Cenderung Kembali ke Isolasionisme, China Tingkatkan Belanja Militer

Sabtu, 16 Maret 2024 - 11:56 WIB
loading...
Cenderung Kembali ke...
Pertemuan Kongres Rakyat Nasional (NPC) China. Cenderung kembali ke isolasionisme, China tingkatkan belanja militer. Foto/REUTERS
A A A
BEIJING - Pertemuan Kongres Rakyat Nasional (NPC) China baru-baru ini telah menimbulkan dampak buruk di komunitas global, dengan pesan yang jelas menandakan penyimpangan dari jalur liberalisasi dan keterbukaan menuju isolasionisme.

Di tengah diskusi mulai dari target pertumbuhan ekonomi hingga pengeluaran pertahanan dan kebijakan Taiwan, gaung kembalinya isolasionisme dan militerisasi bergema sepanjang pertemuan NPC.

Dengan diturunkannya target pertumbuhan ekonomi menjadi lima persen pada 2024, China tampaknya melepaskan upaya melakukan ekspansi ekonomi pesat demi melakukan pendekatan yang lebih terukur. Namun, perubahan ini dibarengi peningkatan besar dalam belanja pertahanan, yang meningkat sebesar 7,2 persen.

Mengutip dari Daily Mirror, Sabtu (16/3/2024), pendekatan ganda tersebut mencerminkan prioritas modernisasi militer dibandingkan pembangunan ekonomi, sehingga meningkatkan kekhawatiran mengenai dampak yang lebih luas terhadap stabilitas regional dan keamanan global.

Baca Juga: Bidik China, Parlemen Eropa Rancang UU Larangan Produk Kerja Paksa

Perekonomian China yang sempat terpuruk di masa pandemi Covid-19 cenderung gagal pulih ke level sebelumnya. Salah satu faktor utama yang menyebabkan situasi ini adalah pemberlakuan undang-undang ketat mengenai keamanan negara dan keamanan kerja yang menjadikan China tempat yang sulit bagi komunitas bisnis internasional untuk tinggal dan bekerja.

Alasan di balik kisah pertumbuhan spektakuler China di masa lalu adalah langkah untuk mengintegrasikan perekonomian China ke dalam tatanan ekonomi internasional. Namun kini, investasi asing langsung di China menurun. Laju pertumbuhan ekspor dan impor juga mengalami penurunan. China akan kembali ke masa isolasi. Hal ini lebih mirip dengan ciri-ciri masyarakat komunis yang bersifat fundamentalis.

Mengenai Taiwan, pendirian NPC tahun lalu adalah "untuk memajukan proses reunifikasi damai China." Tahun ini, sikap China jauh lebih keras dan seruannya adalah "bersikap tegas dalam memajukan upaya reunifikasi China."

Dengan demikian, kata kunci "damai" telah hilang dari proses reunifikasi seperti yang diharapkan China. Alasannya jelas. Cara reunifikasi damai yang direncanakan China adalah dengan mengancam penduduk Taiwan untuk memilih partai politik yang mendukung penyatuan wilayah pulau dengan daratan.

Peningkatan Belanja Militer


Harapan besar Beijing itu kini telah pupus. Dalam pemilu presiden terakhir di Taiwan, yang terjadi justru sebaliknya. Rakyat Taiwan telah memilih presiden yang tegas mempertahankan status quo keberadaan wilayah pulau yang independen.

Peningkatan belanja militer merupakan akibat wajar dari aspirasi Beijing untuk mengintegrasikan Taiwan dengan China secara paksa. Jika China mencoba menginvasi Taiwan seperti saat China menginvasi Tibet pada 1950, hal ini pasti akan menarik intervensi militer dari Amerika Serikat (AS) yang memiliki perjanjian dengan Taiwan untuk membantu negara tersebut dengan senjata dan amunisi jika terjadi invasi China. Namun peningkatan belanja pertahanan ini akan mengorbankan kesejahteraan rakyat China karena proses pembangunan ekonomi akan digagalkan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Langka, Kapal Perang...
Langka, Kapal Perang China Latihan Tembak di Dalam ZEE Jepang
China Perluas Pengaruh...
China Perluas Pengaruh di Kirgizstan, Warga Khawatir soal Kedaulatan
6 Negara dengan Sistem...
6 Negara dengan Sistem Pelayanan Kesehatan Terbaik di Dunia, 3 Ada di Asia
Filipina dan China Bentrok,...
Filipina dan China Bentrok, 1 Tentara Terluka
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
China Ungguli AS dalam...
China Ungguli AS dalam Popularitas Global, Xi Jinping Dianggap Lebih Positif daripada Trump
Mengancam Bumi, China...
Mengancam Bumi, China Siap Pindahkan Asteroid 2015 XF261
Korban Tewas Gempa Venezuela...
Korban Tewas Gempa Venezuela Meningkat Jadi 5.208 Orang, 16.740 Luka-Luka
Tegas! Wali Kota New...
Tegas! Wali Kota New York Zohran Mamdani: Netanyahu Penjahat Perang!
Rekomendasi
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital per Juni 2026 Capai Rp54,71 Triliun, Kripto Sumbang Rp2,09 T
Hari Anak Nasional 2026,...
Hari Anak Nasional 2026, Puspadaya Perkuat Sekolah Ramah Anak di Jakarta
Tak Hanya Rugi Rp3 Miliar,...
Tak Hanya Rugi Rp3 Miliar, Amanda Manopo Ngaku Diguna-guna oleh Mantan Karyawannya
Berita Terkini
AS Restui Arab Saudi...
AS Restui Arab Saudi Miliki Program Nuklir, Israel Ketakutan
Malaysia Tak Takut Ancaman...
Malaysia Tak Takut Ancaman AS, PM Anwar Ibrahim Tetap Akan Usir Seluruh Warga Israel
Viral, Beruang Besar...
Viral, Beruang Besar Ini Nangkring di Atas Tiang Listrik
Uang Senilai Rp185 Miliar...
Uang Senilai Rp185 Miliar dan 40 Kg Emas Disita, Lagi-lagi Terkait Korupsi Wakil Menteri
Daftar Teroris Indonesia...
Daftar Teroris Indonesia yang Pernah Diburu Interpol, Nomor 1 Buron Internasional Bertahun-tahun
Laut Merah Memanas,...
Laut Merah Memanas, Houthi Yaman Serang 2 Kapal Tanker Minyak Arab Saudi
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved