alexametrics

Soal Ancaman Erdogan, Ini Kata Selandia Baru

loading...
Soal Ancaman Erdogan, Ini Kata Selandia Baru
Wakil Perdana Menteri Selandia Baru, Winston Peters mengatakan, Erdogan tidak mengetahui situasi sebenarnya di Selandia Baru. Foto/Kemlu RI
A+ A-
JAKARTA - Selandia Baru angkat bicara mengenai pernyataan yang dilontarkan oleh Presiden Turki, Tayyip Erdogan mengenai serangan teroris di kota Christcurch. Erdogan mendesak Selandia Baru untuk menerapkan kembali hukuman mati bagi Brenton Tarrant.

Wakil Perdana Menteri Selandia Baru, Winston Peters mengatakan, Erdogan tidak mengetahui situasi sebenarnya di Selandia Baru. Dia lalu mengatakan akan bertolak ke Turki untuk memberikan penjelasan langsung kepada Erdogan mengenai hal ini.

"Saya berpikir dia (Erdogan) tidak mengetahui bagaimana situasi yang sebenarnya di negara kami, bagaimana dan apa yang dapat kami lakukan," ucap Winston, saat melakukan pertemuan dengan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla di Jakarta pada Rabu (20/3).



Winston kemudian mengatakan, Erdogan ingin menginformasikan seluruh faktanya, namun pernyataan yang disampaikan oleh pemimpin Turki tersebut bertolak belakang dengan apa yang disampaikan sebelumnya. "Karenanya, kami akan pergi ke konferensi Islam dalam dua hari ke depan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di negara kami," ungkapnya.

Sebelumnya diwartakan, Erdogan membuat ancaman bahwa Turki akan membuat teroris tersebut membayar tindakannya jika Selandia Baru tidak melakukan apa yang dia serukan.

Dia mengatakan, Turki salah telah menghapuskan hukuman mati 15 tahun yang lalu, lalu menyebut Selandia Baru harus membuat aturan hukum sehingga tersangka serangan teroris di Christchurch dapat menghadapi hukuman mati.

“Jika parlemen Selandia Baru tidak membuat keputusan ini, saya akan terus berdebat dengan mereka terus-menerus. Tindakan yang perlu perlu diambil," ujarnya.
(esn)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak