Rusia Bongkar Peran Merusak AS, Negara-negara Barat, dan Israel di Timur Tengah

Kamis, 30 November 2023 - 18:27 WIB
loading...
Rusia Bongkar Peran...
Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB Vasily Nebenzia menghadiri pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang konflik antara Israel dan Hamas, di New York City, New York, AS, 29 November 2023. Foto/REUTERS/Brendan McDermid
A A A
NEW YORK - Rusia menuding Amerika Serikat (AS) memainkan “peran destruktif” dalam eskalasi konflik Israel-Palestina akibat kebijakan Washington di Timur Tengah.

Negara-negara Barat tidak tertarik melindungi kepentingan rakyat Palestina, mereka menganggap Palestina sebagai masyarakat kelas dua, menurut Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB Vasily Nebenzia.

“Selama pekan-pekan ini, satu fakta yang sangat tidak menyenangkan menjadi jelas: Palestina adalah bangsa kelas dua bagi Barat yang tidak tertarik untuk melindungi kepentingan mereka. Ini adalah alasan utama permasalahan yang dihadapi Dewan dalam mengambil keputusan,” ungkap diplomat tersebut pada pertemuan Dewan Keamanan PBB mengenai situasi di Timur Tengah.

“Selama hampir dua bulan, komunitas internasional, lembaga kemanusiaan, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat umum telah menyerukan kepada Dewan untuk menuntut agar pihak-pihak yang bersengketa segera melakukan gencatan senjata. Rusia telah mengatakan hal ini sejak awal eskalasi,” tegas Nebenzia, dilansir Palestine Chronicle.

“Tetapi seruan ini belum terdengar. Dan gencatan senjata yang berkelanjutan bukan hanya merupakan keharusan moral, namun merupakan satu-satunya jaminan respons kemanusiaan yang efektif, yang tidak dapat dilakukan dalam kondisi permusuhan,” ujar diplomat tersebut.

Baca juga: Biadabnya Israel, Tahanan Palestina Dipukuli Tiap Hari, Tulang Patah Biasa, Mati Banyak

Utusan Rusia tersebut menunjukkan resolusi Timur Tengah yang diadopsi Dewan Keamanan PBB sebagai akibat dari posisi AS hanya memberikan jeda kemanusiaan dan tidak memiliki mekanisme memantau pelaksanaan ketentuan-ketentuannya.

“Pesan awalnya yang benar ternyata sangat dikebiri oleh upaya AS dan tidak memuat persyaratan gencatan senjata, serta tidak memberikan langkah-langkah praktis memastikan akses yang luas dan tanpa hambatan bagi mereka yang membutuhkan, untuk memberikan bantuan kepada para korban,” ujar Nebenzia.

Pada tanggal 15 November, Dewan Keamanan PBB mengadopsi rancangan resolusi kemanusiaan Malta mengenai Timur Tengah yang bertujuan membantu anak-anak di zona konflik Palestina-Israel.

Dari 15 anggota Dewan, 12 mendukung dokumen tersebut, sedangkan Inggris, Rusia dan Amerika Serikat abstain.

Dewan Keamanan PBB menolak amandemen Rusia terhadap resolusi yang menyerukan gencatan senjata kemanusiaan yang mengarah pada penghentian permusuhan.

Peran Merusak


Sementara itu, wakil perwakilan tetap Rusia untuk PBB menuduh AS memainkan “peran destruktif” dalam eskalasi konflik Israel-Palestina akibat kebijakan Washington di Timur Tengah.

“Kebijakan AS yang menutup mata terhadap pembangunan permukiman Israel yang sedang berlangsung di wilayah pendudukan (Palestina) dan mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan yang diduduki, telah memainkan peran destruktif dalam eskalasi saat ini,” ungkap Dmitry Chumakov kepada Majelis Umum PBB pada Selasa.

“Akibatnya, kita kini menyaksikan konflik dengan cakupan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang mungkin menyebar ke seluruh Timur Tengah,” tegas dia.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, jumlah korban tewas akibat perang Israel telah meningkat menjadi lebih dari 16.000 warga Palestina, termasuk lebih dari 6.150 anak-anak dan lebih dari 4.000 wanita.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Ayah dan Anak Diselamatkan...
Ayah dan Anak Diselamatkan Setelah 4 Hari Terkubur Reruntuhan Bangunan Pasca-gempa Venezuela
Putin: Ukraina Minta...
Putin: Ukraina Minta Serangan ke Wilayah Lebih Dalam Dihentikan
Rekomendasi
Kejutan! Maroko Singkirkan...
Kejutan! Maroko Singkirkan Belanda Lewat Drama Adu Penalti
Sidang Lanjutan Praperadilan...
Sidang Lanjutan Praperadilan Roy Suryo, Polda Metro Jaya Bacakan Jawaban
QuickPro Ajak Trader...
QuickPro Ajak Trader Emas Bangun Kemandirian Analisa
Berita Terkini
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved