Pentagon: China Lirik Indonesia untuk Jadi Pangkalan Militernya

loading...
Pentagon: China Lirik Indonesia untuk Jadi Pangkalan Militernya
Rudal-rudal DF-26 China yang dijuluki sebagai rudal pembunuh kapal induk. Foto/Maritime Executive
A+ A-
WASHINGTON - Laporan Pentagon atau Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) mengatakan China melirik fasilitas militer di Indonesia dan banyak negara lainnya untuk dijadikan pangkalan militernya.

Menurut Pentagon, selain Indonesia, Beijing melirik fasilitas militer Pakistan, Myanmar,Thailand, Singapura, Uni Emirat Arab, Kenya, Seychelles, Tanzania, Angola, dan Tajikistan. Tujuan Beijing adalah untuk membangun jaringan logistik militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) global agar dapat mengganggu operasi militer AS.

"China sedang berusaha untuk menyiapkan logistik yang lebih kuat di sekitar selusin negara, termasuk tiga di lingkungan India, untuk memungkinkan tentaranya memproyeksikan dan mempertahankan kekuatannya pada jarak yang lebih jauh," bunyi laporan tersebut, yang dikutip dari Nikkei Asian Review, Kamis (3/9/2020). (Baca: China Sudah Ungguli AS dalam Jumlah AL, Rudal Darat dan Sistem Rudal Udara)

Dalam laporan tahunan Pentagon 2020 berjudul "Military and Security Developments Involving the People's Republic of China (PRC)" yang diserahkan ke Kongres AS pada hari Selasa, Pentagon mengatakan fasilitas logistik militer China yang potensial ini merupakan tambahan dari pangkalan militer China di Djibouti, yang ditujukan untuk mendukung proyeksi Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Angkatan Darat Beijing.

"Jaringan logistik militer PLA global dapat mengganggu operasi militer AS dan mendukung operasi ofensif terhadap Amerika Serikat ketika tujuan militer global RRC (Republik Rakyat China) berkembang," lanjut laporan Pentagon.



Pentagon menduga China telah membuat tawaran semacam itu ke Namibia, Vanuatu, dan Kepulauan Solomon, menambahkan area fokus yang diketahui dari perencanaan PLA berada di sepanjang Garis Komunikasi dari China ke Selat Hormuz, Afrika, dan Kepulauan Pasifik. (Baca: Media China Sentil Indonesia karena Menentang Klaim China di Laut China Selatan)

Demikian pula, sambung laporan Pentagon, Beijing menggunakan proyek One Belt One Road (OBOR) untuk mendukung strategi peremajaan nasionalnya dengan berupaya memperluas transportasi global dan hubungan perdagangan untuk mendukung perkembangannya dan memperdalam integrasi ekonominya dengan negara-negara di sepanjang pinggiran dan sekitarnya.

Pentagon mengatakan proyek OBOR yang terkait dengan jaringan pipa dan konstruksi pelabuhan di Pakistan bermaksud untuk mengurangi ketergantungan China pada pengangkutan sumber daya energi melalui titik-titik strategis, seperti Selat Malaka.

China memanfaatkan proyek OBOR untuk berinvestasi dalam proyek-proyek di sepanjang pinggiran barat dan selatan China untuk meningkatkan stabilitas dan mengurangi ancaman di sepanjang perbatasannya.

Pertama kali diumumkan pada tahun 2013, inisiatif proyek OBOR China adalah kebijakan luar negeri dan ekonomi yang dikedepankan oleh Presiden Xi Jinping.

"Negara tuan rumah dapat melakukan peran penting dalam mengatur operasi militer RRC karena para pejabat China sangat mungkin mengakui bahwa hubungan jangka panjang yang stabil dengan negara tuan rumah sangat penting bagi keberhasilan fasilitas logistik militer mereka," papar laporan Pentagon.



Pada Agustus 2017, China secara resmi membuka pangkalan militer pertamanya di Djibouti. Angkatan Laut China ditempatkan di pangkalan tersebut dengan kendaraan lapis baja dan artileri beroda tetapi saat ini bergantung pada pelabuhan komersial terdekat karena kurangnya dermaga di pangkalan. (Baca juga: Hebat! Pesawat Tempur F-16 TNI AU Bisa Tembak 4 Target Sekaligus Tanpa Melihat)

Laporan Pentagon menambahkan personel China di fasilitas itu telah mengganggu penerbangan AS dengan mengikat pilot dan drone terbang, dan China telah berusaha untuk membatasi wilayah udara kedaulatan Djibouti di atas pangkalan itu.
(min)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top