Ukraina Bombardir 5 Pangkalan Udara Rusia: Lebih dari 40 Pesawat Dihantam, Termasuk Bomber Nuklir

Senin, 02 Juni 2025 - 07:04 WIB
loading...
Ukraina Bombardir 5...
Ukraina bombardir 5 pangkalan udara Rusia. Lebih dari 40 pesawat terkena serangan, termasuk pesawat pengebom nuklir. Foto/SBU
A A A
MOSKOW - Militer Ukraina meluncurkan salah satu serangan pesawat nirawak (drone) terbesarnya terhadap Rusia pada hari Minggu, membombardir lima pangkalan udara jauh di dalam wilayah Rusia. Kyiv mengeklaim lebih dari 40 pesawat terkena serangan, termasuk pesawat pengebom (bomber) nuklir.

Menurut militer Ukraina, sedikitnya 40 pesawat telah rusak, termasuk pesawat pengebom strategis Tu-95 dan Tu-22 yang berkemampuan nuklir. Di antara rentetan serangan tersebut adalah serangan terhadap unit militer di desa Sridni, serangan pertama di Siberia, yang dikonfirmasi oleh gubernur Rusia di wilayah Irkutsk.

Serangan tersebut ditujukan untuk menghancurkan pesawat pengebom musuh yang jauh dari garis depan di Rusia, kata sumber Ukraina kepada AFP, Senin (2/6/2025). Sumber itu menambahkan bahwa kebakaran terjadi di pangkalan udara Belaya, salah satu instalasi militer yang menjadi sasaran.

Baca Juga: Jerman Akui Mustahil Mengalahkan Rusia karena Memiliki Senjata Nuklir

Media Ukraina melaporkan bahwa operasi khusus berskala besar tersebut dilakukan oleh Dinas Keamanan Ukraina (SBU).

Sedangkan media Rusia, Russia Today, melaporkan tentara serta petugas sipil telah dikerahkan untuk mengatasi ancaman tersebut, dan sumber peluncuran pesawat nirawak musuh telah diblokir.

"Hari ini, rezim Kyiv melancarkan serangan teror dengan menggunakan pesawat nirawak FPV di lapangan udara di wilayah Murmansk, Irkutsk, Ivanovo, Ryazan, dan Amur. Semua serangan teror di lapangan udara militer di wilayah Ivanovo, Ryazan, dan Amur berhasil digagalkan. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, baik dari kalangan prajurit maupun warga sipil. Beberapa dari mereka yang terlibat dalam serangan teror tersebut telah ditahan," kata Kementerian Pertahanan Rusia dalam sebuah pernyataan.

Pernyataan kementerian itu mengakui beberapa pesawat militer terbakar akibat serangan drone tersebut. "Sebagai akibat dari peluncuran pesawat nirawak FPV dari wilayah yang dekat dengan lapangan udara militer di wilayah Murmansk dan Irkutsk, beberapa pesawat terbakar. Api berhasil dipadamkan," imbuh kementerian tersebut.

Gelombang serangan drone itu terjadi saat Rusia dan Ukraina dijadwalkan untuk memulai putaran kedua perundingan damai di Istanbul pada hari Senin. Delegasi Rusia yang dipimpin oleh ajudan Kremlin Vladimir Medynsky telah tiba di Turki.

Rusia telah mengusulkan putaran perundingan baru di Istanbul, sebuah usulan yang diterima oleh Kyiv. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa sebuah delegasi yang dipimpin oleh menterinya Rustem Umerov akan berada di Istanbul pada hari Senin untuk melakukan pembicaraan dengan Rusia.

"Saya juga telah menetapkan posisi kami sebelum pertemuan hari Senin di Istanbul, yang mencakup prioritas untuk mencapai gencatan senjata yang lengkap dan tanpa syarat dan pengembalian tahanan dan anak-anak yang diculik," katanya di media sosial pada hari Minggu.

Bagaimana Serangan Drone Besar-besaran Ukraina Direncanakan?


Operasi itu telah diluncurkan di bawah operasi khusus dengan nama sandi "Pavutyna"—atau "Jaring Laba-laba"—yang ditujukan untuk melemahkan kemampuan serangan jarak jauh Rusia, menurut laporan media Ukraina, Pravda.

Ukraina dilaporkan merencanakan serangan itu selama setahun. Drone-drone itu disembunyikan di gudang kayu bergerak, yang ditempatkan di truk kargo. Pada waktu-waktu tertentu, atap truk dibuka dari jarak jauh, memberi waktu bagi pesawat nirawak untuk keluar dan menyerang pangkalan udara yang dipilih.

Ukraina, yang tidak memiliki persenjataan rudal yang banyak seperti Rusia, malah membangun armada besar pesawat nirawak serang, yang juga telah digunakan untuk menyerang fasilitas militer dan minyak Rusia di masa lalu.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Kematian Akibat Wabah...
Kematian Akibat Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 200 Orang
Survei: Semakin Banyak...
Survei: Semakin Banyak Warga Israel Tak Suka kepada Netanyahu gegara Perang Iran
Rekomendasi
Pakar Nilai Penggeledahan...
Pakar Nilai Penggeledahan Roy Suryo dan Dokter Tifa Sudah Sesuai Aturan
60 Ribu Guru Dipanggil...
60 Ribu Guru Dipanggil PPG 2026 Tahap 2, Ini Tahapan dan Dokumen yang Wajib Disiapkan
Besok Hari Asyura, Ini...
Besok Hari Asyura, Ini Doa yang Dianjurkan dan Mulai Diamalkan Malam Ini!
Berita Terkini
Israel Anggap Turki...
Israel Anggap Turki Lebih Berbahaya Dibandingkan Iran
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Senat AS Sahkan Resolusi...
Senat AS Sahkan Resolusi Penghentian Perang Iran, Pukulan Telak bagi Trump
Trump Ungkap Dana Iran...
Trump Ungkap Dana Iran yang Dilepaskan akan Digunakan untuk Beli Barang-barang AS
Pertama Kali, Dokter...
Pertama Kali, Dokter Belanda Suntik Mati Seorang Anak di Bawah Usia 12 Tahun
Infografis
Lebih dari 1 Juta Tentara...
Lebih dari 1 Juta Tentara Ukraina Tewas dan Terluka
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved