Stasiun TV Belarusia Rilis Rekaman Telepon Warsawa-Berlin Soal Navalny

Sabtu, 05 September 2020 - 04:33 WIB
loading...
Stasiun TV Belarusia...
Tokoh oposisi Rusia Alexey Navalny di pindahkan ke Jerman. Foto/The Moscow Times
A A A
MINSK - Stasiun televisi negara Belarusia , ONT, pada hari Jumat merilis rekaman panggilan telepon tentang insiden blogger oposisi Rusia Alexei Navalny yang disadap oleh intelijen sekutu Rusia itu.

Dalam rekaman percakapan telepon berbahasa Inggris antara Berlin dan Warsawa itu terdengar dua orang tengah berdiskusi mengenai Navalny. Penelepon dari Berlin mengatakan bahwa semuanya berjalan sesuai jadwal dan materi akan segera dirujuk ke administrasi kanselir Kanselir Jerman . Kanselir, menurutnya, akan segera keluar dengan pernyataan.

Ketika ditanya oleh pejabat Polandia apakah Navalny benar-benar diracuni, penelepon dari Berlin mengatakan itu tidak masalah karena metode apa pun bagus dalam peperangan.

Penelepon dari Warsawa mengatakan bahwa skandal itu dapat digunakan untuk mencegah Presiden Rusia Vladimir Putin mencoba memengaruhi situasi di Belarusia dan cara terbaik untuk melakukannya dengan membujuknya dalam masalah Rusia, terutama sekarang, menjelang pemilihan umum di wilayah Rusia. Penelepon Berlin mengatakan dia menangani masalah itu.

Selanjutnya, para penelepon membahas situasi di Belarusia dan penelepon dari Warsawa mengakui bahwa segala sesuatunya tidak sebaik yang dia inginkan karena Presiden Alexander Lukashenko telah terbukti menjadi "orang yang tangguh untuk dilengserkan," dengan Rusia mendukung dia dan para pejabat serta militer sangat setia seperti dikutip dari TASS, Sabtu (5/9/2020).

Sebelumnya, selama pembicaraan dengan Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin yang sedang berkunjung pada hari Kamis, Lukashenko mengatakan intelijen Belarusia telah menyadap panggilan telepon antara Warsawa dan Berlin yang membuktikan bahwa tuduhan tentang keracunan Navalny oleh racun tipe Novichok adalah palsu. Namun dia tidak mengatakan siapa penelepon itu. (Baca juga: PM Rusia Bakal Sambangi Belarusia di Tengah Krisis Politik )

Menurut sekretaris pers presiden Rusia, Dmitry Peskov, rekaman itu telah dibagikan dengan Dinas Keamanan Federal Rusia pada hari yang sama.

Sementara itu, pemerintah Jerman menepis pernyataan Lukashenko sebagai tidak benar.

Navalny merasa sakit pada 20 Agustus saat terbang dari Tomsk ke Moskow dan pesawat melakukan pendaratan darurat di Omsk. Pria itu kemudian dibawa ke rumah sakit dalam keadaan koma dan dihubungkan ke ling ventilator. Dia diterbangkan ke klinik Charite yang berbasis di Berlin pada pagi harinya tanggal 22 Agustus.

Para dokter di Jerman kemudian mengatakan bahwa indikator keracunan telah ditemukan di tubuhnya. Menurut para dokter, gejala keracunan berangsur-angsur mereda.

Pada hari Rabu, pemerintah Jerman mengatakan bahwa ahli toksikologi militer Jerman telah menemukan bahwa Navalny telah terkena racun saraf Novichok. Berlin lantas menuntut Moskow untuk mengklarifikasi insiden tersebut. (Baca juga: Jerman: Alexey Navalny Diracun dengan Novichok )

Pihak Rusia, pada gilirannya, mengatakan tertarik untuk menyelidiki insiden itu secara menyeluruh. Namun, menurut kementerian luar negeri Rusia, pihak Jerman tidak memberikan bukti yang mendukung teori insiden tersebut. (Baca juga: Rusia Mengaku Tidak Diberitahu Jerman Soal Hasil Pemeriksaan Navalny )
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
1.300 Orang Tewas Akibat...
1.300 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di Eropa
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Burkina Faso Putuskan...
Burkina Faso Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Prancis
Tragis! 5 Orang Sekeluarga...
Tragis! 5 Orang Sekeluarga Tewas Disambar Petir
Rekomendasi
Mengemudikan Mobil Manual...
Mengemudikan Mobil Manual Lebih Menyehatkan Otak Dibandingkan Otomatis
Gaya Hidup Sehat, Konsumen...
Gaya Hidup Sehat, Konsumen Perkotaan Kian Selektif Pilih Pangan Harian
Penasaran dengan Isi...
Penasaran dengan Isi Kakbah yang dijadikan Kiblat Salat? Simak Penjelasannya di Sini!
Berita Terkini
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Setelah Mundur, PM Inggris...
Setelah Mundur, PM Inggris Starmer Incar Sekjen NATO
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved