Kerap Menelan Korban Jiwa, Budaya Kerja '996' China Jadi Sorotan

Jum'at, 08 Desember 2023 - 11:19 WIB
loading...
A A A

Praktik Lembur Ilegal


Sistem hukum di China tidak sempurna; undang-undang ketenagakerjaan telah berlaku sejak tahun 1994, namun belum diperbaiki agar dapat beradaptasi dengan masyarakat saat ini. Ironisnya, di negara yang konon komunis, para pekerja masih lemah dan kurang memiliki kesadaran tentang bagaimana melindungi hak-hak dan kepentingan mereka melalui jalur hukum.

Pendiri Alibaba Jack Ma, yang dikenal sebagai orang terkaya di China, telah membuat heboh dengan dukungan vokalnya terhadap jadwal kerja “996” yang melelahkan.

China adalah rumah bagi beberapa perusahaan internet terbesar di dunia seperti Alibaba, Baidu dan Tencent. Laju pertumbuhan mereka telah membuat beberapa pengembang perangkat lunak dan pengusaha teknologi menjadi sangat kaya. Namun sifat budaya kerja yang tiada henti kini berdampak buruk pada pekerja teknologi yang menggerakkan sektor ini.

Kematian pekerja akibat jam kerja yang terlalu panjang telah menyebabkan tuntutan hukum di China, dan keputusan pengadilan tidak berlaku bagi perusahaan yang melakukan praktik tersebut.

Seorang pria bernama Zhang telah dipekerjakan sebuah perusahaan kurir dengan sistem kerja “996”. Zhang menolak bekerja lembur di luar ketentuan, dan kemudian dipecat. Panel arbitrase memerintahkan majikan untuk membayar Zhang kompensasi sebesar 8.000 yuan, setara dengan gaji satu bulan. Pengadilan tinggi menguatkan keputusan panel arbitrase, dengan mengatakan Zhang telah dipecat secara ilegal dan kebijakan kerja pemerintah melanggar hukum.

Ketidakpuasan terhadap jam kerja panjang terlihat ketika seorang wanita muda meninggal dunia setelah bekerja dalam jangka waktu yang sangat lama di sebuah perusahaan rintisan e-commerce di China. Karyawan perusahaan tersebut mengeluh bahwa mereka dipaksa bekerja selama 300 jam sebulan, jauh melebihi batas hukum.

Sebuah perusahaan jasa dan perusahaan media harus membayar kompensasi kepada kerabatnya ketika seorang pekerja bernama Li pingsan di kamar mandi kantor dan meninggal setelah shift malam selama 12 jam.

Rahasia kesuksesan ekonomi China dalam beberapa dekade terakhir terletak pada eksploitasi kejam terhadap pekerja yang membantu para pengusaha di sana melemahkan persaingan dari negara lain dengan menurunkan biaya tenaga kerja.

Namun hal ini juga merupakan praktik perdagangan yang tidak adil, karena perusahaan di negara lain, baik di AS, Eropa Barat, atau India, harus mematuhi undang-undang ketenagakerjaan. Mereka merasa sulit untuk bersaing dengan upah tenaga kerja China yang lebih rendah.

Kandidat presiden AS dari Partai Republik, Vivek Ramaswami, berencana mengikuti pemilu 2024. Politikus etnis India-Amerika itu telah memberikan peringatan kepada China dengan berjanji bahwa dirinya akan mendeklarasikan "kemandirian ekonomi dari Beijing" jika terpilih sebagai Presiden AS.

"Inilah mengapa kita tidak boleh bersikap keras terhadap China. Itu karena kita bergantung pada mereka untuk gaya hidup modern kita. Kita harus mendeklarasikan kemandirian ekonomi dari musuh kita. Itulah Deklarasi Kemerdekaan yang akan saya tandatangani sebagai presiden berikutnya," kata Ramaswami dalam debat pada 9 November 2023.

"Pesan saya kepada (Presiden China) Xi Jinping adalah: bisnis AS tidak akan berekspansi ke pasar China, kecuali jika Anda bermain sesuai perangkat aturan yang sama."
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
China Ungguli AS dalam...
China Ungguli AS dalam Popularitas Global, Xi Jinping Dianggap Lebih Positif daripada Trump
Trump Tuduh China Ikut...
Trump Tuduh China Ikut Campur Pemilu AS: Kompromi Data Terbesar dalam Sejarah!
China Investasikan Rp900...
China Investasikan Rp900 Triliun untuk Pelabuhan Afrika, Analis Soroti Risiko Utang
Media China Gambarkan...
Media China Gambarkan Orang Filipina sebagai Monyet, Manila Marah
Anggota Politbiro Partai...
Anggota Politbiro Partai Komunis China Dipecat karena Korupsi Skala Besar dan Skandal Seks
Ekonomi China Kuartal...
Ekonomi China Kuartal II Tumbuh 4,3%, Terendah dalam 3 Tahun Terakhir
Presiden Terpilih Kolombia...
Presiden Terpilih Kolombia Bakal Buka Kedubes di Yerusalem, Pulihkan Aliansi Bersejarah!
Trump Tuduh China Pegang...
Trump Tuduh China Pegang 220 Juta Data Pemilih AS, Sebut Skandal Terbesar dalam Sejarah
Rekomendasi
Messi, Yamal, dan Takdir...
Messi, Yamal, dan Takdir Angka 19
Cita-cita Prabowo 14...
Cita-cita Prabowo 14 Tahun Lalu: Ingin Rakyat Indonesia Punya Taraf Hidup Tak Kalah dari Singapura
Komisi IX DPR Cecar...
Komisi IX DPR Cecar BGN usai Pamer Dapat WTP dari BPK: Jangan-jangan Dibikin-bikin
Berita Terkini
Tentara AS Terluka dalam...
Tentara AS Terluka dalam Serangan Iran di Yordania, Pentagon Belum Mengakui
Memanas, Iran Ancam...
Memanas, Iran Ancam Minta Houthi Blokir Selat Bab al-Mandeb, Perdagangan Global Kian Tercekik
Drone Israel Serang...
Drone Israel Serang Acara Pemakaman di Gaza Tengah, 8 Orang Tewas, 20 Warga Terluka
Iran Hancurkan Depot...
Iran Hancurkan Depot Drone AS dan Pusat Kecerdasan Buatan di Bahrain
Iran Ungkap Rudalnya...
Iran Ungkap Rudalnya Berhasil Hantam Jet Tempur AS di Yordania
Israel Berencana Gunakan...
Israel Berencana Gunakan Buaya untuk Jaga Tahanan Palestina
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved