Macron ingin Crimea Direbut dari Rusia, Tegaskan Prancis Musuh Moskow

Sabtu, 16 Maret 2024 - 09:55 WIB
loading...
Macron ingin Crimea...
Presiden Prancis Emmanuel Macron. Foto/REUTERS
A A A
PARIS - Ukraina harus mendapatkan kembali kendali atas seluruh wilayah yang pernah dikuasainya, termasuk Semenanjung Crimea di Rusia, menurut Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Jika tidak, maka “perdamaian abadi” tidak akan mungkin terjadi, klaim dia.

Macron menyampaikan pernyataan tersebut pada Kamis dalam wawancara dengan lembaga penyiaran TF2 dan France 2, dan secara blak-blakan menggambarkan Rusia sebagai “musuh” Prancis.

Pada saat yang sama, dia menegaskan Paris tidak “melakukan perang terhadap Rusia” namun hanya “mendukung” Kiev dalam konflik tersebut.

“Tentu saja, saat ini Rusia adalah musuh. Rezim Kremlin adalah musuh,” tegas Macron.

Dia menjelaskan, “Kami melakukan segalanya agar hal ini dapat mengendalikan Rusia karena, secara sederhana, tidak akan ada perdamaian abadi jika tidak ada kedaulatan, kembalinya perbatasan Ukraina yang diakui secara internasional, termasuk Crimea.”

Pernyataan terbaru presiden Prancis tersebut mendapat sambutan dingin di Rusia, dengan juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan Macron tampaknya “tidak keberatan meningkatkan tingkat keterlibatannya” dalam permusuhan Rusia-Ukraina.

“Ya, jelas bahwa Rusia adalah musuh Prancis karena Prancis sudah terlibat dalam perang di Ukraina; mereka secara tidak langsung mengambil bagian dalam perang ini,” tegas Peskov kepada wartawan.

Baca juga: Rusia Kerahkan Senjata Pengubah Permainan dalam Perang Ukraina

Presiden Prancis telah mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang semakin agresif akhir-akhir ini, sejalan dengan pernyataan yang dibuatnya pada akhir bulan Februari, bahwa potensi pengerahan pasukan NATO ke Ukraina tidak dapat “dikecualikan.”

Pernyataan tersebut memicu gelombang penolakan dari sesama anggota blok pimpinan AS. Dalam wawancara terbaru ini, Macron menolak menjelaskan lebih lanjut mengenai masalah ini, dan mengklaim dia ingin mempertahankan “ambiguitas strategis” dan dia memiliki “alasan untuk tidak menjelaskan secara tepat.”

Pernyataan Macron menggemakan posisi yang berulang kali disuarakan para pemimpin tertinggi Ukraina, yang menyatakan tujuan merebut semua wilayah itu dari Rusia yang akhirnya dikuasai Kiev setelah runtuhnya Uni Soviet.

Crimea memisahkan diri dari Ukraina setelah kudeta Maidan tahun 2014 di Kiev, dan segera bergabung kembali dengan Rusia setelah referendum di seluruh semenanjung.

Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk juga muncul pada tahun tersebut, akibat kegagalan upaya pemerintah baru Kiev dalam menindas mereka dengan kekerasan sehingga mengakibatkan konflik selama bertahun-tahun di Donbass, Ukraina.

Kedua republik tersebut, serta wilayah Zaporozhye dan Kherson yang dulunya milik Ukraina, dimasukkan ke dalam Rusia pada akhir tahun 2022 setelah gagasan tersebut mendapat dukungan besar dari penduduk setempat dalam referendum yang diadakan secara terpisah di setiap wilayah.

Moskow telah berulang kali mengisyaratkan kedaulatannya atas Crimea dan wilayah Rusia lainnya tidak dapat dinegosiasikan dengan siapa pun.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
PM Kanada Akui G7 Tidak...
PM Kanada Akui G7 Tidak Lagi Kendalikan Dunia
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Inggris Akan Pasok Uranium...
Inggris Akan Pasok Uranium ke Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Rusia
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
Trump Sebut Kesepakatan...
Trump Sebut Kesepakatan Damai dengan Iran Akan Ditandatangani pada Minggu, Ini Respons Teheran
Trump Ingin Buru-Buru...
Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran, Tak Menunggu 19 Juni
Rekomendasi
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
Bukan Sekadar Healing,...
Bukan Sekadar Healing, Ini Tren Wisata Psikologis yang Sedang Berkembang di Indonesia
Korban Tewas Gempa Magnitudo...
Korban Tewas Gempa Magnitudo 6,7 di Sulteng Bertambah Jadi 3 Orang
Berita Terkini
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Trump Bilang Israel...
Trump Bilang Israel Tak Berhak Kritik Deal AS-Iran karena Dulu Ogah Bunuh Jenderal Soleimani
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Iran Nyatakan Menang...
Iran Nyatakan Menang Perang Melawan AS dan Israel
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Ada yang Hanya Rp427 Per Liter
Infografis
Takut Rusia, Negara-negara...
Takut Rusia, Negara-negara NATO Mundur dari Perjanjian Ranjau
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved