, seorang peneliti senior di Pacific Forum dan mantan direktur pengendalian senjata NATO, mengatakan bahaya terbesar datang saat peluncuran. Jika Burevestnik terkena serangan, material radioaktif dari reaktor nuklirnya dapat tersebar di area yang luas. "Seperti Chernobyl mini di langit," katanya.
Pakar nuklir independen Pavel Podvig mengatakan kepada DW: "Saya akan berhati-hati dalam mengeklaim bahwa ini adalah Chernobyl terbang. Jika ada pelepasan radiasi radioaktif, pasti akan terdeteksi."
"Kecelakaan saat lepas landas atau terbang kemungkinan akan lebih berisiko," imbuh dia, yang dilansir Euro News, Senin (17/11/2025).
Fabian Hoffmann, peneliti di Oslo Nuclear Project di University of Oslo, menggambarkan Burevestnik di X sebagai senjata yang "tidak berguna dan berlebihan".
Lima ilmuwan Rusia tewas dalam uji coba rudal Burevestnik pada tahun 2019, menurut para pengamat. Beberapa pekerja terlempar ke laut, dan peningkatan tingkat radiasi kemudian tercatat di area tersebut. Masih belum jelas apakah radiasi menyebabkan kematian.
Amerika Serikat menolak gagasan dasar menggabungkan reaktor nuklir dengan senjata nuklir pada tahun 1950-an karena risiko yang ditimbulkannya.
William Alberque, seorang peneliti senior di Pacific Forum dan mantan direktur pengendalian senjata NATO, mengatakan bahaya terbesar datang saat peluncuran. Jika Burevestnik terkena serangan, material radioaktif dari reaktor nuklirnya dapat tersebar di area yang luas. "Seperti Chernobyl mini di langit," katanya.
Pakar nuklir independen Pavel Podvig mengatakan kepada DW: "Saya akan berhati-hati dalam mengeklaim bahwa ini adalah Chernobyl terbang. Jika ada pelepasan radiasi radioaktif, pasti akan terdeteksi."
"Kecelakaan saat lepas landas atau terbang kemungkinan akan lebih berisiko," imbuh dia, yang dilansir Euro News, Senin (17/11/2025).
(mas)
Lihat Juga :