Kisah Yahya Assiri, Perwira AU Arab Saudi Berubah Jadi Oposisi yang Menentang Raja Salman

Selasa, 28 Januari 2025 - 14:42 WIB
loading...
Kisah Yahya Assiri,...
Yahya Assiri, Sekretaris Jenderal Partai Majelis Nasional (NAAS). NAAS adalah partai oposisi Arab Saudi yang menentang rezim kerajaan yang dipimpin Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud. Foto/MEE/Yahya Assiri
A A A
RIYADH - Yahya Assiri adalah Sekretaris Jenderal Partai Majelis Nasional (NAAS), sebuah partai oposisi Arab Saudi yang menentang rezim kerajaan yang dipimpin Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud.

Kerajaan Arab Saudi menganut sistem pemerintahan monarki absolut—yang sudah pasti melarang partai politik apa pun, apalagi partai oposisi. Untuk itu, Assiri menjalankan NAAS di London, Inggris, tempat dia mendapat suaka politik.

Kisah hidup Assiri menjadi oposisi yang menentang kerajaan bukanlah secara tiba-tiba. Dia dulunya adalah seorang perwira Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi dan berasal dari keluarga yang kaya.

Saat aktif sebagai perwira, dia menghabiskan waktu bertahun-tahun menjalani kehidupan ganda di Arab Saudi. Pada siang hari dia bekerja pada kesepakatan senjata internasional untuk militer Saudi, tetapi pada malam hari dia berada di forum daring untuk membahas masalah kemiskinan, pengangguran, dan penindasan di negaranya.

Baca Juga: Ketika Mohammed bin Salman Tabok Wahhabi untuk Tampilkan Citra Islam Arab Saudi yang Moderat

Itu adalah kehidupan yang berbahaya dan saat Assiri melihat para aktivis ditangkap di sekitarnya, dia tahu dirinya akan berakhir di penjara atau dipaksa melarikan diri—yang terakhir terbukti menjadi pilihan yang lebih menarik dan menuntunnya, istrinya, dan dua anak kecilnya ke rumah mereka saat ini di Birmingham.

Dia pernah menceritakan kisah hidupnya menjadi tokoh oposisi Arab Saudi saat mengunjungi kantor Middle East Eye (MEE) London.

Cerita dimulai dengan menjelaskan asal usul keluarganya. Assiri lahir pada tahun 1980 di provinsi Asir, sebuah wilayah di barat daya Arab Saudi tempat suku-suku asli dengan keras menentang penyatuan Arab Saudi pada abad ke-20 di bawah keluarga al-Saud yang bersekutu dengan Wahhabi.

Konflik antargenerasi merupakan pengalaman awal yang penting bagi Assiri muda.

“Nenek saya membenci rezim itu. Dia mengatakan mereka menduduki tanah tersebut dan Asir adalah tempat yang jauh lebih baik untuk ditinggali sebelum penyebaran Wahhabisme,” katanya, mengacu pada aliran Islam ultra-konservatif yang disukai oleh para penguasa Arab Saudi.

Namun, generasi ayahnya adalah generasi yang sangat diuntungkan dari kekayaan minyak yang disebarkan oleh keluarga kerajaan, yang berarti mereka memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang bagaimana negara itu diperintah.

“Generasi ayah saya percaya bahwa pemerintah membantu rakyat karena mereka telah diberi uang. Mereka [rakyat] tidak tahu dari mana uang ini berasal, tetapi itu membuat mereka memandang keluarga kerajaan dengan positif," katanya.

Pandangan yang bertentangan ini memaksa Assiri untuk mengajukan banyak pertanyaan. Di usia muda, pandangannya sebagian besar mencerminkan apa yang umum pada saat itu, bahwa ancaman terbesar yang dihadapi Arab Saudi adalah budaya Barat, yang akan menghancurkan budaya kerajaan jika dibiarkan menyebar.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pada usia 18 tahun, Assiri pindah ke Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, dan bergabung dengan Angkatan Udara Kerajaan dengan tujuan menjadi pilot.

“Menjadi pilot adalah impian saya sejak saya masih kecil,” katanya sambil tersenyum yang kemudian berubah menjadi ekspresi kecewa.

Setelah hanya 14 jam terbang, dia gagal dalam pelatihan dan diberi tahu bahwa dia tidak bisa menjadi pilot. Namun, alih-alih meninggalkan militer, dia berhasil melamar pekerjaan di bidang administrasi dan lulus dengan gelar di bidang logistik pada tahun 2004.

Pada titik ini, hak asasi manusia (HAM) dan politik jauh dari pikiran Assiri—keuntungan materi adalah satu-satunya keinginannya.

“Saya hanya berpikir untuk mendapatkan gaji yang baik dan posisi yang baik. Itu saja," ujarnya.

Langkah berikutnya dalam hidupnya terbukti penting. Assiri pindah ke Taif, sebuah kota di lereng Pegunungan Sarawat di provinsi Makkah, tempat dia mendengarkan masalah dari 300 orang yang bekerja di skuadronnya.

Sebagian besar koleganya memiliki pinjaman bank, katanya, dan pada akhir bulan tidak punya uang.

“Mereka mendatangi saya dan bertanya: Di mana uang kita? Mengapa keluarga kerajaan sangat, sangat kaya dan rakyat sangat, sangat miskin?”

Yahya menjelaskan bahwa 80 persen pria di skuadronnya, beberapa di antaranya telah bekerja selama 30 tahun, menyewa rumah karena tidak mampu membeli rumah sendiri.

Statistik resmi sulit diperoleh di kerajaan tersebut, tetapi kemarahan terhadap gaji yang dianggap rendah pecah pada bulan September 2013 di Twitter—sekarang bernama X—, ketika tanda pagar (tagar) “gaji tidak cukup” menarik jutaan tweet. Saat itu, kepemilikan rumah di Arab Saudi diperkirakan mencapai 25 persen dan pengangguran kaum muda dilaporkan mencapai 29 persen untuk kelompok usia 16-29 tahun.

Bagi Assiri, mendengarkan kesengsaraan rekan-rekannya dan menyaksikan kemiskinan di Taif, pada usia 24 tahun dia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan internal tentang masalah-masalah ini.

"Mengapa rakyat tidak memiliki suara? Mengapa keluarga kerajaan tidak mau berbagi? Mengapa kita tidak bisa mengungkapkan pendapat kita?" adalah pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan kepada dirinya sendiri.

"Saya hanya bisa memikirkan hal ini sendirian. Saya tahu jika saya membahas masalah-masalah ini dengan siapa pun, saya akan masuk penjara," paparnya.

Assiri menggambarkan dirinya sebagai orang yang sensitif, orang yang tidak bisa mengabaikan penderitaan di sekitarnya meskipun kehidupannya sendiri nyaman. Dia berkembang pesat di Angkatan Udara Kerajaan, naik jabatan menjadi perwira senior, yang berarti dia memperoleh banyak uang.

Mampu menahan keinginan untuk berbicara, perdebatan politik tetap berlangsung di dalam diri. Namun pada tahun 2004, saat menjelajahi internet suatu malam, Assiri menemukan serangkaian situs web dan forum berbahasa Arab tempat orang-orang berdebat tentang politik.

Kebangkitan Politik


Tanpa memikirkan risiko yang terlibat, dia membuat akun dengan nama samaran—Abu Fares, nama yang selalu disukainya, disertai foto singa sebagai avatarnya.

Forum-forum tersebut menjadi tempat baginya untuk mengeksplorasi identitas politiknya dan berdebat tentang politik dengan sesama warga Saudi. Dia mengekspresikan dirinya secara bebas untuk pertama kalinya—menulis artikel yang berfokus pada kemiskinan dan pengangguran.

“Sangat menyenangkan untuk mengungkapkan pendapat saya,” katanya, seraya menambahkan bahwa politik dalam negeri dan pendudukan Israel atas wilayah Palestina adalah isu terpenting baginya saat itu.

Tidak seorang pun tahu apa yang sedang dilakukannya, itu adalah bagian yang sepenuhnya rahasia dari hidupnya. Hal ini berakhir pada tahun 2005 ketika dia menikahi istrinya, Jamila, yang merupakan orang pertama yang menyadari kebangkitan politiknya yang terselubung.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Arab Saudi Kebut Pembangunan...
Arab Saudi Kebut Pembangunan Jeddah Tower 1.000 Meter, Gedung Tertinggi di Dunia Kalahkan Burj Khalifa
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, MBS: Semua untuk Kepentingan Bersama
Koridor Dagang Ankara...
Koridor Dagang Ankara dan Riyadh Buat Israel Ketar-ketir, Ini 3 Pemicunya
9 Tempat Paling Suci...
9 Tempat Paling Suci di Dunia, Nomor 5 Paling Populer bagi Orang Indonesia
Iran Serang Kuwait,...
Iran Serang Kuwait, Arab Saudi: Itu Jahat!
Imbas Perang Iran, Proyek...
Imbas Perang Iran, Proyek NEOM Arab Saudi Impian Mohammed bin Salman Jadi Berantakan
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang,...
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang, Golkar: Entah Apa yang Diseimbangkan, Nanti Rakyat yang Menilai
Jelang Penandatanganan...
Jelang Penandatanganan di Jenewa, AS Rahasiakan Nota Kesepahaman Iran dari Israel
Siap-Siap, Apple bakal...
Siap-Siap, Apple bakal Naikkan Harga iPhone Dkk Imbas Biaya Chip Melonjak
Rekomendasi
Hadiri Musprov POBSI...
Hadiri Musprov POBSI Sumut, Ketua Harian: Membangun Biliar Lebih Besar demi Hasilkan Atlet Terbaik 
Marc Marquez Juara MotoGP...
Marc Marquez Juara MotoGP Republik Ceko 2026
MNC University Perkuat...
MNC University Perkuat Kolaborasi dengan Sekolah Mitra melalui Pra-Rapat Kerja Tahun Ajaran 2026/2027
Berita Terkini
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
JD Vance: Iran dan AS...
JD Vance: Iran dan AS Bekerja Sama Mewujudkan Perdamaian dan Kemakmuran di Timur Tengah
Iran Gunakan Senjata...
Iran Gunakan Senjata Ampuh dalam Negosiasi di Swiss, Apa Itu?
Selain Ingin Perang...
Selain Ingin Perang di Lebanon Berakhir, Iran Klaim Tak Ingin Kembangkan Senjata Nuklir
Demi Wujudkan Perdamaian...
Demi Wujudkan Perdamaian dengan Iran, AS Terus Tekan Israel
Meski Menang dalam Negosiasi...
Meski Menang dalam Negosiasi dan Perang, Iran: Kita Selalu Hati-hati
Infografis
9 IAIN Berubah Jadi...
9 IAIN Berubah Jadi UIN, Ini Daftar 11 PTKN yang Beralih Status
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved