Sejumlah Negara Khawatirkan Praktik Spionase di Balik Program Inovasi China

Sabtu, 11 Januari 2025 - 10:42 WIB
loading...
Sejumlah Negara Khawatirkan...
Sejumlah negara khawatirkan praktik spionase di balik program inovasi China. Foto/encity
A A A
JAKARTA - Sejumlah program inovasi China telah memicu kekhawatiran banyak pihak, yang khawatir bahwa hal tersebut hanya merupakan kedok dari spionase berskala besar.

Mengutip dari European Times, Sabtu (11/1/2025), ambisi China untuk menjadi pemimpin global dalam teknologi dan inovasi ini telah menghasilkan pembentukan jaringan canggih basis-basis inovasi di luar negara mereka (offshore).

Basis-basis ini, yang diluncurkan China sebagai bagian dari strategi "peremajaan nasional" negara yang lebih luas, berfungsi sebagai pusat dalam memperoleh teknologi canggih, mengembangkan bakat, dan mempercepat pembangunan ekonomi. Namun, kekhawatiran telah berkembang atas sifat penggunaan gandanya, dengan dugaan adanya praktik spionase korporat dan teknologi.

Baca Juga: Jepang Tingkatkan Kewaspadaan terhadap Militer China yang Semakin Agresif

Basis Inovasi Offsphore: Sebuah Inisiatif Strategis


Sejak 2015, Republik Rakyat China telah secara aktif mengembangkan "basis inovasi dan kewirausahaan offshore bagi bakat luar negeri."

Hingga 2024, terdapat 30 basis semacam itu yang berlokasi strategis di dalam zona pengembangan teknologi tinggi di seluruh China. Pangkalan-pangkalan ini dirancang untuk bekerja sama dengan universitas-universitas global terkemuka, lembaga-lembaga penelitian, dan perusahaan-perusahaan multinasional, yang memposisikan China sebagai pusat kemajuan teknologi.

Contoh-contoh penting termasuk Taman Industri Suzhou dan pusat-pusat inovasi Beijing, yang bertujuan untuk menarik keahlian internasional dan mentransfer teknologi mutakhir.

Lewat pembinaan kemitraan dengan lembaga-lembaga akademis dan perusahaan-perusahaan teknologi tinggi, basis-basis ini tidak hanya meningkatkan ekonomi lokal, tetapi juga berkontribusi pada tujuan China untuk mengurangi ketergantungannya pada teknologi asing.

Memanfaatkan Universitas dan Program Pertukaran


Inti dari strategi inovasi China adalah penggunaan program-program pertukaran akademis dan budaya untuk menarik mahasiswa dan peneliti internasional ke ekosistem inovasinya.

Baca Juga: Taiwan Tuding Kapal China Dalang Kerusakan Kabel Internet Bawah Laut

Melalui inisiatif-inisiatif seperti Rencana Seribu Bakat dan Institut-Institut Konfusius, China telah berhasil merekrut ribuan ilmuwan, insinyur, dan teknokrat untuk berkontribusi pada tujuan-tujuan penelitian dan pengembangannya.

Namun, program-program ini juga menuai kritik dan pengawasan dari negara-negara Barat. Laporan-laporan menunjukkan bahwa beberapa mahasiswa dan peneliti terkait inisiatif-inisiatif ini telah terlibat dalam pencurian kekayaan intelektual dan transfer-transfer teknologi yang tidak sah.

Investigasi Senat Amerika Serikat (AS) pada tahun 2019 mengungkapkan bahwa para peneliti China yang berpartisipasi dalam program bakat diharuskan menandatangani perjanjian untuk memprioritaskan kepentingan China dan berbagi penemuan ilmiah apa pun yang dibuat selama bekerja di luar negeri.

Spionase Perusahaan dan Pencurian Kekayaan Intelektual


Basis inovasi offshore China dan program bakat terkait telah terlibat dalam kasus spionase perusahaan. Pihak berwenang di negara-negara seperti AS dan Australia telah mengungkap kasus-kasus di mana mahasiswa China atau cendekiawan tamu diduga mengakses data perusahaan yang sensitif dan penelitian lanjutan dengan kedok kolaborasi yang sah.

Dalam beberapa kasus, perusahaan multinasional yang bermitra dengan basis inovasi China telah melaporkan duplikasi teknologi hak milik yang tidak sah. Aktivitas ini sering kali dikaitkan dengan upaya spionase yang disponsori negara yang bertujuan untuk memperkuat keunggulan kompetitif China di sektor-sektor penting seperti kecerdasan buatan (AI), bioteknologi, dan kedirgantaraan.

Kekhawatiran Internasional yang Meningkat


Sifat penggunaan ganda dari strategi inovasi China—menggabungkan kemajuan teknologi yang sah dengan pengumpulan intelijen rahasia—telah memicu kekhawatiran di antara negara-negara Barat.

Sejumlah pemerintahan telah memperketat regulasi tentang kolaborasi akademis dan teknologi dengan entitas China, dan menerapkan penyaringan yang lebih ketat terhadap mahasiswa asing di bidang-bidang sensitif seperti teknik dan komputasi kuantum.

Menyeimbangkan Peluang dan Risiko


Meski basis inovasi offshore China berkontribusi pada perkembangan teknologi dan ekonominya, keterkaitannya dengan spionase dan pencurian kekayaan intelektual menyoroti perlunya kewaspadaan. Saat negara-negara menavigasi kompleksitas globalisasi dan inovasi, menyeimbangkan kolaborasi terbuka dengan menjaga keamanan nasional tetap menjadi tantangan penting.

Strategi China, yang memadukan inovasi dengan taktik tersembunyi, menggambarkan garis samar dalam geopolitik modern, di mana ambisi ekonomi dan kenegaraan sering kali bersinggungan dengan cara yang rumit dan kontroversial. Dunia akan terus mengamati dengan saksama saat China memperluas jejak teknologinya dan membentuk kembali lanskap inovasi global.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Gempa Dahsyat Venezuela:...
Gempa Dahsyat Venezuela: 3 Tewas Tertimpa Reruntuhan, Pemerintah Tetapkan Status Darurat
Status Triliuner Elon...
Status Triliuner Elon Musk Hilang usai Saham SpaceX dan Tesla Anjlok
Rekomendasi
BPDP Unjuk Gigi Tampilkan...
BPDP Unjuk Gigi Tampilkan Produk Turunan Kakao EastFood Indonesia 2026
Kemlu Ungkap 2 WNI Awak...
Kemlu Ungkap 2 WNI Awak Kapal Ikan Hilang di Perairan Busan Korsel
Ketum IPSI Sambut Komitmen...
Ketum IPSI Sambut Komitmen Presiden Prabowo soal Pelatnas Jangka Panjang, Optimistis Pencak Silat Mendunia
Berita Terkini
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved