1.500 Orang Tewas Saat Mencari Bantuan di Gaza Sejak Mei
Selasa, 05 Agustus 2025 - 16:10 WIB
loading...
Warga membawa jenazah warga Palestina yang tewas ditembak mati pasukan Israel saat mencari bantuan kemanusiaan di wilayah Zikim, Gaza utara, pada 3 Agustus 2025. Foto/Khames Alrefi/Anadolu Agency
A
A
A
JALUR GAZA - Sekitar 1.500 orang telah tewas di Gaza sejak Mei saat mencari bantuan kemanusiaan. PBB mengatakan hal itu pada hari Senin (4/8/2025).
"Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan banyak orang dilaporkan terus terbunuh dan terluka, termasuk orang-orang yang mencari makanan di sepanjang rute konvoi PBB dan titik-titik distribusi yang dimiliterisasi. Sekitar 1.500 orang dilaporkan tewas sejak Mei," ungkap Farhan Haq, wakil juru bicara PBB, mengatakan kepada para wartawan.
Ia menambahkan seorang petugas kesehatan dari Bulan Sabit Merah Palestina tewas pada hari Minggu dalam serangan udara Israel di Khan Yunus, Gaza selatan.
Sejak 27 Mei, skema bantuan yang didukung Amerika Serikat (AS) dan Israel di Gaza telah banyak dikritik karena tidak efektif serta menjadi "jebakan maut" bagi warga sipil yang kelaparan.
Ketika ditanya Anadolu apakah Sekretaris Jenderal PBB yakin reputasi dan efektivitas PBB dapat diselamatkan mengingat kegagalannya menghentikan tindakan Israel, termasuk rencana perluasan aneksasi tanah Palestina, Haq menjawab, "Tentu saja."
Haq mengatakan rekam jejak PBB mencakup "negosiasi diplomatik yang sukses" dan bantuan kemanusiaan yang terus "menyelamatkan miliaran orang."
Ia menekankan kurangnya persatuan internasional, khususnya di Dewan Keamanan PBB, menghambat efektivitas organisasi tersebut.
Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan pada hari Senin bahwa Israel hanya mengizinkan masuknya 674 truk bantuan sejak 27 Juli – hanya 14% dari kebutuhan minimum harian Jalur Gaza, yaitu 600 truk.
Sebagian besar dari 80 truk yang masuk pada hari Minggu dijarah di tengah apa yang disebutnya "iklim kekacauan dan kelaparan yang sengaja direkayasa."
Kantor Media Gaza menuduh Israel menjadikan kelaparan sebagai senjata untuk melemahkan ketahanan Palestina.
Menolak seruan internasional untuk gencatan senjata, tentara Israel telah melancarkan serangan brutal di Gaza sejak 7 Oktober 2023, menewaskan hampir 61.000 warga Palestina, hampir setengahnya perempuan dan anak-anak.
Kampanye militer tersebut telah menghancurkan daerah kantong tersebut dan membawanya ke ambang kelaparan.
Baca juga: 4 Tanda Palestina Akan Merdeka Menurut Syekh Ahmad Yassin
"Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan banyak orang dilaporkan terus terbunuh dan terluka, termasuk orang-orang yang mencari makanan di sepanjang rute konvoi PBB dan titik-titik distribusi yang dimiliterisasi. Sekitar 1.500 orang dilaporkan tewas sejak Mei," ungkap Farhan Haq, wakil juru bicara PBB, mengatakan kepada para wartawan.
Ia menambahkan seorang petugas kesehatan dari Bulan Sabit Merah Palestina tewas pada hari Minggu dalam serangan udara Israel di Khan Yunus, Gaza selatan.
Sejak 27 Mei, skema bantuan yang didukung Amerika Serikat (AS) dan Israel di Gaza telah banyak dikritik karena tidak efektif serta menjadi "jebakan maut" bagi warga sipil yang kelaparan.
Ketika ditanya Anadolu apakah Sekretaris Jenderal PBB yakin reputasi dan efektivitas PBB dapat diselamatkan mengingat kegagalannya menghentikan tindakan Israel, termasuk rencana perluasan aneksasi tanah Palestina, Haq menjawab, "Tentu saja."
Haq mengatakan rekam jejak PBB mencakup "negosiasi diplomatik yang sukses" dan bantuan kemanusiaan yang terus "menyelamatkan miliaran orang."
Ia menekankan kurangnya persatuan internasional, khususnya di Dewan Keamanan PBB, menghambat efektivitas organisasi tersebut.
Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan pada hari Senin bahwa Israel hanya mengizinkan masuknya 674 truk bantuan sejak 27 Juli – hanya 14% dari kebutuhan minimum harian Jalur Gaza, yaitu 600 truk.
Sebagian besar dari 80 truk yang masuk pada hari Minggu dijarah di tengah apa yang disebutnya "iklim kekacauan dan kelaparan yang sengaja direkayasa."
Kantor Media Gaza menuduh Israel menjadikan kelaparan sebagai senjata untuk melemahkan ketahanan Palestina.
Menolak seruan internasional untuk gencatan senjata, tentara Israel telah melancarkan serangan brutal di Gaza sejak 7 Oktober 2023, menewaskan hampir 61.000 warga Palestina, hampir setengahnya perempuan dan anak-anak.
Kampanye militer tersebut telah menghancurkan daerah kantong tersebut dan membawanya ke ambang kelaparan.
Baca juga: 4 Tanda Palestina Akan Merdeka Menurut Syekh Ahmad Yassin
(sya)
Lihat Juga :