alexametrics

Turki Tak Sudi Beli Rudal Patriot AS jika Harus Tinggalkan S-400 Rusia

loading...
Turki Tak Sudi Beli Rudal Patriot AS jika Harus Tinggalkan S-400 Rusia
Sistem pertahanan rudal S-400 Rusia. Foto/REUTERS/Sergei Karpukhin
A+ A-
ANKARA - Turki tidak akan membeli sistem rudal pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat (AS) jika syaratnya harus membatalkan kontrak pembelian sistem rudal S-400 Rusia. Sikap tegas Ankara ini disampaikan Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu.

"Kesepakatan S-400 telah diselesaikan. Kami dapat mencapai kesepakatan dengan AS tentang sistem Patriot, tetapi tidak jika akan ada (syarat) untuk meninggalkan S-400," katanya pada hari Kamis (10/1/2019) seperti dikutip NTV.

Media Ankara sebelumnya melaporkan bahwa kontrak yang diberikan oleh Amerika menyatakan sistem rudal Patriot hanya akan dikirim jika Ankara membatalkan pembelian S-400.



Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan 80 rudal Patriot dan 60 pencegat rudal PAC-3 bulan lalu. Cavusoglu mengonfirmasi bahwa Ankara menerima proposal resmi untuk membeli senjata pertahanan Amerika dan akan mempertimbangkan persyaratannya.

Tetapi, menteri itu memperingatkan bahwa Washington sama sekali tidak bisa ikut campur dalam perjanjian pembelian senjata oleh negaranya dengan mitra lain.

Kontrak kesepakatan pembelian sistem rudal pertahanan udara S-400 Rusia ditandatangani oleh Ankara dan Moskow tahun lalu setelah negosiasi panjang. Batch pertama S-400 dijadwalkan akan digunakan pada bulan Oktober.

Kesepakatan yang dibuat Moskow dan Ankara itu membuat Washington risau. Para pejabat di Washington gagal dalam upaya menghalangi sekutunya untuk berurusan dengan Moskow.Tahun lalu, Kongres mengesahkan undang-undang yang secara efektif mencegah pengiriman 100 pesawat jet tempur siluman F-35 yang dipesan Turki. Para anggota parlemen Amerika menyatakan akuisisi S-400 Rusia akan membahayakan jet tempur siluman termahal itu.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak