5 Negara dengan Penipuan Online Tertinggi di Dunia, 2 Ada di Asia
Rabu, 29 Oktober 2025 - 13:22 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, tingkat adopsi teknologi finansial di UK yang tinggi membuat penipu memanfaatkan sistem pembayaran cepat dan infrastruktur bank digital untuk memindahkan dana dengan cepat—sehingga meskipun kasus segera dilaporkan, upaya pemulihan dana jadi sulit.
Pemerintah dan regulator Inggris juga rutin merilis peringatan dan statistik karena peningkatan signifikan pada beberapa kategori scam, sehingga angka pelaporan terlihat melonjak (kenaikan pelaporan bisa mencerminkan dua hal: lebih banyak korban atau lebih baiknya mekanisme pelaporan).
Secara praktis, warga Inggris menghadapi kombinasi volume laporan dan taktik penipuan yang semakin canggih.
Jika fokusnya adalah pada “asal” atau pusat operasi penipuan yang menargetkan korban internasional, Nigeria (dan beberapa negara Afrika lainnya) sering disebut sebagai hotspot aktivitas penipuan online terorganisir—khususnya jenis romance scam, advance-fee/419 scam klasik yang telah bertransformasi menjadi skema lebih modern (misalnya job scams, e-commerce fraud, dan money-mule recruitment).
Laporan penangkapan massal dan operasi lintas-negara oleh Interpol/Afripol menunjukkan kelompok kejahatan terorganisir di beberapa wilayah Afrika barat berperan besar dalam jaringan penipuan internasional, dengan ribuan korban dan ratusan juta dolar kerugian yang teridentifikasi dalam beberapa operasi penegakan.
Perlu dicatat bahwa meskipun banyak aktivitas beroperasi dari wilayah tersebut, korban sering berasal dari negara maju sehingga beban kerugian tersebar global.
Interpol dan mitra regional melaporkan ratusan penangkapan dalam operasi terkoordinasi, tetapi skala penipuan tetap besar karena infrastruktur cyber yang terus berubah dan penggunaan platform komunikasi terenkripsi.
India muncul tinggi dalam daftar karena gabungan dua faktor: populasi digital yang sangat besar dan cepatnya digitalisasi layanan finansial sehingga membuka peluang besar bagi penipu lokal dan internasional.
Berita lokal dan laporan kepolisian regional menunjukkan lonjakan kerugian akibat investasi palsu, penipuan panggilan/OTP, call center fraud, dan penipuan e-commerce; beberapa wilayah melaporkan kerugian besar yang menimpa warga (misalnya laporan regional yang menyebutkan kerugian miliaran rupee dalam kurun waktu tertentu).
Selain itu, fenomena “social engineering” melalui WhatsApp, panggilan palsu yang meminta OTP, serta aplikasi investasi palsu sangat meresahkan karena menyasar berbagai kelompok usia—termasuk lansia yang menjadi korban penipuan panggilan.
Pemerintah dan regulator Inggris juga rutin merilis peringatan dan statistik karena peningkatan signifikan pada beberapa kategori scam, sehingga angka pelaporan terlihat melonjak (kenaikan pelaporan bisa mencerminkan dua hal: lebih banyak korban atau lebih baiknya mekanisme pelaporan).
Secara praktis, warga Inggris menghadapi kombinasi volume laporan dan taktik penipuan yang semakin canggih.
3. Nigeria
Jika fokusnya adalah pada “asal” atau pusat operasi penipuan yang menargetkan korban internasional, Nigeria (dan beberapa negara Afrika lainnya) sering disebut sebagai hotspot aktivitas penipuan online terorganisir—khususnya jenis romance scam, advance-fee/419 scam klasik yang telah bertransformasi menjadi skema lebih modern (misalnya job scams, e-commerce fraud, dan money-mule recruitment).
Laporan penangkapan massal dan operasi lintas-negara oleh Interpol/Afripol menunjukkan kelompok kejahatan terorganisir di beberapa wilayah Afrika barat berperan besar dalam jaringan penipuan internasional, dengan ribuan korban dan ratusan juta dolar kerugian yang teridentifikasi dalam beberapa operasi penegakan.
Perlu dicatat bahwa meskipun banyak aktivitas beroperasi dari wilayah tersebut, korban sering berasal dari negara maju sehingga beban kerugian tersebar global.
Interpol dan mitra regional melaporkan ratusan penangkapan dalam operasi terkoordinasi, tetapi skala penipuan tetap besar karena infrastruktur cyber yang terus berubah dan penggunaan platform komunikasi terenkripsi.
4. India
India muncul tinggi dalam daftar karena gabungan dua faktor: populasi digital yang sangat besar dan cepatnya digitalisasi layanan finansial sehingga membuka peluang besar bagi penipu lokal dan internasional.
Berita lokal dan laporan kepolisian regional menunjukkan lonjakan kerugian akibat investasi palsu, penipuan panggilan/OTP, call center fraud, dan penipuan e-commerce; beberapa wilayah melaporkan kerugian besar yang menimpa warga (misalnya laporan regional yang menyebutkan kerugian miliaran rupee dalam kurun waktu tertentu).
Selain itu, fenomena “social engineering” melalui WhatsApp, panggilan palsu yang meminta OTP, serta aplikasi investasi palsu sangat meresahkan karena menyasar berbagai kelompok usia—termasuk lansia yang menjadi korban penipuan panggilan.
Lihat Juga :