5 Negara yang Dikuasai Militer, Nomor 4 Tetangga Indonesia

Selasa, 18 Maret 2025 - 17:25 WIB
loading...
5 Negara yang Dikuasai...
Orang-orang berpartisipasi dalam perayaan festival air Thingyan di Yangon, Myanmar, pada 13 April 2024. Foto/Xinhua/Myo Kyaw Soe
A A A
NAYPYIDAW - Ada lima negara yang dikuasai militer. Salah satunya tetangga Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

Saat ini, beberapa negara di dunia berada di bawah kendali militer. Maksudnya, kekuasaan politik di sana dipegang angkatan bersenjata, bukan pemerintahan sipil yang terpilih secara demokratis.

Situasi tersebut sering muncul setelah terjadinya kudeta militer. Pada sejumlah kasus, kekuasaan militer di suatu negara menghasilkan otoritarianisme dan menekan kebebasan sipil.

Lalu, negara mana saja yang saat ini dikuasai militer? Berikut ini di antaranya yang bisa diketahui.

Negara yang Dikuasai Militer

1. Niger


Niger merupakan negara di Afrika Barat yang dikuasai militer selama beberapa tahun terakhir. Pada 26 Juli 2023, militer Niger melakukan kudeta menggulingkan Presiden Mohamed Bazoum yang sebelumnya terpilih secara demokratis.

Kudeta dilakukan Dewan Nasional untuk Perlindungan Tanah Air (CNSP) pimpinan Jenderal Abdourahmane Tchiani.

Menurutnya, alasan utama kudeta ini adalah untuk menghentikan memburuknya situasi keamanan akibat serangan kelompok teroris dan ekstremis di kawasan Sahel.

Melansir Voa, Jenderal Abdourahamane Tchiani, selaku pemimpin junta awalnya berkomitmen untuk melakukan transisi selama tiga tahun setelah merebut kekuasaan dari Mohamed Bazoum.

Namun, janji tersebut telah memicu ketidakpastian di kalangan warga Niger dan pengamat internasional.

Kudeta Juli 2023 di Niger juga memicu kecaman luas, termasuk ancaman intervensi militer dari Komunitas Ekonomi regional Negara-negara Afrika Barat atau ECOWAS.

Krisis di sana juga mencerminkan tren yang lebih luas di Sahel mengenai seringnya kudeta militer di tengah meningkatnya ancaman jihadis dan kebencian terhadap pemerintah sipil.

2. Mali


Mali sudah mengalami beberapa kali kudeta dalam satu dekade terakhir. Di antaranya pada Agustus 2020 ketika Presiden Ibrahim Boubacar Keita yang terpilih secara demokratis digulingkan oleh tentara yang dipimpin oleh Kolonel Assimi Goita.

Sejak itu, Goita menjadi pemimpin de facto Mali. Militer dalam kudetanya beralasan bahwa pemerintahan Mali perlu memulihkan stabilitas negara yang selama bertahun-tahun dilanda konflik dengan kelompok bersenjata di wilayah utara dan tengah.

Melansir APnews, penguasa militer di Mali seharusnya mengembalikan kekuasaan kepada pemerintahan sipil dalam waktu 18 bulan.

Namun, setelah tujuh bulan berlalu, mereka justru kembali menyingkirkan presiden sementara dan perdana menteri yang sebelumnya ditunjuk.

Saat ini, Mali masih diperintah oleh pemerintahan militer yang menjanjikan transisi ke pemerintahan sipil. Meski begitu, banyak pihak skeptis terhadap janji ini, karena tidak ada tanda-tanda jelas waktu pemilu akan dilaksanakan.

3. Chad


Sebagaimana negara lain di kawasan Sahel, Chad memiliki sejarah panjang ketidakstabilan politik dan intervensi militer dalam pemerintahan.

Pada April 2021, Presiden Chad yang sudah lama berkuasa, Idriss Déby, tewas saat memimpin pasukan melawan kelompok pemberontak Front pour l’Alternance et la Concorde au Tchad (FACT).

Idriss Deby sebelumnya sudah memimpin Chad selama 30 tahun setelah merebut kekuasaan melalui kudeta pada 1990.

Setelah kematiannya, kekuasaan di sana langsung diambil alih oleh putranya, Mahamat Idriss Deby Itno, yang waktu itu berpangkat jenderal.

Mahamat memimpin sebuah dewan militer transisi yang dikenal dengan nama Dewan Militer Transisi (Transitional Military Council/TMC).

Pengambilalihan kekuasaan ini sempat menuai kontroversi karena melanggar konstitusi Chad yang mengatur bahwa ketua parlemen harus menjadi pemimpin sementara apabila presiden meninggal dunia.

Namun, militer beralasan bahwa pengambilalihan kekuasaan ini dilakukan untuk menjaga stabilitas negara di tengah ancaman pemberontakan bersenjata yang terus meningkat.

Mahamat Idriss Deby awalnya berjanji akan mengadakan pemilu dalam waktu 18 bulan setelah mengambil alih kekuasaan.

Namun, hingga kini proses tersebut terus tertunda. Pemerintah militer juga mencoba meredam perlawanan dengan menekan kelompok oposisi dan membatasi kebebasan berpendapat.

4. Myanmar


Berikutnya ada Myanmar. Tetangga Indonesia ini juga dikuasai oleh militer setelah mengalami kudeta pada 2021.

Militer Myanmar yang dikenal dengan nama Tatmadaw memang punya sejarah panjang sejak negara ini merdeka dari Inggris pada 1948.

Pada 1 Februari 2021, mereka melakukan kudeta dengan menggulingkan pemerintahan sipil yang dipimpin Aung San Suu Kyi.

Militer kemudian mengambil alih kekuasaan dan menetapkan Jenderal Min Aung Hlaing sebagai pemimpin pemerintahan darurat.

Mereka juga memberlakukan keadaan darurat, membubarkan parlemen, serta menangkap Aung San Suu Kyi dan banyak tokoh politik lainnya.

Setelah kudeta, rakyat Myanmar sebenarnya telah merespons dengan melakukan gerakan perlawanan besar-besaran. Namun, tindakan mereka dibalas oleh militer dengan tindakan represif.

5. Sudan


Sudan juga dikenal sebagai negara yang sering mengalami ketidakstabilan politik. Mereka jatuh di bawah kekuasaan militer pada Oktober 2021 saat tentara mengkudeta pemerintahan transisi Perdana Menteri Abdalla Hamdok.

Peristiwa itu terjadi hanya beberapa minggu sebelum militer menyerahkan kepemimpinan dewan kepada warga sipil dan hampir dua tahun setelah tentara menggulingkan otokrat lama Omar al-Bashir.

Sekitar 18 bulan setelah kudeta, terjadi pertempuran antara tentara Sudan dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Konflik tersebut telah mengakibatkan kematian banyak orang dan menunda pemerintahan baru di sana.

Itulah sejumlah negara di dunia yang dikuasai militer.

Baca juga: AS Diminta Kembalikan Patung Liberty ke Prancis, Ini Respons Menohok Gedung Putih
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Identifikasi 8 Awak...
AS Identifikasi 8 Awak Tewas dalam Jatuhnya Bomber Nuklir B-52, Ini Daftarnya
Pesawat Pengebom Nuklir...
Pesawat Pengebom Nuklir B-52 AS Jatuh Tewaskan 8 Awak, Harganya Rp1,5 Triliun
Pesawat Pengebom Nuklir...
Pesawat Pengebom Nuklir B-52 AS Jatuh di Pangkalan California, 8 Orang Tewas
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Negara Anggota NATO...
Negara Anggota NATO Ini Mengalami Kemandulan Kemampuan Militer Terburuk
7 Senjata yang Mengubah...
7 Senjata yang Mengubah Dunia pada Perang Dunia II, dari Supersonik hingga Bom Nuklir
Klasemen Piala AFF U-19...
Klasemen Piala AFF U-19 2026: Sikat Myanmar, Timnas Indonesia Sejajar Vietnam
Swiss Gelar Referendum...
Swiss Gelar Referendum untuk Batasi Populasi hingga 10 Juta Jiwa
Trump Ingin Buru-Buru...
Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran, Tak Menunggu 19 Juni
Rekomendasi
5 Fakta Menarik Korea...
5 Fakta Menarik Korea Selatan Tumbang dari Meksiko di Piala Dunia 2026
HCML Gandeng PMI Gelar...
HCML Gandeng PMI Gelar Donor Darah, Tumbuhkan Kepedulian Sesama
KPK Telusuri Pembelian...
KPK Telusuri Pembelian Aset Fadia Arafiq saat Jabat Bupati Pekalongan
Berita Terkini
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Senator Amerika Geram...
Senator Amerika Geram dengan Kesepakatan AS dan Iran: 'Juju Saja, Kita Menyerah'
Militer AS Telah Cabut...
Militer AS Telah Cabut Blokade Iran atas Perintah Trump
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Mojtaba Khamenei: Iran...
Mojtaba Khamenei: Iran dan AS Capai Kesepakatan karena Trump Putus Asa
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved