Gencatan Senjata Berakhir! Perang Houthi dan Arab Saudi Bisa Pecah Kapan Saja
Selasa, 14 Juli 2026 - 01:10 WIB
loading...
Perang Houthi dan Arab Saudi bisa pecah kapan saja. Foto/X
A
A
A
SANAA - Gerakan Houthi yang menguasai Sana'a di Yaman mengutuk serangan Arab Saudi terhadap Bandara Internasional Sana'a. Mereka mengatakan bahwa serangan tersebut menandai berakhirnya gencatan senjata dan dimulainya fase perang baru.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, Houthi menyatakan bahwa Yaman akan memasuki tahap baru untuk sepenuhnya merebut kembali hak-haknya, memperingatkan bahwa Arab Saudi akan menemukan dirinya dalam kebuntuan strategis utama dan akan menanggung biaya tinggi atas agresinya.
Melansir Press TV, secara terpisah, juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman yang dikuasai Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyatakan bahwa "agresi Saudi tidak akan dibiarkan tanpa hukuman," menambahkan, "Musuh Saudi telah mengakhiri fase de-eskalasi, dan harus bertanggung jawab atas semua konsekuensi potensial."
Kementerian Transportasi Yaman mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa “pemboman bandara Sana’a oleh Arab Saudi dan pelanggaran wilayah udara Yaman menandakan desakan rezim Riyadh, dengan dorongan Amerika dan Zionis, untuk melanjutkan pengepungan.”
Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, Houthi menyatakan bahwa Yaman akan memasuki tahap baru untuk sepenuhnya merebut kembali hak-haknya, memperingatkan bahwa Arab Saudi akan menemukan dirinya dalam kebuntuan strategis utama dan akan menanggung biaya tinggi atas agresinya.
Melansir Press TV, secara terpisah, juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman yang dikuasai Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyatakan bahwa "agresi Saudi tidak akan dibiarkan tanpa hukuman," menambahkan, "Musuh Saudi telah mengakhiri fase de-eskalasi, dan harus bertanggung jawab atas semua konsekuensi potensial."
Kementerian Transportasi Yaman mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa “pemboman bandara Sana’a oleh Arab Saudi dan pelanggaran wilayah udara Yaman menandakan desakan rezim Riyadh, dengan dorongan Amerika dan Zionis, untuk melanjutkan pengepungan.”
Lihat Juga :