Rusia Klaim Punya Vaksin Covid-19 Terbaik di Dunia
Sabtu, 05 September 2020 - 03:34 WIB
loading...
A
A
A
The Lancet juga melaporkan bahwa tidak ada reaksi yang merugikan terhadap vaksin tersebut, dengan efek samping yang paling umum adalah nyeri di tempat suntikan, demam, sakit kepala dan nyeri otot atau sendi.
Rusia menimbulkan banyak keraguan ketika mengumumkan bahwa mereka mengembangkan vaksin Covid-19 pertama yang disetujui di dunia pada bulan Agustus, yang diberikan oleh Presiden Vladimir Putin sebelum vaksin menyelesaikan uji coba fase 3. Beberapa pejabat tinggi, seperti Walikota Moskow Sergei Sobyanin dan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu, mengatakan bahwa mereka telah disuntik vaksin tersebut.(Baca juga: Tanpa Uji Coba Fase 3, Jerman Sebut Vaksin Corona Rusia Berbahaya )
Penelitian ini membahas beberapa keterbatasan dalam uji coba, termasuk kurangnya kelompok plasebo; durasi tindak lanjut yang singkat (42 hari); jumlah peserta yang rendah; dan relawan yang cukup muda. Belum jelas bagaimana vaksin akan mempengaruhi populasi yang lebih tua dan kelompok berisiko tinggi.
"Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi vaksin pada populasi yang berbeda, termasuk kelompok usia yang lebih tua, individu dengan kondisi medis yang mendasari, dan orang dalam kelompok berisiko," tulis penelitian tersebut seperti dikutip dari Newsweek, Sabtu (5/9/2020).
Rusia menyetujui uji coba fase 3 vaksin "Sputnik V" pada 26 Agustus, yang akan melibatkan 40.000 sukarelawan dalam kelompok usia dan risiko yang berbeda. Menteri Kesehatan Rusia Mikhail Murashko sebelumnya mengatakan bahwa negara itu akan memulai vaksinasi massal pada Oktober, dan dokter serta guru akan menjadi yang pertama divaksinasi.(Baca juga: Terus Diragukan, Dubes Rusia Tegaskan Vaksin Sputnik V Sangat Aman )
Rusia menimbulkan banyak keraguan ketika mengumumkan bahwa mereka mengembangkan vaksin Covid-19 pertama yang disetujui di dunia pada bulan Agustus, yang diberikan oleh Presiden Vladimir Putin sebelum vaksin menyelesaikan uji coba fase 3. Beberapa pejabat tinggi, seperti Walikota Moskow Sergei Sobyanin dan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu, mengatakan bahwa mereka telah disuntik vaksin tersebut.(Baca juga: Tanpa Uji Coba Fase 3, Jerman Sebut Vaksin Corona Rusia Berbahaya )
Penelitian ini membahas beberapa keterbatasan dalam uji coba, termasuk kurangnya kelompok plasebo; durasi tindak lanjut yang singkat (42 hari); jumlah peserta yang rendah; dan relawan yang cukup muda. Belum jelas bagaimana vaksin akan mempengaruhi populasi yang lebih tua dan kelompok berisiko tinggi.
"Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi vaksin pada populasi yang berbeda, termasuk kelompok usia yang lebih tua, individu dengan kondisi medis yang mendasari, dan orang dalam kelompok berisiko," tulis penelitian tersebut seperti dikutip dari Newsweek, Sabtu (5/9/2020).
Rusia menyetujui uji coba fase 3 vaksin "Sputnik V" pada 26 Agustus, yang akan melibatkan 40.000 sukarelawan dalam kelompok usia dan risiko yang berbeda. Menteri Kesehatan Rusia Mikhail Murashko sebelumnya mengatakan bahwa negara itu akan memulai vaksinasi massal pada Oktober, dan dokter serta guru akan menjadi yang pertama divaksinasi.(Baca juga: Terus Diragukan, Dubes Rusia Tegaskan Vaksin Sputnik V Sangat Aman )
(ber)
Lihat Juga :