Siapa Kemi Badenoch? Pemimpin Kulit Hitam Pertama Pimpin Partai Konservatif Inggris
loading...
A
A
A
Sebagai menteri kabinet yang bertanggung jawab atas perempuan dan kesetaraan, ia mempelopori pemblokiran RUU Reformasi Pengakuan Gender Skotlandia oleh pemerintah Inggris.
Badenoch juga tidak menghindar dari bentrokan publik dengan anggota parlemen di pihaknya sendiri - termasuk ketika ia menolak seruan untuk melarang diskriminasi terhadap orang yang sedang mengalami menopause.
Saat tampil di hadapan komite DPR, ia mengatakan kepada ketua Caroline Nokes bahwa "banyak orang" ingin menggunakan hukum kesetaraan sebagai "alat untuk berbagai agenda dan kepentingan pribadi".
Selama kampanye kepemimpinannya, Badenoch telah berbicara tentang Konservatisme yang "dalam krisis" - diserang oleh "ideologi progresif" baru yang melibatkan "politik identitas" (politik yang didasarkan pada identitas tertentu seperti ras, agama, atau gender), intervensi negara yang terus-menerus, dan "gagasan bahwa birokrat membuat keputusan yang lebih baik daripada individu" atau politisi terpilih.
Meskipun Partai Konservatif telah berkuasa selama 14 tahun, ia berpendapat bahwa peningkatan peraturan pemerintah dan belanja publik telah melumpuhkan pertumbuhan ekonomi dan memecah belah negara.
Ia menolak seruan Robert Jenrick agar kebijakan partai utama diselesaikan sekarang, dengan mengatakan bahwa "sistem Inggris rusak" dan perlu diatur ulang.
Partai Konservatif, tambahnya, perlu kembali ke nilai-nilai intinya dan membuat kebijakan baru yang mengakui realitas ini.
6. Tidak Menyukai Pertengkaran Politik
Badenoch juga tidak menghindar dari bentrokan publik dengan anggota parlemen di pihaknya sendiri - termasuk ketika ia menolak seruan untuk melarang diskriminasi terhadap orang yang sedang mengalami menopause.
Saat tampil di hadapan komite DPR, ia mengatakan kepada ketua Caroline Nokes bahwa "banyak orang" ingin menggunakan hukum kesetaraan sebagai "alat untuk berbagai agenda dan kepentingan pribadi".
Selama kampanye kepemimpinannya, Badenoch telah berbicara tentang Konservatisme yang "dalam krisis" - diserang oleh "ideologi progresif" baru yang melibatkan "politik identitas" (politik yang didasarkan pada identitas tertentu seperti ras, agama, atau gender), intervensi negara yang terus-menerus, dan "gagasan bahwa birokrat membuat keputusan yang lebih baik daripada individu" atau politisi terpilih.
Meskipun Partai Konservatif telah berkuasa selama 14 tahun, ia berpendapat bahwa peningkatan peraturan pemerintah dan belanja publik telah melumpuhkan pertumbuhan ekonomi dan memecah belah negara.
Ia menolak seruan Robert Jenrick agar kebijakan partai utama diselesaikan sekarang, dengan mengatakan bahwa "sistem Inggris rusak" dan perlu diatur ulang.
Partai Konservatif, tambahnya, perlu kembali ke nilai-nilai intinya dan membuat kebijakan baru yang mengakui realitas ini.
(ahm)