6 Fakta Banjir Mengerikan Libya: 6.000 Orang Tewas, Mayat-mayat Berserakan
Rabu, 13 September 2023 - 22:28 WIB
loading...
A
A
A
Ayah, seorang perempuan Palestina yang memiliki dua sepupu di Derna, mengatakan dia tidak dapat menghubungi mereka sejak banjir terjadi.
“Saya sangat mengkhawatirkan mereka. Saya memiliki dua sepupu yang tinggal di Derna. Tampaknya semua komunikasi terputus dan saya tidak tahu apakah mereka masih hidup saat ini. Sangat menakutkan menyaksikan video yang keluar dari Derna. Kami semua ketakutan,” katanya.
Emad Milad, warga Tobrok, mengatakan delapan kerabatnya tewas akibat banjir di Derma.
“Adik istri saya Areej dan suaminya meninggal dunia. Seluruh keluarganya juga meninggal. Sebanyak delapan orang semuanya hilang. Ini adalah bencana. Ini adalah bencana. Kami berdoa untuk hal-hal yang lebih baik,” katanya.
Badai Daniel yang memicu banjir bandang mengerikan di Libya akan tercatat sebagai salah satu badai paling mematikan yang pernah melanda Afrika Utara.
Pemerintah Timur Libya mengatakan bencana ini tidak dapat diantisipasi. Menurut mereka, banjir mengerikan ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Banjir telah berdampak pada beberapa kota, termasuk Al-Bayda, Al-Marj, Tobruk, Takenis, Al-Bayada, dan Battah, serta pantai timur hingga Benghazi. Sedikitnya 37 bangunan tempat tinggal hanyut ke laut.
Pihak berwenang Libya memerlukan tiga jenis kelompok pencarian khusus, termasuk tim untuk mengambil jenazah dari lembah terjal setelah arus deras yang menghanyutkan mereka, tim untuk mengambil jenazah dari bawah reruntuhan, dan tim untuk mengambil jenazah dari laut.
Puluhan ribu personel militer telah dikerahkan, namun banyak wilayah yang dilanda banjir masih tidak dapat diakses oleh pekerja darurat.
Bencana banjir bandang semakin memperparah penderitaan warga Libya yang telah dilanda konflik politik selama satu dekade terakhir. Negara ini dilanda konflik perebutan kekuasaan antara dua pemerintahan yang bersaing.
Pemerintah Persatuan Nasional (GNU) yang didukung PBB, dipimpin oleh Abdulhamid Dbeibeh, berkedudukan di Tripoli di barat laut Libya, sementara saingannya di timur dikendalikan oleh komandan Khalifa Haftar dan Tentara Nasional Libya (LNA).
“Saya sangat mengkhawatirkan mereka. Saya memiliki dua sepupu yang tinggal di Derna. Tampaknya semua komunikasi terputus dan saya tidak tahu apakah mereka masih hidup saat ini. Sangat menakutkan menyaksikan video yang keluar dari Derna. Kami semua ketakutan,” katanya.
Emad Milad, warga Tobrok, mengatakan delapan kerabatnya tewas akibat banjir di Derma.
“Adik istri saya Areej dan suaminya meninggal dunia. Seluruh keluarganya juga meninggal. Sebanyak delapan orang semuanya hilang. Ini adalah bencana. Ini adalah bencana. Kami berdoa untuk hal-hal yang lebih baik,” katanya.
5. Banjir yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Badai Daniel yang memicu banjir bandang mengerikan di Libya akan tercatat sebagai salah satu badai paling mematikan yang pernah melanda Afrika Utara.
Pemerintah Timur Libya mengatakan bencana ini tidak dapat diantisipasi. Menurut mereka, banjir mengerikan ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Banjir telah berdampak pada beberapa kota, termasuk Al-Bayda, Al-Marj, Tobruk, Takenis, Al-Bayada, dan Battah, serta pantai timur hingga Benghazi. Sedikitnya 37 bangunan tempat tinggal hanyut ke laut.
Pihak berwenang Libya memerlukan tiga jenis kelompok pencarian khusus, termasuk tim untuk mengambil jenazah dari lembah terjal setelah arus deras yang menghanyutkan mereka, tim untuk mengambil jenazah dari bawah reruntuhan, dan tim untuk mengambil jenazah dari laut.
Puluhan ribu personel militer telah dikerahkan, namun banyak wilayah yang dilanda banjir masih tidak dapat diakses oleh pekerja darurat.
6. Banjir Perparah Derita akibat Konflik
Bencana banjir bandang semakin memperparah penderitaan warga Libya yang telah dilanda konflik politik selama satu dekade terakhir. Negara ini dilanda konflik perebutan kekuasaan antara dua pemerintahan yang bersaing.
Pemerintah Persatuan Nasional (GNU) yang didukung PBB, dipimpin oleh Abdulhamid Dbeibeh, berkedudukan di Tripoli di barat laut Libya, sementara saingannya di timur dikendalikan oleh komandan Khalifa Haftar dan Tentara Nasional Libya (LNA).
(mas)
Lihat Juga :