5 Negara dengan Penipuan Online Tertinggi di Dunia, 2 Ada di Asia
Rabu, 29 Oktober 2025 - 13:22 WIB
loading...
Cuplikan film China No More Bets (2023), karya sutradara Ao Shen. Foto/TRINITY CINEASIA
A
A
A
BEIJING - Penipuan online (online scams) bukan masalah yang hanya berdampak pada individu, tetapi juga merusak kepercayaan pada layanan digital, memukul ekonomi, dan memicu respons lintas-negara dari penegak hukum.
Sepanjang beberapa tahun terakhir, jumlah kasus dan nilai kerugian yang dilaporkan terus meningkat, dari phishing dan teknik rekayasa sosial, hingga skema investasi kripto, penipuan e-commerce, dan pengalihan rekening (invoice redirection).
Karakteristik “paling tinggi” satu negara bisa diukur berbeda-beda: jumlah laporan korban yang masuk (absolute complaints), rata-rata kerugian per-victim, maupun keterlibatan wilayah tersebut sebagai pusat operasi scam.
Di bawah ini ada lima negara yang konsisten muncul dalam laporan internasional sebagai yang paling terpengaruh atau paling banyak terkait dengan aktivitas penipuan online: Amerika Serikat, Inggris, Nigeria, India, dan China. Berikut ini gambaran utama mengapa mereka menempati posisi tersebut, tipe scam dominan, dan implikasi bagi korban serta penegakan hukum.
Amerika Serikat menempati posisi paling menonjol ketika dilihat dari jumlah laporan ke pusat pengaduan internasional (IC3/FBI) dan nilai total kerugian.
Laporan tahunan FBI/IC3 menunjukkan ratusan ribu pengaduan setiap tahun yang masuk dari AS, dengan jenis kasus yang dominan bergeser ke investasi palsu (termasuk skema kripto), business email compromise (BEC), phishing, dan tech-support scams.
Selain jumlah laporan yang sangat tinggi, rata-rata kerugian per korban di AS juga termasuk yang terbesar, hal ini disebabkan kombinasi luasnya penggunaan layanan finansial digital, penetrasi e-commerce, dan nilai akun bank rata-rata yang lebih besar dibanding banyak negara lain.
Dampaknya bukan hanya pada individu, tetapi juga perusahaan (kerugian BEC) dan lembaga pemerintahan; hal ini memicu upaya penindakan global dan kerja sama internasional.
Karena skala ekonominya besar, pelaku melihat AS sebagai target yang “menguntungkan”, sementara banyak korban melaporkan hilangnya tabungan besar karena investasi palsu yang disamarkan secara profesional.
Inggris sering muncul di peringkat atas untuk jumlah laporan dan kompleksitas modus penipuan. Data pengaduan dan analisis pihak ketiga menunjukkan warga Inggris menjadi target utama phishing, invoice fraud (pengalihan pembayaran untuk B2B), romance scams, dan investasi palsu yang memanfaatkan platform pembayaran cepat dan open banking.
Selain itu, tingkat adopsi teknologi finansial di UK yang tinggi membuat penipu memanfaatkan sistem pembayaran cepat dan infrastruktur bank digital untuk memindahkan dana dengan cepat—sehingga meskipun kasus segera dilaporkan, upaya pemulihan dana jadi sulit.
Pemerintah dan regulator Inggris juga rutin merilis peringatan dan statistik karena peningkatan signifikan pada beberapa kategori scam, sehingga angka pelaporan terlihat melonjak (kenaikan pelaporan bisa mencerminkan dua hal: lebih banyak korban atau lebih baiknya mekanisme pelaporan).
Secara praktis, warga Inggris menghadapi kombinasi volume laporan dan taktik penipuan yang semakin canggih.
Jika fokusnya adalah pada “asal” atau pusat operasi penipuan yang menargetkan korban internasional, Nigeria (dan beberapa negara Afrika lainnya) sering disebut sebagai hotspot aktivitas penipuan online terorganisir—khususnya jenis romance scam, advance-fee/419 scam klasik yang telah bertransformasi menjadi skema lebih modern (misalnya job scams, e-commerce fraud, dan money-mule recruitment).
Laporan penangkapan massal dan operasi lintas-negara oleh Interpol/Afripol menunjukkan kelompok kejahatan terorganisir di beberapa wilayah Afrika barat berperan besar dalam jaringan penipuan internasional, dengan ribuan korban dan ratusan juta dolar kerugian yang teridentifikasi dalam beberapa operasi penegakan.
Perlu dicatat bahwa meskipun banyak aktivitas beroperasi dari wilayah tersebut, korban sering berasal dari negara maju sehingga beban kerugian tersebar global.
Interpol dan mitra regional melaporkan ratusan penangkapan dalam operasi terkoordinasi, tetapi skala penipuan tetap besar karena infrastruktur cyber yang terus berubah dan penggunaan platform komunikasi terenkripsi.
India muncul tinggi dalam daftar karena gabungan dua faktor: populasi digital yang sangat besar dan cepatnya digitalisasi layanan finansial sehingga membuka peluang besar bagi penipu lokal dan internasional.
Berita lokal dan laporan kepolisian regional menunjukkan lonjakan kerugian akibat investasi palsu, penipuan panggilan/OTP, call center fraud, dan penipuan e-commerce; beberapa wilayah melaporkan kerugian besar yang menimpa warga (misalnya laporan regional yang menyebutkan kerugian miliaran rupee dalam kurun waktu tertentu).
Selain itu, fenomena “social engineering” melalui WhatsApp, panggilan palsu yang meminta OTP, serta aplikasi investasi palsu sangat meresahkan karena menyasar berbagai kelompok usia—termasuk lansia yang menjadi korban penipuan panggilan.
Pemerintah India dan kepolisian negara bagian terus meningkatkan kampanye edukasi dan memperkuat mekanisme pelaporan, tetapi skala populasi dan variasi modus membuat angka tetap tinggi.
Singkatnya, India lebih banyak tercatat sebagai negara dengan banyak korban domestik karena penetrasi internet yang masif dan adopsi layanan online yang cepat.
China muncul dalam banyak daftar baik sebagai negara dengan jumlah tinggi aktivitas penipuan domestik maupun sebagai lokasi asal beberapa operasi penipuan lintas-negara.
Di sisi domestik, ada banyak kasus penipuan e-commerce, live-streaming scams, dan penipuan investasi yang menargetkan penduduk lokal melalui platform besar.
Di skala internasional, beberapa laporan juga menunjuk pada jaringan yang beroperasi dari wilayah tertentu yang menargetkan korban luar negeri—mulai dari penipuan kerja, penipuan investasi hingga skema pengalihan uang.
Kompleksitasnya ditambah oleh perbedaan regulasi dan keterbatasan akses ke beberapa data internasional sehingga pola sebenarnya kadang sulit diukur secara langsung; namun analisis oleh berbagai lembaga keamanan dan penyedia intelijen cyber sering memasukkan China dalam daftar negara yang menonjol terkait kasus tertentu atau nilai kerugian besar.
Perlu ditekankan bahwa ketika menyebut “China” dalam konteks ini, tidak semua aktivitas kriminal berasal dari pemerintah atau mayoritas warga—melainkan adanya kelompok kriminal terorganisir dan aktor independen yang memanfaatkan pasar digital besar.
Angka-angka dan peringkat negara memberikan gambaran makro tentang di mana masalah paling tampak atau dari mana ancaman sering berasal, tetapi bagi pengguna individu pesan utamanya tetap sama: waspada terhadap rekayasa sosial (social engineering), jangan membagikan OTP atau data sensitif, verifikasi alamat situs dan profil penjual, gunakan otentikasi dua faktor, dan laporkan segera setiap indikasi penipuan ke pihak berwenang atau bank.
Laporan FBI/IC3 dan studi industri juga menekankan pencegahan, edukasi publik, dan kerja sama internasional adalah kunci untuk menekan laju kerugian—karena penipu memanfaatkan teknologi baru dengan cepat, sementara korban seringkali tertipu karena trust engineering, bukan sekadar kelemahan teknis.
Baca juga: Israel Kembali Serang Gaza, Banyak Warga Palestina Tewas dan Terluka
Sepanjang beberapa tahun terakhir, jumlah kasus dan nilai kerugian yang dilaporkan terus meningkat, dari phishing dan teknik rekayasa sosial, hingga skema investasi kripto, penipuan e-commerce, dan pengalihan rekening (invoice redirection).
Karakteristik “paling tinggi” satu negara bisa diukur berbeda-beda: jumlah laporan korban yang masuk (absolute complaints), rata-rata kerugian per-victim, maupun keterlibatan wilayah tersebut sebagai pusat operasi scam.
Di bawah ini ada lima negara yang konsisten muncul dalam laporan internasional sebagai yang paling terpengaruh atau paling banyak terkait dengan aktivitas penipuan online: Amerika Serikat, Inggris, Nigeria, India, dan China. Berikut ini gambaran utama mengapa mereka menempati posisi tersebut, tipe scam dominan, dan implikasi bagi korban serta penegakan hukum.
1. Amerika Serikat
Amerika Serikat menempati posisi paling menonjol ketika dilihat dari jumlah laporan ke pusat pengaduan internasional (IC3/FBI) dan nilai total kerugian.
Laporan tahunan FBI/IC3 menunjukkan ratusan ribu pengaduan setiap tahun yang masuk dari AS, dengan jenis kasus yang dominan bergeser ke investasi palsu (termasuk skema kripto), business email compromise (BEC), phishing, dan tech-support scams.
Selain jumlah laporan yang sangat tinggi, rata-rata kerugian per korban di AS juga termasuk yang terbesar, hal ini disebabkan kombinasi luasnya penggunaan layanan finansial digital, penetrasi e-commerce, dan nilai akun bank rata-rata yang lebih besar dibanding banyak negara lain.
Dampaknya bukan hanya pada individu, tetapi juga perusahaan (kerugian BEC) dan lembaga pemerintahan; hal ini memicu upaya penindakan global dan kerja sama internasional.
Karena skala ekonominya besar, pelaku melihat AS sebagai target yang “menguntungkan”, sementara banyak korban melaporkan hilangnya tabungan besar karena investasi palsu yang disamarkan secara profesional.
2. Inggris
Inggris sering muncul di peringkat atas untuk jumlah laporan dan kompleksitas modus penipuan. Data pengaduan dan analisis pihak ketiga menunjukkan warga Inggris menjadi target utama phishing, invoice fraud (pengalihan pembayaran untuk B2B), romance scams, dan investasi palsu yang memanfaatkan platform pembayaran cepat dan open banking.
Selain itu, tingkat adopsi teknologi finansial di UK yang tinggi membuat penipu memanfaatkan sistem pembayaran cepat dan infrastruktur bank digital untuk memindahkan dana dengan cepat—sehingga meskipun kasus segera dilaporkan, upaya pemulihan dana jadi sulit.
Pemerintah dan regulator Inggris juga rutin merilis peringatan dan statistik karena peningkatan signifikan pada beberapa kategori scam, sehingga angka pelaporan terlihat melonjak (kenaikan pelaporan bisa mencerminkan dua hal: lebih banyak korban atau lebih baiknya mekanisme pelaporan).
Secara praktis, warga Inggris menghadapi kombinasi volume laporan dan taktik penipuan yang semakin canggih.
3. Nigeria
Jika fokusnya adalah pada “asal” atau pusat operasi penipuan yang menargetkan korban internasional, Nigeria (dan beberapa negara Afrika lainnya) sering disebut sebagai hotspot aktivitas penipuan online terorganisir—khususnya jenis romance scam, advance-fee/419 scam klasik yang telah bertransformasi menjadi skema lebih modern (misalnya job scams, e-commerce fraud, dan money-mule recruitment).
Laporan penangkapan massal dan operasi lintas-negara oleh Interpol/Afripol menunjukkan kelompok kejahatan terorganisir di beberapa wilayah Afrika barat berperan besar dalam jaringan penipuan internasional, dengan ribuan korban dan ratusan juta dolar kerugian yang teridentifikasi dalam beberapa operasi penegakan.
Perlu dicatat bahwa meskipun banyak aktivitas beroperasi dari wilayah tersebut, korban sering berasal dari negara maju sehingga beban kerugian tersebar global.
Interpol dan mitra regional melaporkan ratusan penangkapan dalam operasi terkoordinasi, tetapi skala penipuan tetap besar karena infrastruktur cyber yang terus berubah dan penggunaan platform komunikasi terenkripsi.
4. India
India muncul tinggi dalam daftar karena gabungan dua faktor: populasi digital yang sangat besar dan cepatnya digitalisasi layanan finansial sehingga membuka peluang besar bagi penipu lokal dan internasional.
Berita lokal dan laporan kepolisian regional menunjukkan lonjakan kerugian akibat investasi palsu, penipuan panggilan/OTP, call center fraud, dan penipuan e-commerce; beberapa wilayah melaporkan kerugian besar yang menimpa warga (misalnya laporan regional yang menyebutkan kerugian miliaran rupee dalam kurun waktu tertentu).
Selain itu, fenomena “social engineering” melalui WhatsApp, panggilan palsu yang meminta OTP, serta aplikasi investasi palsu sangat meresahkan karena menyasar berbagai kelompok usia—termasuk lansia yang menjadi korban penipuan panggilan.
Pemerintah India dan kepolisian negara bagian terus meningkatkan kampanye edukasi dan memperkuat mekanisme pelaporan, tetapi skala populasi dan variasi modus membuat angka tetap tinggi.
Singkatnya, India lebih banyak tercatat sebagai negara dengan banyak korban domestik karena penetrasi internet yang masif dan adopsi layanan online yang cepat.
5. China
China muncul dalam banyak daftar baik sebagai negara dengan jumlah tinggi aktivitas penipuan domestik maupun sebagai lokasi asal beberapa operasi penipuan lintas-negara.
Di sisi domestik, ada banyak kasus penipuan e-commerce, live-streaming scams, dan penipuan investasi yang menargetkan penduduk lokal melalui platform besar.
Di skala internasional, beberapa laporan juga menunjuk pada jaringan yang beroperasi dari wilayah tertentu yang menargetkan korban luar negeri—mulai dari penipuan kerja, penipuan investasi hingga skema pengalihan uang.
Kompleksitasnya ditambah oleh perbedaan regulasi dan keterbatasan akses ke beberapa data internasional sehingga pola sebenarnya kadang sulit diukur secara langsung; namun analisis oleh berbagai lembaga keamanan dan penyedia intelijen cyber sering memasukkan China dalam daftar negara yang menonjol terkait kasus tertentu atau nilai kerugian besar.
Perlu ditekankan bahwa ketika menyebut “China” dalam konteks ini, tidak semua aktivitas kriminal berasal dari pemerintah atau mayoritas warga—melainkan adanya kelompok kriminal terorganisir dan aktor independen yang memanfaatkan pasar digital besar.
Angka-angka dan peringkat negara memberikan gambaran makro tentang di mana masalah paling tampak atau dari mana ancaman sering berasal, tetapi bagi pengguna individu pesan utamanya tetap sama: waspada terhadap rekayasa sosial (social engineering), jangan membagikan OTP atau data sensitif, verifikasi alamat situs dan profil penjual, gunakan otentikasi dua faktor, dan laporkan segera setiap indikasi penipuan ke pihak berwenang atau bank.
Laporan FBI/IC3 dan studi industri juga menekankan pencegahan, edukasi publik, dan kerja sama internasional adalah kunci untuk menekan laju kerugian—karena penipu memanfaatkan teknologi baru dengan cepat, sementara korban seringkali tertipu karena trust engineering, bukan sekadar kelemahan teknis.
Baca juga: Israel Kembali Serang Gaza, Banyak Warga Palestina Tewas dan Terluka
(sya)
Lihat Juga :