alexametrics

Pasukan Kerahkan Anjing Polisi, Demonstran Irak Bawa Singa

loading...
Pasukan Kerahkan Anjing Polisi, Demonstran Irak Bawa Singa
Seekor singa dibawa demonstran di Irak setelah pasukan keamanan mengerahkan anjing-anjing polisi. Foto/The Week
A+ A-
BAGHDAD - Seorang demonstran di Irak membawa seekor singa di jalan-jalan tempat protes berlangsung. Aksi itu sebagai tandingan setelah pasukan keamanan mengintervensi protes dengan mengerahkan anjing-anjing polisi.

Dalam video yang viral di media sosial, seekor singa yang dibawa pengunjuk rasa dikenakan bendera Irak yang dililitkan di tubuhnya. Satwa itu muncul dengan pawangnya. Belum jelas di mana video demomnstran membawa singa itu diambil dan kapan kejadiannya.

Singa saat ini bukan lagi satwa asli Irak. Menurut Sudipta Mitra, penulis Gir Forest and the Saga of the Asiatic Lion, singa terakhir yang hidup di negara itu telah dibunuh pada tahun 1918 di wilayah Tigris.



Protes yang intens telah berlangsung di Irak sejak Oktober, ketika jutaan orang turun ke jalan untuk memprotes korupsi, pengangguran dan negara yang gagal. Ratusan orang terbunuh ketika pemerintah merespons dengan kekuatan mematikan, menembakkan peluru dan gas air mata ke pengunjuk rasa, serta mematikan akses internet di seluruh negeri.

Para pengunjuk rasa menuntut reformasi pemilu, termasuk amandemen konstitusi dan undang-undang infrastruktur. Sebagai tanggapan, parlemen Irak menerima rancangan undang-undang pemilu yang baru minggu ini, meskipun belum diperdebatkan.

Pada 31 Oktober, Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi, mengatakan bahwa ia akan mengundurkan diri dari jabatannya dan mengadakan pemilu parlemen dalam waktu cepat. Menurutnya, dia akan mundur hanya jika anggota parlemen menemukan pengganti yang cocok untuk sementara.

Pada hari Jumat (15/11/2019), ulama terkemuka Irak, Ayatollah Ali Sistani, ikut membela demonstran dan mengecam pemerintah. Menurutnya, negara itu tidak akan pernah sama lagi setelah protes besar ini.

"Jika mereka yang berkuasa berpikir bahwa mereka dapat menghindari manfaat dari reformasi nyata dengan menunda dan menunda, itu adalah delusi," katanya seperti dikutip dari AFP, Sabtu (16/11/2019).

Sistani mengatakan bahwa tuntutan pemrotes adalah sah dan bahwa protes adalah satu-satunya cara terhormat untuk mencari perubahan.
(mas)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak