Mesir Ingin Pasukan AS di Gaza sebagai Bagian Misi Penjaga Perdamaian
Selasa, 07 Oktober 2025 - 17:54 WIB
loading...
A
A
A
“Mesir, yang kemungkinan akan menyumbang sebagian besar tentara, sangat khawatir,” ungkap para pejabat Arab kepada MEE.
"Bagi Mesir, kehadiran AS akan menunjukkan komitmen nyata terhadap rencana tersebut dalam arti riil; pasukan dan dana. Hal itu akan dipandang sebagai pertaruhan, perwujudan nyata dari dukungan AS, dan, berpotensi, insentif bagi Israel untuk mengekang pelanggaran," ujar Mirette Mabrouk, yang saat ini berada di Kairo dan mengepalai program Mesir di Middle East Institute, kepada MEE.
"Meskipun serangan di Doha membuktikan bahwa kehadiran AS tidak otomatis perlindungan terhadap agresi Israel," papar dia, merujuk pada serangan Israel terhadap ibu kota Qatar pada bulan September.
Intelijen Mesir telah berunding dengan sayap bersenjata Hamas mengenai perlucutan senjata, yang diatur dalam rencana Trump.
Hal ini telah menjadi sumber ketegangan yang semakin meningkat antara gerakan Palestina dan Kairo.
Salah satu pejabat Arab yang mengetahui perundingan tersebut mengatakan kepada MEE bahwa hal itu "sulit".
Beberapa opsi telah dilaporkan, termasuk Hamas menyerahkan senjatanya langsung ke Mesir dan menyimpannya.
The Wall Street Journal melaporkan Hamas ingin menyimpan senjata ringannya, yang dianggapnya bersifat defensif.
Riccardo Fabiani, direktur proyek Afrika Utara di International Crisis Group, mengatakan kepada MEE bahwa selain "menahan Israel", Mesir ingin pasukan AS di lapangan dapat memverifikasi penyerahan senjata - yang dapat digunakan Israel sebagai provokasi untuk memulai kembali serangan.
"Mereka ingin AS berpartisipasi dalam proses perlucutan senjata apa pun yang akan berlangsung," katanya.
"Saya tidak melihat pemerintahan ini secara khusus tertarik untuk memiliki pasukan permanen terlibat dalam penjagaan perdamaian. Mereka lebih suka mengebom suatu tempat dan keluar," ujar dia.
Rencana Trump mengesampingkan Hamas untuk memerintah Gaza. Rencana tersebut menyerukan "Dewan Perdamaian" yang dipimpin Trump untuk memerintah daerah kantong itu bersama para teknokrat Palestina.
Baca juga: Israel Mencapai Titik Tak Bisa Kembali dalam Perang Gaza
"Bagi Mesir, kehadiran AS akan menunjukkan komitmen nyata terhadap rencana tersebut dalam arti riil; pasukan dan dana. Hal itu akan dipandang sebagai pertaruhan, perwujudan nyata dari dukungan AS, dan, berpotensi, insentif bagi Israel untuk mengekang pelanggaran," ujar Mirette Mabrouk, yang saat ini berada di Kairo dan mengepalai program Mesir di Middle East Institute, kepada MEE.
"Meskipun serangan di Doha membuktikan bahwa kehadiran AS tidak otomatis perlindungan terhadap agresi Israel," papar dia, merujuk pada serangan Israel terhadap ibu kota Qatar pada bulan September.
Intelijen Mesir telah berunding dengan sayap bersenjata Hamas mengenai perlucutan senjata, yang diatur dalam rencana Trump.
Hal ini telah menjadi sumber ketegangan yang semakin meningkat antara gerakan Palestina dan Kairo.
Salah satu pejabat Arab yang mengetahui perundingan tersebut mengatakan kepada MEE bahwa hal itu "sulit".
Beberapa opsi telah dilaporkan, termasuk Hamas menyerahkan senjatanya langsung ke Mesir dan menyimpannya.
The Wall Street Journal melaporkan Hamas ingin menyimpan senjata ringannya, yang dianggapnya bersifat defensif.
Riccardo Fabiani, direktur proyek Afrika Utara di International Crisis Group, mengatakan kepada MEE bahwa selain "menahan Israel", Mesir ingin pasukan AS di lapangan dapat memverifikasi penyerahan senjata - yang dapat digunakan Israel sebagai provokasi untuk memulai kembali serangan.
"Mereka ingin AS berpartisipasi dalam proses perlucutan senjata apa pun yang akan berlangsung," katanya.
"Saya tidak melihat pemerintahan ini secara khusus tertarik untuk memiliki pasukan permanen terlibat dalam penjagaan perdamaian. Mereka lebih suka mengebom suatu tempat dan keluar," ujar dia.
Rencana Trump mengesampingkan Hamas untuk memerintah Gaza. Rencana tersebut menyerukan "Dewan Perdamaian" yang dipimpin Trump untuk memerintah daerah kantong itu bersama para teknokrat Palestina.
Baca juga: Israel Mencapai Titik Tak Bisa Kembali dalam Perang Gaza
(sya)
Lihat Juga :