Menghadapi Krisis Paling Parah, Lebanon di Ujung Kehancuran
Kamis, 06 Agustus 2020 - 10:35 WIB
loading...
A
A
A
Paling parah, akhir tahun lalu juga terungkap apa yang analis sebut sebagai skema piramida efektif yang disponsori negara, atau skema Ponzi, yang dijalankan oleh bank sentral. Bank sentral meminjam dari bank-bank komersial dengan tingkat bunga di atas pasar guna membayar kembali utangnya sekaligus mempertahankan nilai tukar mata uang Lebanon dengan dolar AS.
Pada awal Oktober 2019, kekurangan mata uang asing menyebabkan mata uang Lebanon kehilangan nilai terhadap dolar untuk pertama kalinya dalam dua dekade. Kemudian, kebakaran hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya di pegunungan barat negara itu menyoroti betapa kekurangan dana dan kurangnya pelayanan pemadam kebakaran.
Pada pertengahan Oktober, pemerintah mengusulkan pajak baru untuk rokok, bensin, dan panggilan suara via WhatsApp, untuk meraup pendapatan negara lebih banyak lagi . Namun, kecaman terhadap usulan itu memaksa pemerintah membatalkan rencana tersebut. (Baca juga: Media China Sentil Indonesia karena Menentang Klaim China di Laut China Selatan)
Demonstrasi pun di banyak kawasan di Lebanon . Ditambah dengan penutupan bank selama dua pekan sehingga membuat banyak penarikan uang di masyarakat. Mata uang Lebanon turun hingga 80% di pasar gelap. Uang tabungan masyarakat pun seperti menguap. Sudah pasti, kemiskinan pun berdampak sangat nyata.
Kehancuran Lebanon sebagai negara pun seperti di depan mata. Padahal, selama ini Lebanon sebagai yang dikenal sebagai model keragaman dan ketahanan di dunia Arab. Tapi, kini Lebanon terancam kolaps. Kekhawatiran semakin nyata karena terjadi penurunan ketika negara kecil itu kehilangan identitas dan semangat entrepreneurial-nya.
Di masa lalu, Lebanon kerap menyalahkan ketegangan disebabkan oleh pihak luar. Dengan 18 kelompok agama, pemerintahan lemah dan negara tetangga yang kuat menjadikan Lebanon menjadi ajang perang kepentingan. Perang sipil 1975-1990 menjadi “Beirut” kerap menghasilkan pemimpin perang menjadikan politikus. Perang pun berlanjut ke ranah politik. Kehadiran Hezbollah sebagai sayap kekuatan Iran di Lebanon menjadikan Iran pun menjadi ladang pertarungan antara Iran dan Arab Saudi.
Tapi, krisis Lebanon bukan hanya disebabkan karena akar konflik politik yang sudah mengakar. Korupsi yang telah terjadi selama beberapa dekade dan ketapakan politikus menjadikan krisis ekonomi semakin parah. Ditambah dengan kronisme dan patronase terhadap komunitas dan kelompok mereka juga menjadikan Lebanon semakin terpecah belah. (Baca juga: Sikap Mensos Tolak Kader Partai Jadi Koordinator PKH Diapresiasi)
Pada awal Oktober 2019, kekurangan mata uang asing menyebabkan mata uang Lebanon kehilangan nilai terhadap dolar untuk pertama kalinya dalam dua dekade. Kemudian, kebakaran hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya di pegunungan barat negara itu menyoroti betapa kekurangan dana dan kurangnya pelayanan pemadam kebakaran.
Pada pertengahan Oktober, pemerintah mengusulkan pajak baru untuk rokok, bensin, dan panggilan suara via WhatsApp, untuk meraup pendapatan negara lebih banyak lagi . Namun, kecaman terhadap usulan itu memaksa pemerintah membatalkan rencana tersebut. (Baca juga: Media China Sentil Indonesia karena Menentang Klaim China di Laut China Selatan)
Demonstrasi pun di banyak kawasan di Lebanon . Ditambah dengan penutupan bank selama dua pekan sehingga membuat banyak penarikan uang di masyarakat. Mata uang Lebanon turun hingga 80% di pasar gelap. Uang tabungan masyarakat pun seperti menguap. Sudah pasti, kemiskinan pun berdampak sangat nyata.
Kehancuran Lebanon sebagai negara pun seperti di depan mata. Padahal, selama ini Lebanon sebagai yang dikenal sebagai model keragaman dan ketahanan di dunia Arab. Tapi, kini Lebanon terancam kolaps. Kekhawatiran semakin nyata karena terjadi penurunan ketika negara kecil itu kehilangan identitas dan semangat entrepreneurial-nya.
Di masa lalu, Lebanon kerap menyalahkan ketegangan disebabkan oleh pihak luar. Dengan 18 kelompok agama, pemerintahan lemah dan negara tetangga yang kuat menjadikan Lebanon menjadi ajang perang kepentingan. Perang sipil 1975-1990 menjadi “Beirut” kerap menghasilkan pemimpin perang menjadikan politikus. Perang pun berlanjut ke ranah politik. Kehadiran Hezbollah sebagai sayap kekuatan Iran di Lebanon menjadikan Iran pun menjadi ladang pertarungan antara Iran dan Arab Saudi.
Tapi, krisis Lebanon bukan hanya disebabkan karena akar konflik politik yang sudah mengakar. Korupsi yang telah terjadi selama beberapa dekade dan ketapakan politikus menjadikan krisis ekonomi semakin parah. Ditambah dengan kronisme dan patronase terhadap komunitas dan kelompok mereka juga menjadikan Lebanon semakin terpecah belah. (Baca juga: Sikap Mensos Tolak Kader Partai Jadi Koordinator PKH Diapresiasi)
Lihat Juga :