5 Negara Asia yang Tidak Mengakui Palestina sebagai Negara, Salah Satunya Tetangga Indonesia
Senin, 28 Juli 2025 - 11:52 WIB
loading...
Ada 5 negara Asia yang tidak mengakui Palestina sebagai negara, salah satunya tetangga Indonesia. Foto/Ilustrasi SINDO NEWS
A
A
A
JAKARTA - Setidaknya ada lima negara di Asia yang hingga sekarang tidak mengakui Palestina sebagai negara yang merdeka meski mayoritas negara di benua tersebut mendukung kemerdekaan Palestina. Dari lima negara itu, salah satunya adalah tetangga Indonesia, yakni Singapura.
Fakta ini menjadi ironi, mengingat Asia seringkali disebut sebagai benua dengan solidaritas tinggi terhadap perjuangan dekolonisasi dan kemerdekaan bangsa-bangsa tertindas.
Dari 51 negara yang secara geografis dan politik termasuk dalam kawasan Asia, sebanyak 46 di antaranya telah mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Namun, 5 di antaranya tetap enggan memberikan pengakuan formal, walau sebagian di antaranya tetap menunjukkan dukungan secara simbolik atau kemanusiaan.
Baca Juga: 5 Negara Asia yang Diam-diam Dukung Israel, Salah Satunya Mayoritas Muslim
5 Negara Asia yang Tidak Mengakui Negara Palestina
Sebagai negara ekonomi terbesar kedua di Asia, Jepang memilih jalur diplomasi hati-hati. Tokyo mendukung solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina dan aktif memberikan bantuan ekonomi kepada Otoritas Palestina (PA) pimpinan Presiden Mahmoud Abbas, termasuk proyek pembangunan infrastruktur dan pendidikan.
Namun, negara samurai ini belum pernah secara formal menyatakan pengakuan terhadap Negara Palestina. Dalam forum internasional, Jepang kerap abstain dalam resolusi yang menyangkut status kenegaraan Palestina. Keputusan tersebut diyakini karena aliansi erat Jepang dengan Amerika Serikat dan kebutuhan menjaga hubungan dagang dengan Israel.
Sekadar diketahui, Jepang memiliki kantor perwakilan diplomatik di Ramallah, tetapi tidak menjalin hubungan diplomatik setingkat negara.
Korea Selatan (Korsel) berada dalam posisi unik. Sebagai negara demokrasi maju yang sangat bergantung pada aliansi militer dengan Amerika Serikat, Seoul cenderung bersikap hati-hati dalam isu-isu geopolitik yang sensitif.
Meski menyalurkan bantuan kemanusiaan dan menyerukan penghentian kekerasan di Gaza, Korsel tidak mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Seoul juga belum membuka kantor perwakilan untuk Palestina ataupun mendukung keanggotaan penuh Palestina di PBB.
Dalam Sidang Umum PBB tahun 2012 saat Palestina mengajukan status sebagai “Negara Pengamat Non-Anggota", Korea Selatan memilih abstain.
Singapura, sebagai negara kecil dengan kepentingan besar dalam stabilitas dan hubungan internasional, memilih jalur diplomasi netral. Negeri Kota ini memang mengakui hak rakyat Palestina untuk hidup damai dan mendukung solusi dua negara. Namun, negara tetangga Indonesia ini tidak pernah memberikan pengakuan resmi terhadap Palestina sebagai negara.
Hubungan erat dengan Israel—terutama dalam hal kerja sama militer dan teknologi—diduga menjadi salah satu alasan utama sikap Singapura.
Pemerintah Singapura sering menekankan pentingnya perundingan langsung antara Israel dan Palestina untuk menentukan status kenegaraan Palestina.
Di bawah junta militer maupun pemerintahan sipil sebelumnya, Myanmar tak pernah memberikan pengakuan resmi terhadap Negara Palestina. Myanmar juga tidak menjalin hubungan diplomatik formal dengan Otoritas Palestina maupun Hamas.
Dalam berbagai sidang PBB terkait Palestina, Myanmar kerap memilih tidak berpartisipasi secara aktif atau abstain. Ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap Palestina bukanlah prioritas diplomatik Myanmar, terutama di tengah krisis internal yang menimpa negara tersebut sejak kudeta 2021.
Meski dikenal sebagai negara dengan sejarah perjuangan melawan kolonialisme, Vietnam ternyata belum memberikan pengakuan resmi terhadap Negara Palestina. Hanoi memang menunjukkan simpati terhadap rakyat Palestina dan mendukung solusi dua negara, namun tidak pernah membuka hubungan diplomatik resmi dengan Palestina.
Faktor keseimbangan hubungan antara Israel dan Palestina, serta orientasi pragmatis terhadap ekonomi dan teknologi Israel, menjadi dugaan utama di balik sikap Vietnam.
Pengakuan terhadap Negara Palestina masih menjadi isu krusial dalam hubungan internasional. Di Asia, mayoritas negara—termasuk Indonesia, Malaysia, dan sebagian besar negara Arab—telah mengakui Negara Palestina secara penuh. Namun, adanya lima negara yang belum mengakui menunjukkan bahwa kalkulasi diplomatik dan kepentingan ekonomi masih menjadi penentu utama dalam peta politik global.
Selama belum ada pengakuan universal, perjuangan Palestina untuk mendapatkan legitimasi sebagai negara merdeka akan terus menghadapi tantangan besar—bahkan dari negara-negara yang seharusnya menjadi sekutu di benua yang sama.
Fakta ini menjadi ironi, mengingat Asia seringkali disebut sebagai benua dengan solidaritas tinggi terhadap perjuangan dekolonisasi dan kemerdekaan bangsa-bangsa tertindas.
Dari 51 negara yang secara geografis dan politik termasuk dalam kawasan Asia, sebanyak 46 di antaranya telah mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Namun, 5 di antaranya tetap enggan memberikan pengakuan formal, walau sebagian di antaranya tetap menunjukkan dukungan secara simbolik atau kemanusiaan.
Baca Juga: 5 Negara Asia yang Diam-diam Dukung Israel, Salah Satunya Mayoritas Muslim
5 Negara Asia yang Tidak Mengakui Negara Palestina
1. Jepang, antara Kepentingan Global dan Sikap Moderat
♦Status: Belum mengakui Negara Palestina secara resmiSebagai negara ekonomi terbesar kedua di Asia, Jepang memilih jalur diplomasi hati-hati. Tokyo mendukung solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina dan aktif memberikan bantuan ekonomi kepada Otoritas Palestina (PA) pimpinan Presiden Mahmoud Abbas, termasuk proyek pembangunan infrastruktur dan pendidikan.
Namun, negara samurai ini belum pernah secara formal menyatakan pengakuan terhadap Negara Palestina. Dalam forum internasional, Jepang kerap abstain dalam resolusi yang menyangkut status kenegaraan Palestina. Keputusan tersebut diyakini karena aliansi erat Jepang dengan Amerika Serikat dan kebutuhan menjaga hubungan dagang dengan Israel.
Sekadar diketahui, Jepang memiliki kantor perwakilan diplomatik di Ramallah, tetapi tidak menjalin hubungan diplomatik setingkat negara.
2. Korea Selatan, Diplomasi Netral demi Aliansi Strategis
♦Status: Tidak mengakui Palestina sebagai negaraKorea Selatan (Korsel) berada dalam posisi unik. Sebagai negara demokrasi maju yang sangat bergantung pada aliansi militer dengan Amerika Serikat, Seoul cenderung bersikap hati-hati dalam isu-isu geopolitik yang sensitif.
Meski menyalurkan bantuan kemanusiaan dan menyerukan penghentian kekerasan di Gaza, Korsel tidak mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Seoul juga belum membuka kantor perwakilan untuk Palestina ataupun mendukung keanggotaan penuh Palestina di PBB.
Dalam Sidang Umum PBB tahun 2012 saat Palestina mengajukan status sebagai “Negara Pengamat Non-Anggota", Korea Selatan memilih abstain.
3. Singapura, Prioritaskan Stabilitas Regional
♦Status: Tidak mengakui Negara Palestina secara resmiSingapura, sebagai negara kecil dengan kepentingan besar dalam stabilitas dan hubungan internasional, memilih jalur diplomasi netral. Negeri Kota ini memang mengakui hak rakyat Palestina untuk hidup damai dan mendukung solusi dua negara. Namun, negara tetangga Indonesia ini tidak pernah memberikan pengakuan resmi terhadap Palestina sebagai negara.
Hubungan erat dengan Israel—terutama dalam hal kerja sama militer dan teknologi—diduga menjadi salah satu alasan utama sikap Singapura.
Pemerintah Singapura sering menekankan pentingnya perundingan langsung antara Israel dan Palestina untuk menentukan status kenegaraan Palestina.
4. Myanmar, Tersandera Isolasi dan Ketidakstabilan Dalam Negeri
♦Status: Tidak mengakui Negara PalestinaDi bawah junta militer maupun pemerintahan sipil sebelumnya, Myanmar tak pernah memberikan pengakuan resmi terhadap Negara Palestina. Myanmar juga tidak menjalin hubungan diplomatik formal dengan Otoritas Palestina maupun Hamas.
Dalam berbagai sidang PBB terkait Palestina, Myanmar kerap memilih tidak berpartisipasi secara aktif atau abstain. Ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap Palestina bukanlah prioritas diplomatik Myanmar, terutama di tengah krisis internal yang menimpa negara tersebut sejak kudeta 2021.
5. Vietnam, Simpati Ada, Tapi Tak Diikuti Pengakuan Formal
♦Status: Tidak mengakui Negara Palestina secara resmiMeski dikenal sebagai negara dengan sejarah perjuangan melawan kolonialisme, Vietnam ternyata belum memberikan pengakuan resmi terhadap Negara Palestina. Hanoi memang menunjukkan simpati terhadap rakyat Palestina dan mendukung solusi dua negara, namun tidak pernah membuka hubungan diplomatik resmi dengan Palestina.
Faktor keseimbangan hubungan antara Israel dan Palestina, serta orientasi pragmatis terhadap ekonomi dan teknologi Israel, menjadi dugaan utama di balik sikap Vietnam.
Pengakuan terhadap Negara Palestina masih menjadi isu krusial dalam hubungan internasional. Di Asia, mayoritas negara—termasuk Indonesia, Malaysia, dan sebagian besar negara Arab—telah mengakui Negara Palestina secara penuh. Namun, adanya lima negara yang belum mengakui menunjukkan bahwa kalkulasi diplomatik dan kepentingan ekonomi masih menjadi penentu utama dalam peta politik global.
Selama belum ada pengakuan universal, perjuangan Palestina untuk mendapatkan legitimasi sebagai negara merdeka akan terus menghadapi tantangan besar—bahkan dari negara-negara yang seharusnya menjadi sekutu di benua yang sama.
(mas)
Lihat Juga :