Terungkap, AS Sempat Ketir-ketir Rusia Mengebom Nuklir Ukraina pada 2022

Minggu, 10 Maret 2024 - 08:30 WIB
loading...
A A A
Rusia pada saat itu kehilangan wilayah Ukraina yang diduduki. Namun para pejabat AS khawatir bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin melihatnya secara berbeda. Dia telah mengatakan kepada rakyat Rusia bahwa Kherson sekarang adalah bagian dari Rusia, dan karena itu, dia mungkin menganggap kerugian besar di sana sebagai ancaman langsung terhadap dirinya dan negara Rusia.

“Penilaian kami selama beberapa waktu adalah bahwa salah satu skenario di mana mereka akan mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir [termasuk] hal-hal seperti ancaman nyata terhadap negara Rusia, ancaman langsung terhadap wilayah Rusia,” kata pejabat senior pertama pemerintahan Biden.

Dalam penilaian seperti itu, Rusia dapat memandang serangan nuklir taktis sebagai pencegah hilangnya lebih lanjut wilayah yang dikuasai Rusia di Ukraina serta potensi serangan terhadap Rusia sendiri.

Operasi Bendera Palsu


Pada saat yang sama, mesin propaganda Rusia menyebarkan berita palsu baru tentang bom kotor Ukraina, yang dikhawatirkan oleh para pejabat AS dapat digunakan sebagai kedok untuk serangan nuklir Rusia.

Pada bulan Oktober 2022, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu melakukan serangkaian panggilan telepon dengan para pejabat pertahanan di AS, Inggris, Prancis, dan Turki, memberi tahu mereka bahwa Kremlin “prihatin dengan kemungkinan provokasi yang dilakukan Kyiv yang melibatkan penggunaan bom kotor.”

Pejabat AS dan negara Barat lainnya menolak peringatan Rusia. Meski begitu, duta besar Rusia untuk PBB menyampaikan surat langsung ke PBB merinci dugaan ancaman yang sama. Para pejabat Rusia menuduh Ukraina akan membuat dan meledakkan bom kotor terhadap pasukan Rusia dan kemudian menyalahkan Rusia atas serangan tersebut.

Para pejabat AS menolak peringatan Rusia namun mengkhawatirkan motivasi di balik peringatan tersebut. “Pesan publik Rusia tidak masuk akal mengenai potensi Ukraina menggunakan bom kotor, yang kami lihat tidak didasarkan pada kenyataan,” kata pejabat senior pertama pemerintahan Biden.

Yang lebih memprihatinkan bagi pejabat tersebut adalah bahwa pihak Rusia akan mengatakan hal-hal tersebut baik sebagai dalih bagi mereka untuk melakukan sesuatu yang gila atau sebagai kedok untuk sesuatu yang mereka sendiri ingin lakukan. “Jadi itu cukup mengkhawatirkan,” ujarnya.

Namun ada satu hal lagi yang mengangkat kekhawatiran tersebut ke tingkat yang lebih tinggi. Badan-badan intelijen Barat telah menerima informasi bahwa kini ada komunikasi di antara para pejabat Rusia yang secara eksplisit membahas serangan nuklir.

Seperti yang dijelaskan oleh pejabat senior pertama pemerintah Biden kepada Sciutto: “Terdapat indikasi bahwa kami menangkap melalui cara lain bahwa hal ini setidaknya merupakan sesuatu yang sedang didiskusikan oleh tingkat yang lebih rendah dalam sistem Rusia.”

Akses AS terhadap komunikasi internal Rusia telah terbukti mampu sebelumnya. Menjelang invasi Ukraina, AS telah menyadap komandan militer Rusia yang mendiskusikan persiapan invasi, komunikasi yang menjadi bagian dari penilaian intelijen AS, yang kemudian terbukti akurat, bahwa invasi akan segera terjadi.

“Penilaian ini bukanlah penilaian yang bersifat langsung dan hitam-putih,” kata pejabat seniorpertama pemerintah Biden. “Tetapi tingkat risiko tampaknya meningkat, melampaui tingkat risiko lainnya.”

Apakah AS Akan Mengetahuinya?


AS tidak pernah mendeteksi intelijen yang menunjukkan bahwa Rusia mengambil langkah-langkah untuk memobilisasi kekuatan nuklirnya untuk melakukan serangan semacam itu.

“Kami jelas menempatkan prioritas tinggi pada pelacakan dan setidaknya memiliki kemampuan untuk melacak pergerakan kekuatan nuklirnya,” kata lanjut pejabat senior tersebut.

“Dan kami tidak pernah melihat indikasi langkah apa pun yang kami perkirakan akan diambil oleh mereka jika mereka hendak menggunakan senjata nuklir.”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jerman Tuding China...
Jerman Tuding China Latih Pasukan Rusia, Beijing: Kita Tidak Memihak
Demi Moral, Turki Tolak...
Demi Moral, Turki Tolak Berlabuh Kapal Pesiar Pembawa 2.000 Penumpang LGBTQ
Kapal Pesiar Supermewah...
Kapal Pesiar Supermewah Diduga Milik Putin Muncul Dikawal Kapal Perang Rusia, Dibuntuti Pasukan NATO
Seruan Bunuh Trump Menggema...
Seruan 'Bunuh Trump' Menggema dalam Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
Rudal-rudal Rusia Hujani...
Rudal-rudal Rusia Hujani Ibu Kota Ukraina Jelang KTT NATO, 8 Orang Tewas
Setelah Bikin Marah...
Setelah Bikin Marah Kim Jong-un, Korut Sukes Tembakkan Rudal dari Kapal Perang 5.000 Ton
Pilot Amerika Serikat...
Pilot Amerika Serikat Korban Serangan KKB di Yahukimo Diduga Tewas Ditembak Jarak Dekat
Aksi Nekat Melamar di...
Aksi Nekat Melamar di Puncak Gedung Empire State, Pasangan Rusia Ditangkap
Kalahkan Australia di...
Kalahkan Australia di Piala Dunia, Pelatih Mesir: Ini untuk Rakyat Palestina!
Rekomendasi
BPJT dan Roatex Matangkan...
BPJT dan Roatex Matangkan Pra Uji Coba Sistem Tol Tanpa Setop
Prabowo: Indonesia-Singapura...
Prabowo: Indonesia-Singapura Sepakat Jaga Keamanan Selat Malaka
Tokopedia Sangkal PHK...
Tokopedia Sangkal PHK Massal Karyawan, Klaim Penataan Tenaga Kerja
Berita Terkini
10 Pemakaman Pemimpin...
10 Pemakaman Pemimpin Dunia yang Dihadiri Jutaan Rakyat, Rekor Khomeini Belum Terpecahkan
Jerman Tuding China...
Jerman Tuding China Latih Pasukan Rusia, Beijing: Kita Tidak Memihak
4 Alasan Wapres Filipina...
4 Alasan Wapres Filipina Sara Duterte Terancam Dimakzulkan, Konflik dengan Presiden hingga Terjerat Skandal Korupsi
Menhan Israel Ancam...
Menhan Israel Ancam Bunuh Para Pemimpin Iran Pengganti Khamenei
Demi Moral, Turki Tolak...
Demi Moral, Turki Tolak Berlabuh Kapal Pesiar Pembawa 2.000 Penumpang LGBTQ
Aliansi Pertahanan Australia-Fiji...
Aliansi Pertahanan Australia-Fiji Ditandatangani, China Uji Coba Rudal di Pasifik
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved