Houthi Kembali Serang Kapal Dagang Inggris di Laut Merah
Jum'at, 02 Februari 2024 - 19:30 WIB
loading...
A
A
A
“Kegiatan pelatihan militer dan peningkatan keterampilan sebagai bagian dari mobilisasi sangat penting dan akan diperluas ke berbagai wilayah di Yaman,” ujar pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi pada Kamis.
Dia menegaskan, tentara rakyat Houthi siap tempur dan berpengalaman dalam bidang operasi militer.
Kelompok Houthi, yang secara resmi disebut Ansar Allah memulai serangkaian pembajakan dan serangan kapal komersial yang ditargetkan menggunakan rudal dan drone sejak November 2023.
Mereka menyita atau menembaki lusinan kapal yang sebagian besar milik atau terikat dengan Israel.
Pada Desember, AS mengorganisir 'koalisi kemauan' Laut Merah yang dikenal sebagai Operasi Penjaga Kemakmuran, dengan Inggris, Denmark dan Yunani berjanji mengirim kapal perang, namun sekutu lainnya, termasuk Belanda, Norwegia, Australia dan Kanada hanya mengerahkan sedikit pelaut tanpa kapal.
Kekuatan angkatan laut utama NATO, yakni Prancis, Italia, dan Spanyol, menarik diri sepenuhnya demi mendukung koalisi Laut Merah yang dipimpin Uni Eropa (UE) yang diperkirakan akan terbentuk akhir bulan ini.
Pada Januari, setelah AS dan Inggris memulai serangkaian serangan udara dan rudal jelajah di wilayah Yaman yang dikuasai Houthi, pejuang membalas dengan upaya menyerang kapal perang koalisi pimpinan AS yang beroperasi di Laut Merah dan Teluk Aden.
Pada Selasa, satu rudal Houthi yang menargetkan kapal perusak USS Gravely dilaporkan datang dalam jarak kurang dari dua kilometer dari kapal tersebut sebelum dicegat sistem senjata jarak dekat (CIWS), salah satu garis pertahanan terakhir kapal perang tersebut.
Pada hari yang sama, kapal perusak USS Carney melaporkan menembak jatuh satu rudal Houthi dan tiga “drone Iran” di Teluk Aden.
Iran secara resmi membantah terlibat langsung dalam krisis tersebut.
CENTCOM, komando kombatan AS yang bertanggung jawab atas operasi di Timur Tengah, melaporkan pada Kamis bahwa pasukan Amerika telah menembak jatuh drone Houthi dan kendaraan permukaan yang tidak memiliki bahan peledak di Teluk Aden dan Laut Merah.
Dia menegaskan, tentara rakyat Houthi siap tempur dan berpengalaman dalam bidang operasi militer.
Blokade Houthi Hajar Perekonomian Barat
Kelompok Houthi, yang secara resmi disebut Ansar Allah memulai serangkaian pembajakan dan serangan kapal komersial yang ditargetkan menggunakan rudal dan drone sejak November 2023.
Mereka menyita atau menembaki lusinan kapal yang sebagian besar milik atau terikat dengan Israel.
Pada Desember, AS mengorganisir 'koalisi kemauan' Laut Merah yang dikenal sebagai Operasi Penjaga Kemakmuran, dengan Inggris, Denmark dan Yunani berjanji mengirim kapal perang, namun sekutu lainnya, termasuk Belanda, Norwegia, Australia dan Kanada hanya mengerahkan sedikit pelaut tanpa kapal.
Kekuatan angkatan laut utama NATO, yakni Prancis, Italia, dan Spanyol, menarik diri sepenuhnya demi mendukung koalisi Laut Merah yang dipimpin Uni Eropa (UE) yang diperkirakan akan terbentuk akhir bulan ini.
Pada Januari, setelah AS dan Inggris memulai serangkaian serangan udara dan rudal jelajah di wilayah Yaman yang dikuasai Houthi, pejuang membalas dengan upaya menyerang kapal perang koalisi pimpinan AS yang beroperasi di Laut Merah dan Teluk Aden.
Pada Selasa, satu rudal Houthi yang menargetkan kapal perusak USS Gravely dilaporkan datang dalam jarak kurang dari dua kilometer dari kapal tersebut sebelum dicegat sistem senjata jarak dekat (CIWS), salah satu garis pertahanan terakhir kapal perang tersebut.
Pada hari yang sama, kapal perusak USS Carney melaporkan menembak jatuh satu rudal Houthi dan tiga “drone Iran” di Teluk Aden.
Iran secara resmi membantah terlibat langsung dalam krisis tersebut.
CENTCOM, komando kombatan AS yang bertanggung jawab atas operasi di Timur Tengah, melaporkan pada Kamis bahwa pasukan Amerika telah menembak jatuh drone Houthi dan kendaraan permukaan yang tidak memiliki bahan peledak di Teluk Aden dan Laut Merah.
Lihat Juga :