Peran Ayatollah Khamenei di Iran, Pimpinan Politik Sekaligus Ulama yang Sangat Dipatuhi
Kamis, 15 Agustus 2024 - 17:01 WIB
loading...
A
A
A
Ayatollah Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi pada tahun 1989 setelah kematian bapak pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Sejak itu, dia mempertahankan kendali kuat atas politik Iran dan angkatan bersenjatanya.
Ayatollah Khamenei juga secara konsisten mengambil sikap garis keras terhadap masalah-masalah eksternal, termasuk konfrontasi yang sedang berlangsung dengan Israel dan sekutunya Amerika Serikat.
Katika dirinya terpilih menjadi presiden di tahun 1981, Khamenei telah menentukan arah kepemimpinannya dengan bersumpah untuk membasmi "penyimpangan, liberalisme, dan kelompok kiri yang dipengaruhi Amerika".
Pada saat AS membunuh jenderal berpengaruh Iran Qasem Soleimani dalam serangan pesawat tak berawak di Irak pada Januari 2020, Ayatollah Khamenei menjanjikan "balas dendam yang hebat".
Dia menyebut serangan rudal balistik balasan Iran terhadap dua pangkalan Irak yang menampung pasukan AS merupakan “tamparan di wajah” bagi Amerika. Namun dia menekankan, “Aksi militer seperti ini tidak cukup.”
Pemimpin tertinggi juga berulang kali menyerukan penghapusan Negara Israel. Dia dilaporkan lebih menyukai ulama garis keras seperti Ebrahim Raisi yang baru meninggal pada Mei 2024 kemarin.
Ayatollah Khamenei juga secara konsisten mengambil sikap garis keras terhadap masalah-masalah eksternal, termasuk konfrontasi yang sedang berlangsung dengan Israel dan sekutunya Amerika Serikat.
Katika dirinya terpilih menjadi presiden di tahun 1981, Khamenei telah menentukan arah kepemimpinannya dengan bersumpah untuk membasmi "penyimpangan, liberalisme, dan kelompok kiri yang dipengaruhi Amerika".
Pada saat AS membunuh jenderal berpengaruh Iran Qasem Soleimani dalam serangan pesawat tak berawak di Irak pada Januari 2020, Ayatollah Khamenei menjanjikan "balas dendam yang hebat".
Dia menyebut serangan rudal balistik balasan Iran terhadap dua pangkalan Irak yang menampung pasukan AS merupakan “tamparan di wajah” bagi Amerika. Namun dia menekankan, “Aksi militer seperti ini tidak cukup.”
Pemimpin tertinggi juga berulang kali menyerukan penghapusan Negara Israel. Dia dilaporkan lebih menyukai ulama garis keras seperti Ebrahim Raisi yang baru meninggal pada Mei 2024 kemarin.
Lihat Juga :