5 Negara dengan Penipuan Online Tertinggi di Dunia, 2 Ada di Asia
Rabu, 29 Oktober 2025 - 13:22 WIB
loading...
A
A
A
Pemerintah India dan kepolisian negara bagian terus meningkatkan kampanye edukasi dan memperkuat mekanisme pelaporan, tetapi skala populasi dan variasi modus membuat angka tetap tinggi.
Singkatnya, India lebih banyak tercatat sebagai negara dengan banyak korban domestik karena penetrasi internet yang masif dan adopsi layanan online yang cepat.
China muncul dalam banyak daftar baik sebagai negara dengan jumlah tinggi aktivitas penipuan domestik maupun sebagai lokasi asal beberapa operasi penipuan lintas-negara.
Di sisi domestik, ada banyak kasus penipuan e-commerce, live-streaming scams, dan penipuan investasi yang menargetkan penduduk lokal melalui platform besar.
Di skala internasional, beberapa laporan juga menunjuk pada jaringan yang beroperasi dari wilayah tertentu yang menargetkan korban luar negeri—mulai dari penipuan kerja, penipuan investasi hingga skema pengalihan uang.
Kompleksitasnya ditambah oleh perbedaan regulasi dan keterbatasan akses ke beberapa data internasional sehingga pola sebenarnya kadang sulit diukur secara langsung; namun analisis oleh berbagai lembaga keamanan dan penyedia intelijen cyber sering memasukkan China dalam daftar negara yang menonjol terkait kasus tertentu atau nilai kerugian besar.
Perlu ditekankan bahwa ketika menyebut “China” dalam konteks ini, tidak semua aktivitas kriminal berasal dari pemerintah atau mayoritas warga—melainkan adanya kelompok kriminal terorganisir dan aktor independen yang memanfaatkan pasar digital besar.
Angka-angka dan peringkat negara memberikan gambaran makro tentang di mana masalah paling tampak atau dari mana ancaman sering berasal, tetapi bagi pengguna individu pesan utamanya tetap sama: waspada terhadap rekayasa sosial (social engineering), jangan membagikan OTP atau data sensitif, verifikasi alamat situs dan profil penjual, gunakan otentikasi dua faktor, dan laporkan segera setiap indikasi penipuan ke pihak berwenang atau bank.
Laporan FBI/IC3 dan studi industri juga menekankan pencegahan, edukasi publik, dan kerja sama internasional adalah kunci untuk menekan laju kerugian—karena penipu memanfaatkan teknologi baru dengan cepat, sementara korban seringkali tertipu karena trust engineering, bukan sekadar kelemahan teknis.
Baca juga: Israel Kembali Serang Gaza, Banyak Warga Palestina Tewas dan Terluka
Singkatnya, India lebih banyak tercatat sebagai negara dengan banyak korban domestik karena penetrasi internet yang masif dan adopsi layanan online yang cepat.
5. China
China muncul dalam banyak daftar baik sebagai negara dengan jumlah tinggi aktivitas penipuan domestik maupun sebagai lokasi asal beberapa operasi penipuan lintas-negara.
Di sisi domestik, ada banyak kasus penipuan e-commerce, live-streaming scams, dan penipuan investasi yang menargetkan penduduk lokal melalui platform besar.
Di skala internasional, beberapa laporan juga menunjuk pada jaringan yang beroperasi dari wilayah tertentu yang menargetkan korban luar negeri—mulai dari penipuan kerja, penipuan investasi hingga skema pengalihan uang.
Kompleksitasnya ditambah oleh perbedaan regulasi dan keterbatasan akses ke beberapa data internasional sehingga pola sebenarnya kadang sulit diukur secara langsung; namun analisis oleh berbagai lembaga keamanan dan penyedia intelijen cyber sering memasukkan China dalam daftar negara yang menonjol terkait kasus tertentu atau nilai kerugian besar.
Perlu ditekankan bahwa ketika menyebut “China” dalam konteks ini, tidak semua aktivitas kriminal berasal dari pemerintah atau mayoritas warga—melainkan adanya kelompok kriminal terorganisir dan aktor independen yang memanfaatkan pasar digital besar.
Angka-angka dan peringkat negara memberikan gambaran makro tentang di mana masalah paling tampak atau dari mana ancaman sering berasal, tetapi bagi pengguna individu pesan utamanya tetap sama: waspada terhadap rekayasa sosial (social engineering), jangan membagikan OTP atau data sensitif, verifikasi alamat situs dan profil penjual, gunakan otentikasi dua faktor, dan laporkan segera setiap indikasi penipuan ke pihak berwenang atau bank.
Laporan FBI/IC3 dan studi industri juga menekankan pencegahan, edukasi publik, dan kerja sama internasional adalah kunci untuk menekan laju kerugian—karena penipu memanfaatkan teknologi baru dengan cepat, sementara korban seringkali tertipu karena trust engineering, bukan sekadar kelemahan teknis.
Baca juga: Israel Kembali Serang Gaza, Banyak Warga Palestina Tewas dan Terluka
(sya)
Lihat Juga :