alexametrics

Pesan Getir Gadis 12 Tahun Diperkosa 30 Pria selama 2 Tahun

loading...
Pesan Getir Gadis 12 Tahun Diperkosa 30 Pria selama 2 Tahun
Ilustrasi anak kecil korban kekerasan asusila. Foto/SINDOnews
A+ A-
MALAPPURAM - Seorang gadis pelajar 12 tahun di India meninggalkan pesan getir di pintu kayu rumahnya sebeluma dia dibawa pergi konselor sekolah ke rumah penampungan hari Sabtu pekan lalu. Pesan tertulis "Sory Amma (Maaf Ibu)" ditinggalkan gadis itu setelah mengaku telaah diperkosa sekitar 30 pria selama dua tahun terakhir.

Penderitaan itu diduga terjadi di rumah tersebut di distrik Malappuram, Kerala, India. Pesan untuk ibunya itu sebagai penyesalan bahwa dia tidak bisa lagi mengumpulkan uang untuk keluarganya dengan memuaskan nafsu para pria.

Penganiayaan dimulai ketika anak itu baru berusia 10 tahun, tetapi kasus baru terungkap setelah siswa kelas VII itu menghadiri sesi konseling di sekolahnya, 500 meter dari rumah sewaan keluarganya, pekan lalu.



Konselor yang mendengar cerita gadis itu mengatakan kepada Times of India, Kamis (26/9/2019), bahwa dia terkejut anak itu telah menderita begitu banyak trauma. Namun, korban justru merasa bersalah karena tidak dapat lagi berkontribusi pada keuangan keluarga.

"Dia mulai menangis ketika ditanya tentang apa yang sedang terjadi di rumah. Dia mengatakan keluarganya, termasuk seorang nenek yang sakit, sangat membutuhkan uang dan bahwa mereka tidak mampu membayar sewa. Dia khawatir keluarga itu akan berada dalam krisis keuangan yang lebih parah dalam jika ayahnya ditahan," kata konselor yang bekerja di bawah departemen pendidikan publik Kerala.

"Gadis itu bahkan tampaknya tidak menyadari bahwa dia dilecehkan," ujar konselor yang tak disebutkan namanya.

Korban mengatakan kepada konselor bahwa dia pertama kali diperkosa oleh teman ayahnya yang memberi uang kepada keluarga dan kemudian ada banyak pria lainnya. "Orang ketiga, yang tidak pernah dijumpai gadis itu, mengumpulkan uang dari para lelaki yang melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Ayah gadis itu menganggur dan tampaknya dia pertama kali memaksa sang ibu melakukan pelacuran," katanya.

Pengakuan memilukan gadis itu telah dicatat di hadapan hakim pengadilan pada hari Minggu. Pejabat polisi Tirurangadi, Noushad Ibrahim, mengatakan bahwa pemeriksaan medis telah mengonfirmasi bahwa dia benar-benar telah diperkosa.

Tiga orang, termasuk ayah gadis itu, ditangkap pada Minggu malam. Sementara dua pria telah dijerat dengan Undang-Undang POCSO dan Pasal 354 (pelecehan seksual) serta Pasal 376 (pemerkosaan) Hukum Pidana India. Ayah korban dijerat dengan Undang-Undang Peradilan Anak.

Wakil kepala pengawas polisi (Malappuram) P P Shamsu mengatakan pencarian untuk para tersangka lainnya sedang berlangsung.

Beberapa warga di lingkungan yang ramai—tempat keluarga itu menetap sejak lima tahun lalu—sadar bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di rumah itu. Namun, mereka memilih mengabaikannya.

"Kami sering mendengar gadis kecil itu menangis dan berteriak di malam hari. Kami melihat lelaki datang ke rumah," kata seorang wanita berusia 47 tahun. "Kami tidak ingin mencampuri urusan keluarga mereka. Kami harus melindungi anak perempuan kami," katanya lagi.

Di sekolah, teman sekelas gadis itu berkata bahwa dia menjaga dirinya sendiri dan ibunya menemaninya pergi dan pulang pergi sekolah. Sang ibu juga akan membawanya pulang selama jam istirahat, yang diduga takut bahwa korban akan bercerita dengan teman-temannya.

Kesehatan gadis itu mulai terganggu karena pelecehan yang hebat. Dia sering bolos sekolah, tetapi hal itu tidak diperhatikan pihak sekolah. Baru setelah salah satu tetangga mengeluh kepada otoritas sekolah bahwa ada sesuatu yang tidak beres di rumah gadis itu, korban dikirim untuk konseling di mana rincian kotor dari kasus itu muncul.

Ibu korban membantah tuduhan bahwa keluarga mengekspoloitasi korban. "Ini konspirasi. Saya ingin putri saya kembali," kata ibu korban yang tidak disebutkan namanya.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak