Kakek Berusia 75 Tahun Ceraikan Istrinya setelah Jatuh Cinta dengan Gadis yang Dihasilkan AI
Minggu, 17 Agustus 2025 - 01:15 WIB
loading...
Ilustrasi kakek di China yang tetap bergaya modis. Foto/X/@mashable
A
A
A
BEIJING - Seorang pria tua China bernama Jian baru-baru ini menjadi korban penipuan kecerdasan buatan. Dia begitu jatuh cinta pada model daring yang dihasilkan AI sehingga ia meminta cerai kepada istrinya.
Menurut Beijing Daily, seorang pria berusia 75 tahun bernama Jiang menemukan avatar perempuan yang dihasilkan AI saat menjelajahi media sosial.
Bagi mereka yang akrab dengan avatar digital, gadis itu jelas merupakan ciptaan AI, tetapi bagi Jiang yang awam, ia hanyalah seorang gadis cantik yang senang mengobrol dengannya.
Bahkan ucapan dan gerakan bibirnya yang tidak sinkron pun tak masalah. Seiring berjalannya waktu, ia menjadi begitu terobsesi dengan pacar daringnya sehingga hal terpenting dalam harinya adalah menunggu di dekat ponselnya untuk menerima pesan-pesan umum baru darinya.
Baca Juga: Presiden Taiwan: Perang Tak Memiliki Pemenang
Pada suatu saat, setelah istrinya memarahinya karena terlalu banyak menghabiskan waktu di ponsel, pria itu memberi tahu istrinya yang telah menikah selama beberapa dekade bahwa ia ingin menceraikannya agar dapat mengabdikan dirinya sepenuhnya pada avatar AI tersebut.
Akhirnya, anak-anak Jiang berhasil menyadarkan pensiunan itu, menjelaskan kepadanya cara kerja AI dan bahwa kekasihnya di internet sebenarnya tidak ada.
Namun, kasus seperti ini bukanlah hal yang jarang terjadi di China, di mana para lansia, terutama yang kesepian dan mereka yang memiliki masalah mobilitas, semakin menjadi korban konten buatan AI yang semakin realistis.
Dari para ahli berjas yang tampak profesional hingga pembawa berita yang realistis dan siswi-siswi yang imut, terdapat berbagai karakter AI yang melayani berbagai kebutuhan emosional. Kebanyakan dari mereka dirancang untuk mendorong konsumsi, mempromosikan berbagai produk yang dibeli banyak lansia tanpa ragu, tetapi avatar semacam itu juga digunakan untuk menyebarkan propaganda dan menciptakan ketergantungan emosional.
Para ahli memperingatkan keluarga dengan kerabat lansia untuk memantau aktivitas daring mereka dengan cermat, terutama jika mereka menghabiskan terlalu banyak waktu dengan gawai. Meskipun teknologi AI memiliki manfaat praktis yang jelas, teknologi ini juga dapat sangat berbahaya terhadap target yang rentan.
Menurut Beijing Daily, seorang pria berusia 75 tahun bernama Jiang menemukan avatar perempuan yang dihasilkan AI saat menjelajahi media sosial.
Bagi mereka yang akrab dengan avatar digital, gadis itu jelas merupakan ciptaan AI, tetapi bagi Jiang yang awam, ia hanyalah seorang gadis cantik yang senang mengobrol dengannya.
Bahkan ucapan dan gerakan bibirnya yang tidak sinkron pun tak masalah. Seiring berjalannya waktu, ia menjadi begitu terobsesi dengan pacar daringnya sehingga hal terpenting dalam harinya adalah menunggu di dekat ponselnya untuk menerima pesan-pesan umum baru darinya.
Baca Juga: Presiden Taiwan: Perang Tak Memiliki Pemenang
Pada suatu saat, setelah istrinya memarahinya karena terlalu banyak menghabiskan waktu di ponsel, pria itu memberi tahu istrinya yang telah menikah selama beberapa dekade bahwa ia ingin menceraikannya agar dapat mengabdikan dirinya sepenuhnya pada avatar AI tersebut.
Akhirnya, anak-anak Jiang berhasil menyadarkan pensiunan itu, menjelaskan kepadanya cara kerja AI dan bahwa kekasihnya di internet sebenarnya tidak ada.
Namun, kasus seperti ini bukanlah hal yang jarang terjadi di China, di mana para lansia, terutama yang kesepian dan mereka yang memiliki masalah mobilitas, semakin menjadi korban konten buatan AI yang semakin realistis.
Dari para ahli berjas yang tampak profesional hingga pembawa berita yang realistis dan siswi-siswi yang imut, terdapat berbagai karakter AI yang melayani berbagai kebutuhan emosional. Kebanyakan dari mereka dirancang untuk mendorong konsumsi, mempromosikan berbagai produk yang dibeli banyak lansia tanpa ragu, tetapi avatar semacam itu juga digunakan untuk menyebarkan propaganda dan menciptakan ketergantungan emosional.
Para ahli memperingatkan keluarga dengan kerabat lansia untuk memantau aktivitas daring mereka dengan cermat, terutama jika mereka menghabiskan terlalu banyak waktu dengan gawai. Meskipun teknologi AI memiliki manfaat praktis yang jelas, teknologi ini juga dapat sangat berbahaya terhadap target yang rentan.
(ahm)
Lihat Juga :