ISW: China Dapat Kuasai Kepulauan Kinmen di Taiwan dalam 6 Bulan

Selasa, 10 September 2024 - 12:35 WIB
loading...
ISW: China Dapat Kuasai...
Riset ISW memperingatkan bahwa China dapat menguasai Kepulauan Kinmen di Taiwan dalam enam bulan ke depan. Foto/PLA Navy
A A A
TAIPEI - China dapat menguasai Kepulauan Kinmen di lepas pantai Taiwan dalam waktu enam bulan ke depan, dengan keyakinan bahwa Amerika Serikat (AS) tidak akan mengambil tindakan keras terhadap agresi Beijing.

Penilaian itu merupakan analisis terbaru dari kelompok penelitian nirlaba dan lembaga think tank AS, Institute for the Study of War (ISW).

Para peneliti dari ISW dan American Enterprise Institute—lembaga think tank sayap kanan-tengah yang berpusat di Washington—memperingatkan bahwa pemimpin Partai Komunis China (CCP) Xi Jinping mungkin percaya bahwa dia memiliki “kesempatan unik" selama beberapa bulan mendatang untuk melakukan kampanye pemaksaan yang tidak memerlukan perang terhadap Kepulauan Kinmen, mengingat lanskap politik di Taiwan dan AS.

"Di Amerika Serikat, Presiden Joe Biden sedang dalam masa jeda setelah mengumumkan pengunduran dirinya dari pemilihan umum 2024. Lanskap politik dalam negeri AS bergejolak dan memecah belah di tengah pemilihan umum yang sedang berlangsung, lembaga kebijakan luar negeri disibukkan dengan perang yang sedang berlangsung di Ukraina dan Gaza, dan penduduk AS tidak begitu menginginkan lebih banyak perang,” tulis para peneliti dalam laporan mereka yang dipublikasikan pada 21 Agustus.

Baca Juga: China Berpotensi Invasi Taiwan, CSIS Proyeksikan Skenario yang Mungkin Terjadi

“Xi (Jinping) mungkin meyakini faktor-faktor ini akan menghalangi tanggapan AS yang tepat waktu dan tegas terhadap kampanye Kinmen-nya sebelum pelantikan presiden baru AS pada Januari 2025,” imbuh laporan itu, yang dikutip The Singapore Post, Selasa (10/9/2024).

Laporan ISW telah diterbitkan di tengah meningkatnya ketegangan antara Beijing dan Taipei, menyusul Lai Ching-te dilantik sebagai presiden Taiwan pada Mei.

Gangguan di Selat Taiwan


Coast Guard Taiwan mengatakan kapal patrolinya mengusir 835 kapal China dari perairan yang dikuasai Taiwan dari Januari hingga 25 Juni, yang mendorong menteri pertahanan pulau itu, Wellington Woo, untuk memperingatkan bahwa China sedang mencoba membangun norma baru di sekitar perairan Kinmen, menurut laporan The Epoch Times.

Pada bulan Juli, ketegangan di Selat Taiwan meningkat setelah pasukan Coast Guard China menaiki dan menyita kapal penangkap ikan Taiwan yang berada di perairan China sekitar 17,5 mil laut dari perairan Kepulauan Kinmen yang dikuasai Taiwan.

Mengenai dinamika politik Taiwan saat ini, para peneliti ISW mengatakan bahwa pemerintahan Lai "masih relatif belum berpengalaman" dan Partai Progresif Demokratik (DDP) yang berkuasa di Taiwan harus menghadapi "pertempuran politik yang sering terjadi" dengan koalisi oposisi Kuomintang (KMT) dan Partai Rakyat Taiwan (TPP), yang disebut "berusaha menghalangi agenda DPP" untuk menghentikan ekspansi otoriter.

Baca Juga: China Tunda Perundingan Senjata Nuklir dengan AS, Protes soal Taiwan

Akibatnya, para peneliti berpendapat bahwa baik AS maupun Taiwan kemungkinan besar tidak akan menanggapi dengan cara efektif atau eskalatif jika China memutuskan bergerak melawan Kepulauan Kinmen.

“Republik Rakyat China mulai secara agresif menantang yurisdiksi Taiwan atas pulau-pulau terpencilnya, khususnya Kinmen, pada Februari 2024. Serangan berulang Coast Guard China di perairan yang dikuasai Taiwan di sekitar Kinmen bertujuan untuk menormalkan yurisdiksi ‘penegakan hukum’ China di wilayah tersebut,” lanjut laporan ISW.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Senator Amerika Geram...
Senator Amerika Geram dengan Kesepakatan AS dan Iran: 'Juju Saja, Kita Menyerah'
Militer AS Telah Cabut...
Militer AS Telah Cabut Blokade Iran atas Perintah Trump
Mojtaba Khamenei: Iran...
Mojtaba Khamenei: Iran dan AS Capai Kesepakatan karena Trump Putus Asa
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, Wapres Amerika Berbalik Kecam Israel
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Swiss Gelar Referendum...
Swiss Gelar Referendum untuk Batasi Populasi hingga 10 Juta Jiwa
Pulau Antartika Australia...
Pulau Antartika Australia Diserang Flu Burung, Ribuan Anak Anjing Laut Mati!
Rekomendasi
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
7.000 Massa Gelar Unjuk...
7.000 Massa Gelar Unjuk Rasa Dukung Pemerintahan Prabowo di Silang Monas
Ditangkap Polda Metro...
Ditangkap Polda Metro Jaya, Dokter Tifa: Tepat saat Saya Menghadap Ujian S3
Berita Terkini
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Senator Amerika Geram...
Senator Amerika Geram dengan Kesepakatan AS dan Iran: 'Juju Saja, Kita Menyerah'
Militer AS Telah Cabut...
Militer AS Telah Cabut Blokade Iran atas Perintah Trump
Infografis
Menelusuri Jejak 6 Kartel...
Menelusuri Jejak 6 Kartel Paling Kejam dalam Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved