Picu Kemarahan, Macron Tarik Pernyataan Israel Membunuh Bayi

Selasa, 14 November 2023 - 04:47 WIB
loading...
Picu Kemarahan, Macron...
Presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan klarifikasi atas pernyataannya Israel membunuh bayi dan wanita di Jalur Gaza. Foto/Ilustrasi
A A A
TEL AVIV - Presiden Prancis Emmanuel Macron tampaknya menarik kembali pernyataannya yang menyebutkan serangan Israel menewaskan sejumlah warga sipil di Jalur Gaza termasuk bayi dan perempuan. Itu disampaikannya dalam sebuah wawancara dengan BBC, sambil menyerukan gencatan senjata.

Dalam pembicaraan dengan Presiden Israel Isaac Herzog via telepon, Macron memberikan klarifikasi dengan mengatakan bahwa ia tidak bermaksud menuduh Israel dengan sengaja melukai warga sipil yang tidak bersalah. Herzog mengatakan pernyataan itu menyebabkan banyak penderitaan dan kekecewaan di Israel, menurut pernyataan yang dikeluarkan kantor presiden Israel seperti dikutip dari RT, Selasa (14/11/2023).

Macron juga menegaskan kembali dukungannya terhadap hak Israel untuk membela diri dan komitmennya untuk menjamin pembebasan sandera yang ditahan di Gaza, serta menjelaskan bahwa komentarnya dibuat dengan mengacu pada situasi kemanusiaan.

Herzog dilaporkan meyakinkan mitranya dari Prancis bahwa Israel mengambil semua tindakan yang mungkin dilakukan untuk mencegah kerugian terhadap warga sipil yang tidak terlibat, dan mengalihkan kesalahan atas kematian warga sipil ke Hamas.

Sebelumnya, dalam sebuah wawancara dengan BBC, Macron mengatakan bahwa dia dengan jelas mengutuk serangan Hamas terhadap Israel. Namun, ia juga mengatakan bahwa: “Secara de facto, saat ini, warga sipil dibom... bayi-bayi ini, wanita-wanita ini, orang-orang tua ini dibom dan dibunuh.”

Dia menambahkan bahwa tidak ada alasan untuk itu dan tidak ada legitimasi, dan mendesak Israel untuk berhenti. Ia menambahkan, gencatan senjata kemanusiaan adalah satu-satunya solusi untuk melindungi seluruh warga sipil di Gaza.

Baca Juga: Macron kepada Israel: Setop Membunuh Bayi dan Wanita

Pernyataan tersebut memicu reaksi balik dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menuduh Macron melakukan kesalahan serius, secara faktual dan moral.

Netanyahu beralasan bahwa Israel benar-benar melakukan segalanya untuk meminimalkan kerugian terhadap warga sipil, dan mendesak pemimpin Barat tersebut untuk tidak tunduk pada tekanan dari mereka yang menyerukan gencatan senjata di Gaza.

Baca Juga: Macron Desak Tentara Israel Berhenti Bunuh Bayi-bayi Gaza, Netanyahu Marah

Israel melancarkan pemboman militer yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah kantong Palestina yang padat penduduknya sebagai pembalasan atas serangan Hamas di wilayahnya yang menyebabkan sekitar 1.200 warganya tewas.

Lebih dari 11.000 warga sipil Palestina telah tewas dalam serangan artileri dan udara selama lebih dari empat minggu di Gaza, setidaknya 8.000 di antaranya adalah wanita dan anak-anak, menurut pejabat kesehatan di wilayah yang dikuasai Hamas.

Pada hari Minggu, Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) mengatakan Rumah Sakit al-Quds, fasilitas medis terbesar kedua di Gaza, telah menghentikan operasinya karena kekurangan bahan bakar dan pemadaman listrik.

Mereka menyalahkan komunitas internasional dan para penandatangan Konvensi Jenewa Keempat karena mengabaikan kehancuran total sistem layanan kesehatan di Gaza dan krisis kemanusiaan yang mengerikan.

(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
Presiden Mahmoud Abbas:...
Presiden Mahmoud Abbas: Pilpres Palestina Digelar Awal 2027
Israel Tak Akan Mundur...
Israel Tak Akan Mundur dari Suriah, Gaza dan Lebanon
Serang Lebanon, Israel:...
Serang Lebanon, Israel: Kami Tak Terikat dalam Perjanjian Damai Iran dan AS
6 WNI Relawan Global...
6 WNI Relawan Global Sumud Land Convoy yang Terhenti di Libya Dipulangkan Kemlu
Australia Beri Peringatan:...
Australia Beri Peringatan: El Nino Kali Ini Akan Jadi yang Terkuat dalam Tujuh Dekade
8 Fakta Eton College,...
8 Fakta Eton College, Sekolah Elite Pilihan Pangeran George yang Biayanya Rp1,4 Miliar!
Rekomendasi
Soal Rupiah, Tomkur:...
Soal Rupiah, Tomkur: Perlu Koordinasi Kebijakan Lintas Sektor
Bahlil Mengakui Pembangkit...
Bahlil Mengakui Pembangkit PLN Kekurangan Suplai Batu Bara Medium
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Berita Terkini
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Infografis
3 Taktik Cerdas Iran...
3 Taktik Cerdas Iran untuk Kalahkan AS-Israel, Salah Satunya Perang Ala Vietnam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved