Bocoran Dokumen Moskow: Iran Borong 48 Jet Tempur Su-35 Rusia Rp116,4 Triliun
Selasa, 07 Oktober 2025 - 09:38 WIB
loading...
Bocoran dokumen pertahanan Moskow menunjukkan Iran membeli 48 jet tempur Su-35 senilai lebih dari Rp116,4 triliun. Foto/Iran International
A
A
A
TEHERAN - Dokumen pertahanan Rusia yang bocor menunjukkan Iran telah menandatangani kesepakatan senilai €6 miliar (lebih dari Rp116,4 triliun) untuk membeli 48 unit jet tempur Su-35 dari Moskow. Pengirimannya diperkirakan antara tahun 2026 hingga 2028.
Menurut laporan Defense Security Asia dan Newsweek, Selasa (7/10/2025), dokumen yang bocor itu berasal dari Concern Radio-Electronic Technologies (KRET), anak perusahaan Rostec Corporation milik negara Rusia.
Dokumen tersebut, yang dipublikasikan secara daring oleh kelompok peretas Black Mirror pada awal Oktober, mencantumkan Iran dengan kode pelanggan "364" untuk paket berisi 48 pesawat tempur multiperan Su-35.
Baca Juga: Iran Dipasok Jet Tempur MiG-29 dan Sistem Rudal S-400 Rusia, Musuh Israel Itu Kini Bangkit
"Tabel yang bocor menunjukkan paket Su-35 Iran bernilai lebih dari €5–6 miliar setelah seluruh rangka pesawat dan sistem persenjataannya disertakan," tulis Defense Security Asia dalam laporannya.
"Bocoran dokumen tersebut juga mencakup 48 sistem tampilan head-up dan komponen peperangan elektronik, yang mengonfirmasi angka 48 pesawat yang terkait dengan pesanan Iran," imbuh laporan tersebut.
Laporan lain, dari sebuah blog pertahanan, menyebutkan bahwa berkas-berkas tersebut berisi harga detail, jadwal pengiriman, dan rencana ekspor jet tempur Sukhoi canggih yang ditujukan untuk beberapa klien asing—termasuk Iran, Aljazair, dan Etiopia.
Materi tersebut, dipublikasikan daring pada 3 Oktober oleh kolektif peretas Black Mirror, yang mengeklaim telah mengakses lebih dari 300 dokumen internal dari sistem Rostec.
Tabel ekspor yang bocor menguraikan jadwal multi-tahun, dengan pengiriman avionik dan sistem peperangan elektronik untuk jet Iran antara tahun 2024 hingga 2026. Sedangkan pengiriman pesawat secara penuh diperkirakan akan dilakukan antara tahun 2026 hingga 2028.
"Bocoran tersebut menunjukkan bahwa Rusia mungkin akan melakukan lebih dari sekadar pengiriman ekspor—menawarkan perakitan semi-knocked-down di Iran melalui mitra kedirgantaraan lokal, kemungkinan di bawah Organisasi Industri Penerbangan Iran," papar Defense Security Asia dalam laporannya.
Detail yang belum diverifikasi dalam bagian yang sama menyebutkan bahwa teknisi Rusia dari Sukhoi dan KRET telah ditempatkan di Iran sejak awal 2024 untuk mengawasi persiapan perakitan.
"Pengaturan ini dapat memungkinkan Iran untuk merakit 48 hingga 72 unit selama beberapa tahun, menciptakan lini produksi pesawat tempur generasi keempat plus yang hampir asli sejak tahun 1970-an," lanjut laporan tersebut.
Para pejabat Iran baru-baru ini membahas kedatangan pesawat Rusia. Anggota Parlemen Abolfazl Zohrevand mengatakan pada 1 Oktober bahwa MiG-29 Rusia telah memasuki Iran sebagai apa yang disebutnya sebagai solusi jangka pendek. Dia menambahkan bahwa untuk solusi jangka panjang, Su-35 akan masuk secara bertahap.
Dia juga mengatakan, "Sistem HQ-9 sedang memasuki pasar secara substansial, begitu pula S-400."
Anggota Parlemen lainnya, Fada Hossein Maleki, mengatakan pada bulan September bahwa staf umum Iran "sedang mengupayakan pembelian sistem pertahanan udara dari China dan Rusia."
Beberapa tokoh senior telah menyuarakan skeptisisme tentang komitmen Rusia. Mohammad Sadr, anggota Dewan Kebijaksanaan Iran, mengatakan, "Moskow bersedia menjual sistem S-400 ke Turki, anggota NATO, tetapi masih belum memberikannya kepada Iran."
"Rusia memiliki kecenderungan khusus terhadap Israel dan telah lama ada pembicaraan untuk membeli Su-35, sementara Rusia telah membangun model yang lebih canggih, tetapi itu pun tidak diberikan kepada kami," imbuh dia.
Harian konservatif Farhikhtegan melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi baru-baru ini menyampaikan "pesan kecaman" dari Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei kepada Presiden Vladimir Putin atas kinerja Moskow selama perang 12 hari Iran-Israel.
Jika dokumen Rostec yang bocor itu terkonfirmasi asli, kesepakatan Su-35 akan menandai pengadaan militer terbesar Iran dalam beberapa dekade, yang memperdalam ketergantungan strategisnya pada Rusia.
Menurut laporan Defense Security Asia dan Newsweek, Selasa (7/10/2025), dokumen yang bocor itu berasal dari Concern Radio-Electronic Technologies (KRET), anak perusahaan Rostec Corporation milik negara Rusia.
Dokumen tersebut, yang dipublikasikan secara daring oleh kelompok peretas Black Mirror pada awal Oktober, mencantumkan Iran dengan kode pelanggan "364" untuk paket berisi 48 pesawat tempur multiperan Su-35.
Baca Juga: Iran Dipasok Jet Tempur MiG-29 dan Sistem Rudal S-400 Rusia, Musuh Israel Itu Kini Bangkit
"Tabel yang bocor menunjukkan paket Su-35 Iran bernilai lebih dari €5–6 miliar setelah seluruh rangka pesawat dan sistem persenjataannya disertakan," tulis Defense Security Asia dalam laporannya.
"Bocoran dokumen tersebut juga mencakup 48 sistem tampilan head-up dan komponen peperangan elektronik, yang mengonfirmasi angka 48 pesawat yang terkait dengan pesanan Iran," imbuh laporan tersebut.
Laporan lain, dari sebuah blog pertahanan, menyebutkan bahwa berkas-berkas tersebut berisi harga detail, jadwal pengiriman, dan rencana ekspor jet tempur Sukhoi canggih yang ditujukan untuk beberapa klien asing—termasuk Iran, Aljazair, dan Etiopia.
Materi tersebut, dipublikasikan daring pada 3 Oktober oleh kolektif peretas Black Mirror, yang mengeklaim telah mengakses lebih dari 300 dokumen internal dari sistem Rostec.
Tabel ekspor yang bocor menguraikan jadwal multi-tahun, dengan pengiriman avionik dan sistem peperangan elektronik untuk jet Iran antara tahun 2024 hingga 2026. Sedangkan pengiriman pesawat secara penuh diperkirakan akan dilakukan antara tahun 2026 hingga 2028.
"Bocoran tersebut menunjukkan bahwa Rusia mungkin akan melakukan lebih dari sekadar pengiriman ekspor—menawarkan perakitan semi-knocked-down di Iran melalui mitra kedirgantaraan lokal, kemungkinan di bawah Organisasi Industri Penerbangan Iran," papar Defense Security Asia dalam laporannya.
Detail yang belum diverifikasi dalam bagian yang sama menyebutkan bahwa teknisi Rusia dari Sukhoi dan KRET telah ditempatkan di Iran sejak awal 2024 untuk mengawasi persiapan perakitan.
"Pengaturan ini dapat memungkinkan Iran untuk merakit 48 hingga 72 unit selama beberapa tahun, menciptakan lini produksi pesawat tempur generasi keempat plus yang hampir asli sejak tahun 1970-an," lanjut laporan tersebut.
Para pejabat Iran baru-baru ini membahas kedatangan pesawat Rusia. Anggota Parlemen Abolfazl Zohrevand mengatakan pada 1 Oktober bahwa MiG-29 Rusia telah memasuki Iran sebagai apa yang disebutnya sebagai solusi jangka pendek. Dia menambahkan bahwa untuk solusi jangka panjang, Su-35 akan masuk secara bertahap.
Dia juga mengatakan, "Sistem HQ-9 sedang memasuki pasar secara substansial, begitu pula S-400."
Anggota Parlemen lainnya, Fada Hossein Maleki, mengatakan pada bulan September bahwa staf umum Iran "sedang mengupayakan pembelian sistem pertahanan udara dari China dan Rusia."
Beberapa tokoh senior telah menyuarakan skeptisisme tentang komitmen Rusia. Mohammad Sadr, anggota Dewan Kebijaksanaan Iran, mengatakan, "Moskow bersedia menjual sistem S-400 ke Turki, anggota NATO, tetapi masih belum memberikannya kepada Iran."
"Rusia memiliki kecenderungan khusus terhadap Israel dan telah lama ada pembicaraan untuk membeli Su-35, sementara Rusia telah membangun model yang lebih canggih, tetapi itu pun tidak diberikan kepada kami," imbuh dia.
Harian konservatif Farhikhtegan melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi baru-baru ini menyampaikan "pesan kecaman" dari Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei kepada Presiden Vladimir Putin atas kinerja Moskow selama perang 12 hari Iran-Israel.
Jika dokumen Rostec yang bocor itu terkonfirmasi asli, kesepakatan Su-35 akan menandai pengadaan militer terbesar Iran dalam beberapa dekade, yang memperdalam ketergantungan strategisnya pada Rusia.
(mas)
Lihat Juga :