5 Proksi Iran yang akan Membantai Israel Setelah Kematian Haniyeh
Senin, 05 Agustus 2024 - 16:30 WIB
loading...
A
A
A
Pada tahun 2020, Departemen Keuangan AS menuduh para pemimpin senior Hizbullah “menciptakan dan menerapkan agenda organisasi teroris yang menyebabkan destabilisasi dan kekerasan” terhadap kepentingan dan mitra AS di seluruh dunia.
Namun Hizbullah tetap mempertahankan pengaruh global dan tetap menjadi “salah satu tantangan keamanan nasional paling kritis,” menurut Marshall Billingslea, Asisten Menteri Pendanaan Teroris, pada tahun 2019.
Kataib Hizbullah adalah milisi Syiah yang dibentuk pada tahun 2007 di Irak. Kelompok ini dilatih serta dipersenjatai oleh Garda Revolusi Iran.
Pada tahun 2009, Departemen Luar Negeri AS menetapkan Kataib Hizbullah sebagai Organisasi Teroris Asing.
Departemen Keuangan AS memberikan sanksi kepada Sekretaris Jenderal Kataib Hizbullah Abu Mahdi al Muhandis, karena melakukan tindakan kekerasan terhadap pasukan Koalisi dan Pasukan Keamanan Irak.
Dengan dukungan Iran, Kataib Hezbollah melakukan serangan paling canggih dan efektif terhadap pasukan AS dan sekutu koalisi di Irak dari tahun 2007 hingga 2011 dan 2018 hingga 2020.
Pada tanggal 27 Desember 2019, mereka melancarkan serangan roket ke pangkalan militer K1 dekat Kirkuk yang membunuh seorang kontraktor sipil AS dan melukai empat anggota militer AS dan dua personel pasukan keamanan Irak.
Ansar Allah atau Houthi adalah gerakan Syiah Zaydi yang didirikan pada awal tahun 1990-an dan telah melawan pemerintah Yaman sejak tahun 2004.
Pada saat itu, Houthi yang dibantu Iran dan Hizbullah berhasil menggulingkan pemerintahan Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi pada tahun 2015.
Sejak saat itu golongan Syiah mulai menyebar luas di Yaman, ketimbang Sunni. Pemerintahan Trump dilaporkan mempertimbangkan menetapkan Houthi sebagai Organisasi Teroris Asing pada bulan November 2018 dan pada bulan September 2020 untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.
Pada saat perang Hamas dan Israel pecah di akhir 2023, Houthi jadi proksi Iran yang paling gencar melakukan serangan ke Israel.
Namun Hizbullah tetap mempertahankan pengaruh global dan tetap menjadi “salah satu tantangan keamanan nasional paling kritis,” menurut Marshall Billingslea, Asisten Menteri Pendanaan Teroris, pada tahun 2019.
2. Kataib Hizbullah Irak
Kataib Hizbullah adalah milisi Syiah yang dibentuk pada tahun 2007 di Irak. Kelompok ini dilatih serta dipersenjatai oleh Garda Revolusi Iran.
Pada tahun 2009, Departemen Luar Negeri AS menetapkan Kataib Hizbullah sebagai Organisasi Teroris Asing.
Departemen Keuangan AS memberikan sanksi kepada Sekretaris Jenderal Kataib Hizbullah Abu Mahdi al Muhandis, karena melakukan tindakan kekerasan terhadap pasukan Koalisi dan Pasukan Keamanan Irak.
Dengan dukungan Iran, Kataib Hezbollah melakukan serangan paling canggih dan efektif terhadap pasukan AS dan sekutu koalisi di Irak dari tahun 2007 hingga 2011 dan 2018 hingga 2020.
Pada tanggal 27 Desember 2019, mereka melancarkan serangan roket ke pangkalan militer K1 dekat Kirkuk yang membunuh seorang kontraktor sipil AS dan melukai empat anggota militer AS dan dua personel pasukan keamanan Irak.
3. Houthi Yaman
Ansar Allah atau Houthi adalah gerakan Syiah Zaydi yang didirikan pada awal tahun 1990-an dan telah melawan pemerintah Yaman sejak tahun 2004.
Pada saat itu, Houthi yang dibantu Iran dan Hizbullah berhasil menggulingkan pemerintahan Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi pada tahun 2015.
Sejak saat itu golongan Syiah mulai menyebar luas di Yaman, ketimbang Sunni. Pemerintahan Trump dilaporkan mempertimbangkan menetapkan Houthi sebagai Organisasi Teroris Asing pada bulan November 2018 dan pada bulan September 2020 untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.
Pada saat perang Hamas dan Israel pecah di akhir 2023, Houthi jadi proksi Iran yang paling gencar melakukan serangan ke Israel.
Lihat Juga :