alexametrics

Survei Ipsos MORI, Mayoritas Masyarakat Dunia Pesimistis

loading...
Survei Ipsos MORI, Mayoritas Masyarakat Dunia Pesimistis
A+ A-
PARIS - Mayoritas masyarakat dunia pesimistis memandang lingkungan sekitar dan negaranya. Mereka terkesan berada dalam tekanan sehingga memandang berbagai isu sosial secara berlebihan bila dibandingkan dengan fakta yang ada. Kondisi ini terungkap berdasar hasil survei terbaru Ipsos MORI di 38 negara yang dilakukan akhir tahun lalu.

Survei bertema Perils of Perception atau Persepsi Mara Bahaya yang dirilis baru-baru ini dilakukan untuk mengukur tingkat optimisme masyarakat dunia dalam menatap tahun 2018. Di antara isu-isu yang menjadi indikator adalah persoalan terorisme, kriminalitas, dan pernikahan dini.

Di antara negara yang disurvei, warga Afrika Selatan adalah negara yang tingkat optimismenya paling rendah alias paling pesimistis. Masyarakat Indonesia juga masuk dalam golongan yang selalu berpikir negatif pada lingkungan dan negaranya karena masuk dalam 10 besar.

Brasil, Filipina, dan Peru secara berurutan berada di belakang Afrika Selatan. Adapun India mulai sedikit optimistis dan naik ke posisi kelima. Padahal tahun sebelumnya negeri yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi itu merupakan negara paling pesimistis.



Adapun Swedia, Norwegia, dan Denmark menjadi negara teroptimistis bila dibandingkan dengan 35 negara lainnya. Meski demikian ketiga negara Eropa itu tetap menyimpan kekhawatiran, khususnya terkait dengan terorisme.

Direktur Manajer Ipsos MORI, Bobby Duffy, mengatakan pola pikir tersebut disebabkan berbagai faktor. “Ada banyak alasan yang menimbulkannya, mulai dari rendahnya perhitungan dan proporsi, penyebaran informasi di media hingga mental instan atau suka berprasangka buruk,” ujar Duffy di laman resmi ipsos.com.

Duffy yang ahli melakukan studi sosial mengatakan, manusia merupakan makhluk yang mudah cemas. Buruknya, sebagian besar melakukannya secara berlebihan. Semakin sering manusia mengonsumsi informasi negatif, semakin rentan mereka berpikir negatif, terutama jika isu tersebut menakutkan atau mengancam nyawa.

“Otak manusia memproses informasi negatif berbeda dengan informasi lainnya. Informasi itu akan terus menempel dan memengaruhi bagaimana manusia memandang kenyataan,” kata Duffy.

“Manusia akan menjadi lebih cemas dari seharusnya terhadap bangsanya sendiri dan perubahan di lingkungannya,” sambungnya. Persepsi seperti itu, lanjut Duffy, akan memengaruhi keputusan masyarakat, apalagi jika informasi yang didapat dinilai lebih masuk akal.

Ketidakpastian informasi terkait hubungan antara vaksin dan autisme pada anak sehat telah menyebabkan orang tua menolak vaksin sekalipun pemerintah gencar melakukan sosialisasi. Pandangan masyarakat dunia terhadap negara lain juga kebanyakan keliru kendati tidak semuanya.

Amerika Serikat (AS) dan Rusia misalnya. Kedua negara itu distereotipkan senang bermabuk-mabukan. Namun kenyataannya berlainan. Pesta minum-minuman keras sebagian besar hanya terjadi di dunia hiburan. Para ahli menilai, tren pesimisme ini akan terus terjadi.

Apalagi saat ini informasi menyebar begitu luas melalui internet. Di Afrika, masyarakat berpandangan angka pembunuhan di lingkungannya sangat tinggi, padahal kenyataannya rendah. “Semuanya tidak seburuk dengan yang kita bayangkan,” ungkap Ipsos MORI.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak