Tes DNA: Hitler Bukan Yahudi, Kemungkinan Mikropenis dan Memiliki Satu Testis
Jum'at, 14 November 2025 - 08:26 WIB
loading...
A
A
A
"Tidak seorang pun pernah benar-benar dapat menjelaskan mengapa Hitler begitu tidak nyaman berada di dekat perempuan sepanjang hidupnya, atau mengapa dia mungkin tidak pernah menjalin hubungan intim dengan perempuan," kata Alex Kay, ilmuwan dari Universitas Potsdam.
"Tetapi sekarang kita tahu bahwa dia menderita Sindrom Kallmann, ini bisa menjadi jawaban yang selama ini kita cari," katanya.
Berdasarkan tes DNA, kemungkinan besar Hitler menderita Sindrom Kallmann dan predisposisi autisme, skizofrenia, dan gangguan bipolar. Namun, kondisi-kondisi ini tidak dapat menjelaskan atau membenarkan kebijakan Hitler yang rasis atau menghasut perang.
Diperkirakan lebih dari 50 juta orang tewas dalam Perang Dunia II, termasuk enam juta orang Yahudi yang dibunuh secara sistematis.
Tes DNA ini dimungkinkan setelah para peneliti memperoleh sampel darah Hitler dari sepotong bahan yang diambil dari sofa tempat dia menembak dirinya sendiri.
"Sindrom Kallmann sering mengakibatkan kadar testosteron rendah, testis yang tidak turun, dan dapat mengakibatkan mikropenis," kata Blink Films.
"Tetapi sekarang kita tahu bahwa dia menderita Sindrom Kallmann, ini bisa menjadi jawaban yang selama ini kita cari," katanya.
Berdasarkan tes DNA, kemungkinan besar Hitler menderita Sindrom Kallmann dan predisposisi autisme, skizofrenia, dan gangguan bipolar. Namun, kondisi-kondisi ini tidak dapat menjelaskan atau membenarkan kebijakan Hitler yang rasis atau menghasut perang.
Diperkirakan lebih dari 50 juta orang tewas dalam Perang Dunia II, termasuk enam juta orang Yahudi yang dibunuh secara sistematis.
Tes DNA ini dimungkinkan setelah para peneliti memperoleh sampel darah Hitler dari sepotong bahan yang diambil dari sofa tempat dia menembak dirinya sendiri.
"Sindrom Kallmann sering mengakibatkan kadar testosteron rendah, testis yang tidak turun, dan dapat mengakibatkan mikropenis," kata Blink Films.
Lihat Juga :