Strategi Melumpuhkan Kritikus ala Rusia

Jum'at, 04 September 2020 - 13:15 WIB
loading...
A A A
“Di luar budaya populer, tidak ada pembunuh bayaran yang sangat terampil untuk disewa,” kata Mark Galeotti, pakar keamanan Rusia dari Universitas New York dilansir The New York Times. “Jika itu adalah pekerjaan dengan penuh keahlian, itu berarti adalah aset negara,” ujarnya.

Berbeda dengan Israel dan Amerika Serikat (AS), pembunuhan yang dilakukan atas perintah negara juga kerap terjadi, tetapi dalam konteks kontraterorisme. Namun, Rusia selalu membantah terkait dengan pembunuhan para politikus oposisi. Itu karena kebanyakan kasus tersebut pada umumnya melakukan aksi dengan rapi dan tersembunyi.

“Pemerintah menggunakan pasukan khusus untuk melikuidasi para musuhnya,” kata Gennadi V. Gudkov, mantan anggota parlemen dan mantan agen rahasia KGB dengan pangkat terakhir letnan kolonel. “Bukan hanya Litvinenko, tetapi banyak orang lain yang tidak diketahui, baik dirahasiakan maupun sebagai kecelakaan atau semi kecelakaan,” katanya.

Racun merupakan alat favorit bagi intelijen Rusia selama beberapa abad terakhir untuk melakukan aksi pembunuhan. Seorang pakar biokimia, Grigory Mairanovski, pernah menemukan racun tanpa rasa, tanpa warna, dan sangat mematikan pada 1928. Pada 1954, seorang pembelot KGB menggambar laboratorium rahasia itu juga menguji racun tersebut kepada orang yang masih hidup. Hingga kini, Rusia juga terus mengembangkan racun mematikan yang sulit dilacak. (Baca juga: Mulai Hari Ini Seluruh ASN DKI Hanya Bekerja 5,5 Jam Perhari)

Sementara itu, Kanselir Jerman Angela Merkel mengungkapkan, kritikus Alexei Navalny yang saat ini dalam perawatan intensif di rumah skait Berlin, dipastikan diracun dengan zat agen syaraf Novichok. Itu merupakan zat beracun yang dikenal di era militer Soviet pada 1970-1980-an. Merkel mengatakan Berlin meminta Moskow menjelaskan hal itu dan Jerman akan berkonsultasi dengan Moskow untuk merespons kasus tersebut.

“Ini informasi yang sangat mengganggu tentang upaya pembunuhan dengan racun terhadap pemimpin oposisi Rusia,” kata Merkel dilansir Reuters. “Alexei Navalny merupakan korban serangan zat kimian agen syaraf Novichok,” ujarnya.

Moskow kembali membantah tudingan tersebut. Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan tudingan Jerman tidak disertai bukti. Mereka juga mengeluhkan cara Jerman merilis informasi mengenai Navalny. “Langkah Jerman sepertinya kampanye informasi tanpa fakta melawan Rusia,” kata Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia kepada stasiun televisi milik Pemerintah Rusia.

Gedung Putih menyatakan penggunaan Novichok “tindakan sangat tercela”. Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat menyatakan Washington akan bekerja sama dengan aliansinya untuk meminta pihak di Rusia yang harus bertanggung jawab. Seorang sumber dari Pemerintah AS menyatakan penggunaan Novichok menunjukkan penegasan Putin kepada individu yang menjadi ancaman dan mengganggunya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Presiden Zelensky Akan...
Presiden Zelensky Akan Memiliki Pesaing Politik yang Kuat, Ini 5 Pemicunya
AS Terlibat Langsung...
AS Terlibat Langsung dalam Serangan Drone Ukraina, Rusia: Washington Munafik!
Presiden Zelensky Pecat...
Presiden Zelensky Pecat Panglima Militer Ukraina, Rusia Untung Besar!
Zelensky Ditekan untuk...
Zelensky Ditekan untuk Pecat Jenderal Tertinggi Ukraina di Tengah Perang Melawan Rusia
Langka, Kapal Perang...
Langka, Kapal Perang China Latihan Tembak di Dalam ZEE Jepang
Makin Kewalahan, Rusia...
Makin Kewalahan, Rusia Pilih Buru Operator Drone Ukraina
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
Korban Tewas Gempa Venezuela...
Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 5.208 Jiwa, 16.740 Orang Terluka
AS Bombardir Fasilitas...
AS Bombardir Fasilitas Nuklir Iran di Bushehr
Rekomendasi
Koalisi Sipil Tolak...
Koalisi Sipil Tolak Pelibatan Babinsa dalam Pengawasan Pajak, Dinilai Ancam Supremasi Sipil
Kuntadi Jadi Jampidsus,...
Kuntadi Jadi Jampidsus, Yusril: Tugas Pokoknya Selesaikan Kasus Febrie Adriansyah
Jadi Kawasan Wisata,...
Jadi Kawasan Wisata, Bali Kian Dilirik Perusahaan Asuransi
Berita Terkini
Presiden Zelensky Akan...
Presiden Zelensky Akan Memiliki Pesaing Politik yang Kuat, Ini 5 Pemicunya
Serangan AS ke Iran...
Serangan AS ke Iran Tak Punya Strategi, Apakah Trump Sudah Putus Asa?
AS Terlibat Langsung...
AS Terlibat Langsung dalam Serangan Drone Ukraina, Rusia: Washington Munafik!
Trump Setujui Arab Saudi...
Trump Setujui Arab Saudi Perkaya Uranium, Mungkinkan Riyadh Memiliki Bom Nuklir?
Gunakan Semut Jadi Hiasan...
Gunakan Semut Jadi Hiasan Makanan, Pemilik Restoran Berbintang Michelin Ini Dipenjara
Apa Itu Kokushobi? Cuaca...
Apa Itu Kokushobi? Cuaca Ekstrem yang Terjadi Pertama Kalinya di Jepang
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved