4 Perlawanan Houthi atas Serangan AS dan Inggris ke Yaman

Sabtu, 13 Januari 2024 - 18:18 WIB
loading...
4 Perlawanan Houthi...
AS dan Inggris melancarkan serangan ke basis Houthi di Yaman. Foto/Reuters
A A A
SANAA - Serangan baru-baru ini terhadap kelompok Houthi Yaman sepertinya tidak akan mengakhiri ancaman yang mereka timbulkan terhadap pelayaran internasional. Itu dikarenakan kelompok didukung Iran telah bertahan selama bertahun-tahun dari pemboman udara besar-besaran yang dilakukan negara-negara Teluk.

Pasukan AS dan Inggris menargetkan hampir 30 lokasi dengan lebih dari 150 amunisi dalam semalam, menyerang infrastruktur drone, rudal dan radar yang digunakan pemberontak untuk berulang kali menyerang kapal dagang di Laut Merah dalam beberapa pekan terakhir.

Amerika Serikat masih memiliki opsi militer tambahan dan para pejabat tinggi telah memperingatkan tindakan lebih lanjut jika serangan terus berlanjut, namun perluasan kampanye udara di Yaman juga berisiko meningkatkan eskalasi dengan Iran, yang ingin dihindari oleh Washington.

Letnan Jenderal AS Douglas Sims mengatakan pada Jumat (12/1/2024) bahwa Houthi telah menembakkan rudal balistik anti-kapal sebagai tanggapan atas serangan tersebut, dan mengindikasikan bahwa ia mengantisipasi dampak yang lebih luas.

“Retorika Houthi cukup kuat dan cukup tinggi. Saya perkirakan mereka akan mencoba melakukan semacam pembalasan,” katanya, dilansir CNA.

5 Penyebab Serangan AS dan Inggris ke Yaman Tidak Akan Melemahkan Perjuangan Houthi

1. Houthi Akan Tetap Mengganggu Pelayaran di Laut Merah

4 Perlawanan Houthi atas Serangan AS dan Inggris ke Yaman

Foto/Reuters

Jon Alterman, direktur Program Timur Tengah di Pusat Studi Strategis dan Internasional, mengatakan menurutnya serangan baru-baru ini akan “mengurangi tetapi tidak mengakhiri ancaman Houthi terhadap pelayaran”.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prancis Larang Pejabat...
Prancis Larang Pejabat Israel Hadiri Pameran Senjata, Zionis Murka
Jadi Satu-satunya Negara...
Jadi Satu-satunya Negara Islam Berbom Nuklir, Mengapa Pakistan Tolak Akui Israel?
Israel dan Rusia Masuk...
Israel dan Rusia Masuk Blacklist PBB terkait Kekerasan Seksual dalam Konflik, Zionis Murka
Baru Diangkat, Panglima...
Baru Diangkat, Panglima Militer Baru Hamas Tewas Diserang Israel
Inilah Aktivis Australia...
Inilah Aktivis Australia yang Mengalami Pelecehan Seks oleh Pasukan Israel saat Misi GSF
Prancis Larang Masuk...
Prancis Larang Masuk Menteri Israel Ben-Gvir, Imbas Video Penyiksaan Aktivis Global Sumud Flotilla
6 WNI Relawan Global...
6 WNI Relawan Global Sumud Land Convoy yang Terhenti di Libya Dipulangkan Kemlu
Laporan Media: AS Tekan...
Laporan Media: AS Tekan Oman untuk Putuskan Hubungan dengan Iran
Anak-Anak Muda India...
Anak-Anak Muda India Muak dengan Pemerintah, Bentuk "Partai Kecoak"
Rekomendasi
Pulang Ibadah dari Tanah...
Pulang Ibadah dari Tanah Suci, Bolehkah Memakai Gelar Haji?
WhatsApp Menguji Fungsi...
WhatsApp Menguji Fungsi Fitur Lihat Sekali untuk Pesan
Imigrasi Semarang Bongkar...
Imigrasi Semarang Bongkar Praktik Love Scamming, Tangkap 4 WNA China
Berita Terkini
12,9 Juta Siswa Ikuti...
12,9 Juta Siswa Ikuti Ujian Gaokao untuk Masuk Universitas di China
Israel Bombardir Markas...
Israel Bombardir Markas Besar Hizbullah di Beirut
9 Tempat Paling Suci...
9 Tempat Paling Suci di Dunia, Nomor 5 Paling Populer bagi Orang Indonesia
6 Tradisi Teraneh di...
6 Tradisi Teraneh di Dunia, Salah Satunya Makan Abu Orang Mati
Mendagri Pakistan Sampaikan...
Mendagri Pakistan Sampaikan Surat Khusus untuk Mojtaba Khamenei
Partai Janta Kecoa Jadi...
Partai Janta Kecoa Jadi Inspirasi bagi Gen Z di Seluruh Dunia
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved